Part 5

4.6K 462 30
                                    

Sore itu, Bumi mengajak Langit ke lapangan basket tempat mereka bermain dulu. Keadaan di lapangan sudah jauh berbeda dari tujuh tahun lalu saat mereka terakhir bermain di tempat ini. Lapangan itu kini menyerupai lapangan basket asli yang ada di madrasah. Tak lagi beralaskan rumput dan tanah melainkan susunan paving.

Bumi mengambil sebuah bola di dalam keranjang yang sudah tersedia di pojok Lapangan. Bumi mendriblenya pelan sedangkan Langit hanya menonton.

"Kamu sudah bisa main basket?" tanya Bumi tanpa mengalihkan pandangan pada bola yang dimainkannya.

"Nggak," Langit menjawab singkat.

Bumi melompat, membidik bola agar masuk ke dalam ring. Dan berhasil. Bola masuk dengan mudahnya.

Bumi kembali melanjutkan permainan basketnya sementara Langit melamun. Ia ingat betul kapan terakhir kali bermain basket dengan Bumi di tempat ini. Tujuh tahun lalu, tepatnya tiga hari sebelum Bumi dibawa ke Bandung. Saat itu adalah kali pertama Langit bermain basket sampai ia merasa payah dan hingga kini tak pernah lagi Langit menyentuh apalagi bermain basket.

Karena Langit sadar, gara-gara memaksakan diri kala itu, ia jadi terpisah dengan adiknya.

Sementara mata Bumi mendadak sendu dan menerawang menembus cakrawala. Bola basket terlepas dari tangannya dan menggelinding entah kemana. Ia bingung. Harus bagaimana ia menghadapi kakaknya? Haruskah ia berkata jujur apa yang ia rasakan? Haruskah Bumi bilang, "Aku sakit hati banget. Terutama sama kamu, Langit." Tapi Bumi tak sampai hati mengatakannya. Memang ia merasa marah, benci, dan dendam kepada Langit. Namun, ada suatu perasaan aneh yang mengusiknya. Entah apa.

"Aku ingin tahu perkembangan jantungmu. Masih sering kambuh?" tanya Bumi.

Langit tersenyum, "Alhamdulillah, aku merasa sehat, Bum. Selama aku rutin minum obat, semua akan baik-baik saja," jawab Langit.

Bumi berjalan mendekati Langit.

"Tapi kamu tampak sangat kurus," ujar Bumi serak.

Tawa Langit terdengar lirih. Mata di balik kacamata tebal itu menyipit. Tangan kirinya memegang dada kiri dan ia rasakan detakan jantung yang bagaikan simphony orchestra.

"Kamu tahu, Bumi? Aku merasa hidupku ini kosong. Entah apa sebabnya."

Bumi menelan ludahnya.

"Dan lagi," lanjut Langit, "Aku bersyukur kamu tumbuh menjadi anak yang sehat. Ya, seperti yang kau lihat, Bumi. Bahkan tubuhku tak lebih besar darimu," Langit tertawa menampakkan sederetan giginya.

Bumi ikut tersenyum menampakkan giginya pula. Menurut Bumi, hidup ini serba salah. Bumi sadar betul kalau Langit merasa terpenjara dengan keadaannya yang rentan. Kasih sayang yang dilimpahkan orang tua mereka seolah masih belum cukup untuk memenuhi relung hati Langit yang hampa.

Sementara Bumi? Bumi ingin sekali berada di posisi Langit. Disayang dengan segenap jiwa dan raga oleh Mama dan Papa, bukan malah diungsikan di luar kata tanpa dijenguk sekalipun seolah-olah Bumi ini anak yang sangat menjijikkan lagi merepotkan. Hanya Nenek dan pamannya di Bandung yang menjadi tumpuan hidupnya. Lagi-lagi luka itu dirasa perih oleh Bumi.

Sungguh, di mana hati Mama dan Papa? Mereka sama sekali tak peduli bagaimana Bumi menangis merengek menanyakan kapan akan dijemput. Tak peduli bagaimana Bumi menjalani kehidupan tanpa Mama dan Papa di Bandung. Bahagiakah ia? Tak pernah Mama dan Papa menanyakan itu. Bahkan sama sekali tak ada ucapan selamat ulang tahun dari Mama dan Papa di setiap hari ulang tahun Bumi. Astaga, apa mereka telah benar-benar melupakan Bumi? Apa mereka lupa kalau Bumi adalah anak mereka?

"Bumi?" Langit menepuk bahu adiknya hingga tawa adiknya itu terhenti.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Langit cemas.

Bumi mengelengkan kepala, "Aku capek. Kita pulang saja, yuk?"

Langit mengangguk, "Kalau begitu kita pulang. Mama pasti sudah menyiapkan masakan yang spesial buat kamu," kata Langit sambil menarik tangan adiknya. Bumi menuruti saja langkah Langit yang semakin cepat. Ia rasakan tangan Langit begitu hangat. Sangat hangat. Bumi sangat merindukan sentuhan hangat ini.

Tapi tetap saja, Bumi tak bisa menghilangkan rasa sakit yang terlanjur menjamur dalam hati. Rasa sakit yang bercampur dengan dendam dan amarah yang terutama tertuju pada kakaknya. Tak bisa. Tak bisa Langit disalahkan. Tapi, gara-gara Langit, Bumi jadi mengalami serangkaian kejadian yang sama sekali tak ingin dialaminya. Kejadian yang membuat luka membekas.

"Hei, Langit?"

"Ya?"

Bumi menghela napas, "Selama aku tak ada, apa kamu merasa bahagia?"

"Maksudnya?" Langit tak mengerti.

"Selama aku di Bandung, apa kamu ngerasa bahagia? Yah, kalau aku nggak ada kan rumah jadi tentram. Nggak ada lagi anak nakal yang menyusahkan orangtua dan nggak ada anak nakal yang mencelakaimu," kata Bumi panjang lebar sambil menendang batu kecil yang kebetulan ada di dekat kakinya.

"Aku nggak ngerti apa yang kamu bicarakan, Bumi," Langit membetulkan letak kacamata tebalnya, "Tapi Selama kamu nggak ada, aku ngerasa kesepian. Kau tahu kan hanya kamu satu-satunya teman bermainku waktu kecil. Jadi semenjak kamu pergi ...," Langit mengangkat bahu, "Rasanya aku benar-benar kehilangan hidupku."

Langit merangkul pundak Bumi. Bumi pun balas merangkul pundak Langit. Mereka berjalan beriringan meninggalkan lapangan disaksikan bola basket yang tergeletak di tanah. Senja semakin merangkak sisakan warna jingga pada langit berhiaskan mega. Matahari semakin tak tampak, sama seperti bayangan Langit dan Bumi yang semakin lama semakin menjauh dari jalan setapak yang sepi oleh lalu lalang.

***


Please, vote dan commentnya, ya? Butuh sekali kritik agar part selanjutnya bisa lebih baik. :D Terima kasih semua. 

Langit & Bumi (REVISI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang