Manusia selalu mengingat semua kenangan yang menyakitkan. Meskipun seluruh usaha dilakukan untuk melupakan dan berlari, kenangan itu muncul di tengah kegelapan malam. Pada saat itu semuanya belum usai.
Mariana mulai menyadari ada yang hilang dari di...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
MEMORY 9 : PERLAKUAN YANG BERBEDA
Kesadaran memenuhi tubuhku. Aku membuka mata enggan dan melihat sekitar. Ini masih ruang yang sama ketika aku disiksa. Aku sedikit kecewa mengetahui kenyataan itu. Aku merenggangkan tubuhku yang terasa kaku. Ah.. ini menyenangkan tidur di ranjang yang empuk. Ranjang yang empuk ?! Otak ku berputar cepat. Aku langsung menegakkan tubuhku dan melihat keadaanku. Apa-apaan yang kupakai. Aku memegangi kepalaku mencoba untuk mengingat. Ini tidak mungkin. Apa benar-benar ia melakukannya padaku. Aku syok dan mengumpat pada diriku sendiri. Ketika aku sibuk merutuki diriku ia datang dengan nampan berisi makanan diatasnya. Aku menjauh mundur sampai ke dinding dan mencoba memasang pertahanan diri. Ekspresinya heran menatapku. Aku balas menatapnya tajam. Tidak akan kubiarkan ia berbuat untuk kedua kalinya padaku.
Ia berjalan dengan tenang ke arahku dan meletakkan nampannya diatas meja. Aku masih memasang pertahanan diri ketika ia melihatku lagi. Ia menghembuskan nafas kesal.
"Aku tidak tertarik padamu karena kau begitu naif dan bodoh. Jadi berhenti melihatku dengan penuh kebencian." Ia menarik tanganku. Aku baru sadar ia telah mengobati luka diseluruh tubuhku. Mungkin sesuatu menghantam kepalanya hingga ia berubah jadi pria baik. Aku mengikutinya enggan. Ia mendudukkanku di kursi dan menyodorkan nampan makanan padaku. Sekarang aku yang menatapnya heran.
"Apa yang menghantam kepalamu hingga kau jadi bersikap baik padaku?" Aku mengejeknya. Ia terlihat sangat kesal.
"Jadi apa kau lebih suka dilecehkan daripada dikasihani." Ia mendekatkan wajahnya kepadaku. Aku terkejut dan membuang muka darinya. Ia menjauh dan berjalan ke arah jendela. Aku melihatnya sedang memikirkan sesuatu.
"Darimana kau dapat bekas luka itu?" pria itu bertanya tanpa melihatku. Aku tidak mengerti apa yang ia maksud.
"Tubuhku penuh luka sekarang. Itu semua karenamu." Aku menggerutu padanya. Ia sedikit frustasi dan berjalan cepat ke arahku. Nampan makanan dipangkuanku ia ambil lagi dan diletakkan kembali ke atas meja. Ia mendatangiku dan mencoba membuka kancing kemeja yang kupakai. Pria brengsek ini benar-benar menyebalkan.
"Apa yang kau lakukan." Aku mencoba menahannya.
"Kau tidak mengerti pertanyaanku. Jadi aku akan menunjukkannya padamu. Aku tidak akan menyakitimu." Ia membuka beberapa kancing kemejaku dan menarik keluar hingga memperlihatkan pundak dan lenganku. Ia menyentuh lengan atas kananku dan menyodorkannya ke depan mataku. Aku menatapnya heran.
" Bekas luka yang melingkar ini darimana kau mendapatkannya?" Ia mengulangi pertanyaannya dan menatapku tajam. Aku melihat bekas luka itu dan tidak dapat mengingat apapun.
"Aku tidak ingat. Bekas luka ini ada setelah aku mengalami kecelakaan 12 tahun lalu. Memang ini bekas luka yang jelek." Aku tersenyum getir dan melepaskan tangannya dari lenganku. Aku menarik kemejaku dan menutup tubuhku kembali. Ia terdiam sesaat lalu balas tersenyum getir.
"Kupikir kau punya teman yang sama-sama memiliki bekas luka yang jelek." Ia menatapku sedih dan berbalik membuka kemejanya sendiri didepan mataku. kupikir aku akan jadi gila dengan apa yang dilakukannya. Ia menurunkannya dan memegangi lengan atas kirinya. Sesaat ia menutup mata untuk meyakinkan dirinya sendiri. Lalu dengan perlahan bekas luka yang melingkar dilengannya terlihat. Aku membuka mataku lebar. Ini tidak mungkin. Lukanya persis seperti yang kupunya. Hanya letaknya yang sedikit berbeda. Bekas luka yang ia punya disebelah kiri sedangkan aku disebelah kanan. Aku menatapnya tidak percaya dan mencoba menyentuh bekas lukanya.
"Ini bekas luka yang sama denganku." Aku sedikit takjub. Belum lama aku menyentuhnya ia menutup tubuhnya kembali. Aku masih menatapnya dengan tidak percaya.
"Aku menyadari satu hal. Ini sebuah tanda yang sengaja dibuat. Bukan bekas luka yang tergores karena ketidak sengajaan." Ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Aku mencerna kata-katanya. Apa yang dikatakannya memang benar. Ini bukan bekas biasa.
"Ah.. Apa karena bekas luka ini kau tidak jadi membunuhku." Aku melihat sinis padanya.
"Berhentilah bicara dan makan makananmu." Ia berjalan menuju pintu dan keluar meninggalkanku. Aku menatapnya acuh dan mengambil makananku. Kupikir akan lebih banyak energi yang akan kuhabiskan ketika bersamanya.