Shawn mendes - Treat you Better
Saat ini, Rhesa maupun Shiela benar benar gusar. Rhesa yang terus menerus mondar mandir, juga sesekali mengacak rambutnya. Shiela yang duduk tidak nyaman sembari menggigiti kuku jarinya itu panik.
Menunggu hasil pemeriksaan dokter itu benar benar membuat keduanya tak sabar. Entah apapun hasilnya mereka tidak siap jika hasil pemeriksaannya 'positiv'.
Bukan mereka membenci hal hal positif. Tetapi hal positiv kali ini berbeda. Sebenarnya hal positif ini tidak mengganggu keduanya. Tak ada yang dirugikan disini. Bahkan jika hal yang 'positif' ini benar benar menghampiri mereka, itu merupakan rezeki besar dari Tuhannya.
Tetapi mereka benar benar belum siap. Belum siap jika mereka akan mendapat rezeki itu. Bukan mereka menolak rezeki besar itu, hanya saja diumur mereka yang masih tergolong belia ini, hal 'positif' itu lebih cenderung terdengar ke arah 'negatif'.
"Atas nama nona Shiela?" Panggil seorang suster dengan papan dada dan kertas kertas data yang menempel disana.
Rhesa yang tadinya sedang mondar mandir pun berhenti. Dan menatap Shiela yang juga sedang menatapnya dengan raut khawatirnya. Rhesa menganggukkan kepalanya, mencoba menenangkan gadis yang hampir setahun menjadi istrinya itu. Menatap gadisnya untuk memastikan kalau apapun hasilnya, semuanya akan tetap baik baik saja.
Dengan sekali tarikan nafas, shiela pun memantapkan hatinya. Lalu menerima uluran tangan rhesa, yang langsung dibalas genggaman cowok itu hangat.
Dengan langkah biasa, Rhesa menarik tangan mungil shiela kedalam ruangan. Menemui sang dokter yang beberapa waktu lalu memeriksa Shiela.
Tangannya menarik dua kursi didepannya bergantian. Lalu membiarkan Shiela untuk duduk duluan, kemudian disusulnya.
"Gimana dok, hasilnya?" Setelah terdiam beberapa detik karena kegugupannya, akhirnya Shiela bersuara.
Dokter menatap keduanya intens. Entah apa yang dipikirkan dokter yang masih berumur 20 tahunan itu, keduanya pun sama sama tidak mengerti.
Ya kan mereka juga bukan cenayang atau mind reader.
"Umur kalian, bulan depan genap 17 tahun kan?" Tanya dokter itu yang akhirnya bersuara.
Keduanya mengangguk sembari mengernyit heran. Apa menjadi dokter itu harus menyebutkan umur yang tertera di biodata yang tadi mereka isi?
"Kalian kena pergaulan bebas?"
Sontak keduanya melotot, pernyataan dokter itu sedikit membuat Rhesa takut. Berbeda dengan gadis disebelahnya yang sudah setengah mati ketakutan.
"Nggak lah dok, saya kesini itu buat periksa kesehatan dia. Kenapa dokter malah nanya gitu?" Alibi rhesa, meskipun sebenarnya dia juga mengerti ucapan dokter. Dan juga memang tujuan mereka kesini ini untuk memastikan kebenaran tentang apa yang dialami Shiela semalam.
"Sabar dulu. Saya hanya membahas tentang yang dialami Shiela. Karena mendengar keluhannya yang mual mual itu memang hal yang mencurigakan. Belum belum tadi nona Shiela memberitahu tentang menstruasinya yang terlambat." Tutur dokter itu.
"Tapi saya lihat di status kalian, sudah menikah?"
Shiela kembali menarik nafasnya, lalu menjawab dokter itu dengan memejamkan matanya
"iya dok, saya sama dia memang sudah menikah"
"Lalu, kenapa raut wajah kalian kaya gak tenang gitu? Bukannya setiap pasangan harusnya bahagia ya, kalau akan hadir sosok baru dalam hidup mereka?"
Sontak kedua pasang mata itu membulat sempurna. "Maksud dokter?"
Dokter tersenyum, "iya, hasil pemeriksaannya positif"
KAMU SEDANG MEMBACA
Dizzy alphabet, makes crazy couple
Ficțiune adolescenți"jodoh lo berdua" 1 kalimat, 3 kata, 13 huruf. Mungkin hanya kata yang simple, tapi sangat berpengaruh pada cowok dan cewek satu ini. 'Rhesa Manuel Irzena' 'Shiela Nayve Junica' Bayangkan saja, kedua makhluk yang tak pernah akur ini, terus menerus...
