3

8.6K 783 6
                                        

Matahari terlalu semangat untuk muncul. Semua pelajar baru tengah berkumpul di Aula yang sama, ketika mereka baru pertama kali masuk di Academiae Elementer.

"Aulia, Arha, kalian melihat Lina? Aku lupa kalau aku ke kantin bersamanya tadi, bagaimana ini? Acara sebentar lagi dimulai, aku melupakan Lina tadi! Ah bodohnya aku!" Ucap Hana frustasi. Arha memang sudah mengenalkan Hana dan Aulia kepada Lina, mereka langsung akrab seperti sudah kenal lama.

"Kau ini! Kau memang bodoh kalau sudah bertemu makanan!" Balas Aulia.

"Biarkan saja, nanti juga sampai kesini, walaupun telat. Tapi aku heran, aku sudah menjelaskan semua seluk beluk sekolah ini namun kenapa Elementer yang satu itu selalu tersesat di antara gedung- gedung dan bangunan- bangunan besar ini? Dasar pelupa!" Arha membalas.

"Tapi kalau dia dihukum Nyonya Veronica bagaimana? Lalu jika dia menyalahkanku bagaimana?" Tanya Hana khawatir, tepatnya menghawatirkan dirinya sendiri.

"Nyonya kepala sekolah tidak akan menghukum orang yang baru pertama kali melakukan kesalahan. Tapi, kalau kau disalahkan oleh Lina, aku tak menjamin, karena kau memang salah, Hana! Lain kali pikirkanlah temanmu, walaupun ketika makan." Jelas Arha.

"Aku tau aku salah, tapi bagaimana kau tau tentang seluk beluk sekolah ini? Kau kan murid baru" tanya Hana.

"A...aku.. hanya pernah berkeliling saja" jelas Arha bohong. Nyatanya waktu kecil dia selalu bermain disini dengan Veronica, ibunya.

"Benarkah? Aku rasa terakhir kau berkeliling itu bersamaku dan kita hanya berkeliling di sekitar Aula bukan? Kapan kau berkeliling?" Tanya Aulia.

"Kau tidak menyadarinya, lagian bukan urusanmu!"

Tiba- tiba Lina berlari dan memukul pelan bahu Hana.

"Hana!!! Kau meninggalkanku?! Waah tega sekali kau dengan temanmu sendiri! Aku bahkan tersesat hingga ke toilet pria kau tahu?"

"Kau hingga ke sana? Bagaimana bisa?" Tanya Arha.

"Awalnya aku bertanya kepada seorang laki- laki, tapi malah dia semakin membuatku tersesat!" Jelas Lina.

"Waah, kau beruntung sekali! Aku sangat ingin mengunjungi toilet pria!!" ucap Aulia yang menurut teman- temannya terdengar menjijikan.

"Beruntung kau bilang? Mau apa kau kesana?" Tanya Hana.

"Tentu saja, melihat keindahan alam yang sangat sangat indah!!" ucapan Aulia membuat ketiga temannya melakukan gestur seperti mual.

"Otakkmu itu ternyata menjijikan sekali! Kalau kau berfikir hal- hal aneh. Pergilah! Aku mual mendengarnya!" Ucap Arha menyentil kening Aulia.

"Hei! Panasnya... mengapa kau yang menyentil terasa panas dikeningku?" Tanya Aulia.

"Itu adalah terapi, semoga pikiranmu bisa bersih dari hal- hal menjijikan itu." Jelas Arha.

"Lina, aku minta maaf. Aku terkadang lupa akan semua ketika bertemu dengan makanan" Hana menyesal.

"Tak apa, Hana. Lagi pula, aku sudah disini sebelum acara dimulai kan?" Balas Lina.

"Tapi, bagaimana kau bisa sampai disini?" Tanya Aulia, yang masih mengusap keningnya. Ini akibat sentilan Arha yang sedikit di beri efek api dijarinya.

"Seseorang menolongku." Jawab Lina.

"Laki- laki?" Tanya Aulia dengan semangat.

"Kau ini kalau tentang laki- laki!" Ucap Hana yang memukul pelan kepala Aulia.

"Iya, dia laki- laki" jawab Lina.

"Waah, tampankah?" Tanya Aulia, yang membuat Hana dan Arha memutar bola matanya.

Academiae ElementerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang