Sebuah tawaran tak terduga

283 13 6
                                        

Batam, 15 januari 2014

Siang itu , setelah beberapa hari ia berkeliling melamar pekerjaan , dengan hasil sama ia di tolak oleh perusahaan, ia beranjak ke sebuah cafe milik temannya. Sambil menunggu temanya datang , ia memesan kopi hitam, minuman kesukaannya kemanapun ia pergi, dan menu utama yang sehari-hari favoritnya. Teman musa bernama dio, dio ini adalah pengelola cafe milik orang tuannya. Kesehariannya memang sering datang terlambat ke cafe miliknya itu, dan hanya untuk mengontrol dan menanyakan profit pendapatan cafe, setelahnya, dio biasa pergi keluyuran.

Musa duduk di sebuah kursi pelanggan, tangannya di tata rapi di atas meja, pandangannya menerawang kesekitarnya yang masih sepi. Kopi pun datang, dengan tangan tanggapnya ia menggapai cangkir, musa meminum kopi yang disuguhkan untuknya sedikit demi sedikit. Merasa bosan hanya meminum kopi dan memangdang kesekitarnya yang begitu-begitu saja, ia membuka ponsel dan mencoba menghubungi dio untuk segera datang ke cafenya. Telepon tak terjawab.
setelah beberapa kali musa mencoba menghubungi dio, beberapa saat kemudian dio datang, turun dari mobil dengan membawa kertas dan laptop. Dio yang terburu-buru berjalan menuju cafe, membuat sebagian kertas yang di bawanya tercecer.

"Oy geng, apa itu kau buang-buang? Udangan sunatan mu ya?"
Tanya musa pada dio saat melihat beberapa kertas bawaannya tercecer.

"Kampret , matamu lah sunatan, kau kira aku titit ku masih kuncup ?"
Jawab dio menggapai satu persatu kertasnya yang berjatuhan.

"Kan waktu kau kecil sunatan kemaren dukun sunatnya typo, niat mau potong kuncup nya, yang kepotong bijik nya.." Jawab musa sembari tertawa.

"Ngaca lah kau gan, aku sunat pake laser gan, kayak di film star wars gitu.. Cuman bedanya lasernya bukan dalam bentuk pedang, lah ini cutter nya.." Sanggah dio.

"Ahaha banyak cerita lah kau , ambil kertas mu itu .."
Musa diam saja memperhatikan temannya.

"Iya ini mau aku ambil kampret, mau naruh ini dulu.."
Jawab dio sembari mencari-cari tempat untuk menaruh laptop yang ia bawa beserta beberapa kertas lainnya yang berhasil ia pungut.

"Sini lah aku ambilin, lambat kali kau jadi orang, dah kayak keong pasca sunat kau kuliat.."

Kemudian musa beranjak dari kursi cafe tempat ia duduk untuk mengambil kertas yang berjatuhan tadi satu demi satu. Setelah semua kertas yang jatuh terkumpul, musa dengan iseng membaca salah satu kertas karena penasaran apa isi kertas itu. Ternyata kertas itu adalah formulir pendaftaran calon polisi milik dio. Sontak musa kaget, lalu langsung menanyakan pada dio soal formulir itu.
Pikiran musa seakan tidak percaya, karena selama ini dio tidak pernah bercerita soal dia akan mendaftar kepolisian, padahal mereka berteman cukup akrab.

"Oy kau daftar polisi ya ?" Tanya musa pada dio saat ia merapikan laptop dan kertasnya.

"Iya sih .." . Jawab dio sembari seperti menahan sesuatu yang ingin ia katakan.

"Terus gimana ? Lolos ? Wessss mantap lah yaa .. Ga bilang-bilang kau selama ini mau daftar polisi, dasar si muka minyak jelantah ini orang, licin-licin ngeselin .."
Sambung musa sembari tertawa dan mencandai temannya itu.

"Itu dia ada masalahnya ... " . Jawab dio lagi, seperti ingin mengungkapkan sesuatu namun masih tertahan.

"Masalah apa lagi? Badan pas lah 170-an, sama kita, cuman badan dan kau berisi, gak kayak aku kurus .. Aku mana lolos ikut gituan dengan badan yang kayak gini. Terus kenapa? kau gak lolos? Hahahaha ... Sediiiihhh..." Ungkap Musa sembari menyodorkan kertas kepada dio.

SELECTATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang