Sesampainya di depan aula lantai 3 yang merupakan ruang tes ketahanan tubuh itu. Para peserta pun kembali di data oleh maggie.
"Oke semuanya sudah lengkap, silahkan masuk." Ucapnya.
Para peserta yang sedang dalam semangat itu pun memasuki ruangan itu. Ruangan itu sangat luas. Berbagai macam peralatan seperti alat fitnes pun hampir memenuhi tempat itu. Aula yang kira-kira luasnya berukuran 9 lapangan badminton. Para peserta terkesima melihat pemandangan di depannya. Beberapa staff badan intelijen tampak berlalu lalang disana. Mereka menggunakan pakaian rapi, ada yang berkemeja, ada pula yang menggunakan jas.
"Okay, aku benci gym." Ucap musa saat melihat ke sekelilingnya.
"Saya baru tau ini tempat untuk binaraga." Saut samuel.
Mereka pun memandangi ke segala penjuru aula. Sampai pandangan musa terhenti pada spot untuk tes penembak.
"Wow, kayaknya kita mau di ajarin berburu babi." Ucap musa.
"Eh! Tidak berburu babi. Itu kita orang mau menembak, babi pun dengan tobak saja sudah bisa." Jawab samuel dengan pendangan yang mondar mandir.
"Why you so serious dude?" Wajah musa menunjukan eskpresi merasa anehnya pada samuel.
"Oke para princess-princess silahkan berbaris sesuai dengan abjad inisial nama, kita akan mulai tes dari yang berinisial nama A terlebih dahulu"
Maggie menulis nama-nama peserta yang mulai berbaris itu.
"Pertama, sebelum kita melakukan tes. Kita akan memasang sensor dan detektor pada tubuh kalian. Di tempelkan pada dada dan kepala untuk mendapatkan hasil spesifik tentang kondisi ketahanan tubuh kalian, mengerti?"
"Mengerti!" Jawab para peserta.
"Kami akan menguji diantara kalian semua, siapa yang lebih unggul mendapat nilai. 10 orang pertama yang unggul dari jumlah 20 peserta, mereka masing-masing mendapat 1 point dari semua tes, sisanya tetap pada nol. Semoga beruntung." Ujarnya.
Para peserta pun menatap satu sama lain. pandangan mata mereka penuh dengan tatapan persaingan untuk membuktikan siapa yang lebih unggul dan layak.
"Kita mulai dengan ke tahanan tubuh, melaju berlari dengan kecepatan maksimal di threatmile."
Para peserta yang telah mengenakan alat sensor dan deteksi itu pun berbaris pada masing-masing 5 threatmile yang di sediakan. Musa berdiri di urutan pertama threatmile. Ia menarik nafas dan menghelanya beberapa kali untuk mempersiapkan diri memnujukan performa terbaiknya. Ia sadar, sebagai seorang perokok itu bukan hal yang mudah di jalani. Resiko lebih cepat capek atur nafas adalah hal yang paling di khawatirkan musa.
"Bersiap, silahkan menaiki threatmile."
5 peserta pertama termasuk musa pun menaiki dan berdiri di atas threatmile. Tepat di sebelahnya ada arman. Pemuda yang selalu meledek musa. Arman menatap sinis ke arah musa.
"Heh! Tes ini tidak cocok untuk belalang." Ucap arman dengan sinis pada musa.
"Oh, jadi tuan cheetah, kau kira kau yang paling cepat dan jauh disini? Oke, gak masalah, kita lihat seberapa malunya cheetah ketika kalah berlari dengan belalang." Jawab musa dengan nada meledek balik kepada arman.
"Siap? Mulai!" Ucap maggie.
Kelima peserta itu pun mulai berlari, kecepatan 10 km/jam berganti pada 15km/jam. Mereka terus berlari. Belum terlihat wajah lelah dari masing-masing peserta. Hingga kecepatan maksimum manusia pun mereka capai pada 30 km/jam. Wajah lelah dan mulai kesulitan mengatur nafas pun mulai di tunjukan pada masing-masing peserta. Wajah mereka yang tadinya kering kini mulai basah oleh peluh karena berlari. Sekitar 15 menit berlalu, diantara mereka mulai kelelahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
SELECTA
Ação- Latar belakang cerita. (The first story theme in indonesia) Pertama kali di infonesia Mengangkat kisah fiksi agen intelijen, dengan yang sesuai dengan keadaan indonesia dalam badan intelijen negara (BIN). Seperti halnya james bond (MI-6), ethan hu...
