SANDERA YANG KELABU

19 6 0
                                    

MEMORY 12 : SANDERA YANG KELABU

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

MEMORY 12 : SANDERA YANG KELABU

Pagi itu mendung menyelimuti seluruh kota. Leonidas duduk menghadap ke luar jendela. Matanya melihat ke awan mendung, namun otaknya memikirkan tentang wanita itu. Peristiwa tadi malam benar-benar membuatnya sedikit syok. Wanita itu benar-benar memancarkan ketakutan dari matanya yang kelabu. Seperti kesedihan tersimpan bertahun-tahun disana. Setelah Mariana tenang dan tertidur kembali ia menjaganya hingga pagi. Ia merasa bersyukur wanita itu tetap damai dalam tidurnya sampai saat ini. Ia menegakkan tubuhnya dan berjalan kemeja untuk menelepon.

"Harry. Secepatnya siapkan sarapan untuknya." Ia menutup teleponnya setelah Harry menerima perintahnya. Wanita itu tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Leonidas memperhatikan tingkahnya. Wanita itu memegangi kepalanya sebentar dan melihat keseluruh ruang. Pandangannya berhenti tepat di depan Leonidas.

"Bagaimana keadaanmu?" Leonidas melipat tangannya dan menyenderkan bahunya ke dinding. ia mencoba terlihat peduli.

"Lupakan jika aku bersikap bodoh kepadamu. Harusnya itu jadi urusanku sendiri." ia terlihat murung. Leonidas merasa sedikit kesal.

"Kalau begitu persiapkan dirimu secepatnya. Aku harus mengurus urusanku." Leonidas keluar membanting pintu. Wanita itu selalu membuat perasaannya campur aduk. Ia merasa berdebar sekaligus kesal terhadap tingkah laku wanita itu terhadap dirinya.

Leonidas menelepon dokter pribadinya dan membuat janji. Ia ingin mengetahui tentang wanita itu lebih dalam lagi. Ia ingin wanita itu membagi mimpi buruk yang dihadapinya. Ia berharap itu berhubungan dengan bekas luka yang terjalin diantara keduanya. Setelah selesai Leonidas membaringkan tubuhnya sebentar dan beristirahat. Ia belum tertidur sedikitpun sejak kemarin.

***

Awan mendung telah menurunkan hujan deras siang itu. Mariana baru saja menyelesaikan makan siangnya sendirian dikamar. Ia duduk didepan jendela memandang kilatan dan petir yang menyambar. Sesekali ia menutup matanya ketika melihat kilatan itu. Tadi pagi Harry memberikannya sebuah gaun tanpa lengan untuk dipakainya. Ia berpikir apa yang ingin dilakukan Leonidas setelah ini. Kenapa ia harus memamerkan bekas lukanya pada orang-orang. Ia menunduk dan melihat bajunya sendiri. cantik namun bekas luka ini membuatnya tidak pantas untuk memakainya. Ia menghembuskan nafas keras. Ia kembali memikirkan mimpi tadi malam. Mimpi itu seperti saling berhubungan dengan beberapa mimpi sebelumnya. Tapi ia tidak akan siap jika mimpi itu harus datang lagi dan mengejarnya. Tak seorangpun dapat menghilangkannya termasuk dirinya sendiri. 

Suara pintu terbuka membuyarkan pikirannya. ia menoleh dan memandang Leonidas yang berjalan mendekatinya. Pria itu terlihat lebih fresh dimatanya. Ia menarik lengan Mariana mendekat padanya. Hal itu membuat Mariana sedikit terkejut dan mengacaukan detak jantungnya. Leonidas mengambil sesuatu dari dalam sakunya. Sebuah pita warna senada dengan gaunnya melambai di antara mereka. Ia kemudian mengikatnya pada lengan wanita itu hingga menutupi bekas lukanya. Mariana tersenyum. Ini terlihat sempurna.

"Dari mana kau dapatkan pita seperti ini? Aku ingin memakai yang seperti ini dari dulu" Mariana terpesona. Matanya memancarkan binar ditengah derasnya hujan siang itu. Hal itu membuat perasaan Leonidas tidak karuan. Ia sedikit menjauhi wanita itu untuk menahan perasaaannya.

"Aku memesan untuk dibuatkan. Jadi pakai saja dan ikuti aku." Leonidas berbalik dan melangkah keluar. Mariana tersenyum dan mengikutinya. Ia lupa akan mimpi buruknya ketika pria itu datang.

Leonidas turun dari tangga dan berbelok ke sebuah ruang disebelah kanan. Beberapa pelayan memberi hormat ketika berpapasan dengannya. Mariana mempercepat langkahnya agar tidak tertinggal. Ketika ia masuk ada orang lain yang sedang berbicara dengan Leonidas. Ia jadi sedikit gugup dan melangkah dengan canggung. Dua orang didepannya memandanginya ketikda datang. Ia memberi sedikit senyum kaku. Leonidas lalu mempersilahkannya duduk.

"Ini dokter Scott. Ia juga seorang profesor." Leonidas memperkenalkan Mariana ke Scott. Mariana memberi salam dan menyebut namanya.

"Dia punya mata yang Indah." Scott tersenyum padanya. Mariana hanya tersipu dan mengucapkan terimakasih. 

"Baiklah Scott silahkan lakukan pemeriksaanmu." Leonidas mulai membuka kancing kemejanya satu persatu. Mariana yang melihat pemandangan itu sedikit syok. Apa yang ingin pria itu periksa. Walaupun pria itu pernah membuka baju didepannya. Itu hanya sebatas pundak dan lengannya. Sekarang ia bertelanjang dada. Leonidas lalu berbalik membelakanginya. Apa yang terlihat dari punggung pria itu lebih membuatnya syok. Pria itu memiliki lebih banyak bekas luka di punggungnya. Seperti ia telah mendapat banyak penyiksaan. Rasa iba memenuhi hati Mariana. Ia tak pernah menyangka dibalik tindakan keras pria itu terhadap dirinya tidaklah ada apa-apanya dibandingkan ketika ia mendapatkan luka-luka itu ditubuhnya. Mariana sadar bukan hanya dirinya saja yang berpikir ingin mati ketika masalah bertubi-tubi datang padanya. Pria itu juga mungkin punya banyak alasan untuk mengakhiri hidupnya. Tapi ia menerimanya dan tegar menjalaninya. Mariana tersenyum pahit pada dirinya sendiri. Ia jadi orang yang pesimis selama ini.

"Mariana." Leonidas menepuk pundaknya. "Kau terlalu banyak melamun. Kami memanggilmu dari tadi." Ia mengeluh. Mariana tergagap dan meminta maaf. ia jadi seperti orang bodoh. Leonidas mendatanginya dan menariknya untuk lebih dekat pada dirinya. Ia melepas pita yang melekat di lengan Mariana dan meletakkan diatas meja. " Scott silahkan periksa bekas luka yang melingkar diantara kami berdua." Ia terlihat serius. Scott berdiri di depan mereka dan melihat dengan jeli. 

"Benar-benar terlihat mirip." ia melihat sambil menyentuh dagunnya. Kemudian ia menghampiri Mariana dan melihatnya lebih dekat. "Sebuah alat pernah dipasang disini. Kalian seperti diberi cap untuk menandakan sesuatu. Aku pikir kalian pernah berada di satu tempat yang sama atau mengalami kejadian yang sama." Argumen Scott seperti menghantam jiwa mereka berdua. Leonidas dan Mariana saling bertatapan. Keduanya terlihat khawatir.

"Tidak mungkin. Aku dan dia tidak pernah bertemu sebelumnya." Mariana membantah. "Aku tidak pernah kemanapun selama 12 tahun belakangan. Luka ini aku dapatkan karena kecelakaan. Aku yakin itu." Ia mencoba berpikir keras untuk mengingat bagaimana masa lalunya. Leonidas hanya diam. Ada kemarahan baru yang muncul didadanya. Apa selama ini ia salah menyimpan dendam. Apakah ia masih tetap dibohongi oleh masa lalunya sampai sekarang. Ia mengepalkan tangannya kuat untuk menahan emosi. Ia telah lama mencari informasi tentang bekas luka yang melingkar dilengannya. Namun ia tak mendapat jawaban apapun. Sekarang ia bertemu dengan orang yang memiliki bekas luka yang sama dan ia mengerti ada sesuatu yang tidak beres.

"Apa yang dikatakan Scott masuk akal. Kupikir ada yang tidak beres dengan bekas luka ini. Mariana apakah sebelumnya kau tidak merasakan ada yang janggal setelah kecelakaanmu?" Leonidas mencoba menggali informasi dari wanita itu. Mariana terlihat cemas.

"Aku tidak bisa mengingat apapun. Setelah kecelakaan itu aku hilang ingatan. Aku telah mencobanya dan yang datang hanyalah mimpi buruk." Mariana menenggelamkan wajahnya. Ia terlihat sedih dan kecewa. Leonidas tidak melanjutkan pertanyaan. Wanita itu mungkin tertekan dengan ucapannya.

"Aku akan membantu kalian untuk mencari tau tentang bekas luka itu. Sebaiknya kalian benar-benar menyembunyikannya dari dunia luar. Kita tidak tau hal itu akan berbahaya atau tidak. Ah.. sebaiknya kalian juga lebih banyak membuka diri satu sama lain agar pemeriksaan ini berjalan lebih santai. Kalian berdua terlihat kaku dan menutup diri. Aku seperti menghadapi dua orang remaja puber yang sedang kasmaran." Scott tersenyum jahil. Perkataannya menyentil mereka berdua. Leonidas dan Mariana saling membuang muka atas kebenaran yang Scott katakan.

*** 

TERIMAKASIH TELAH MEMBACA SAMPAI CHAPTER INI..

JIKA KALIAN SUKA, BERIKAN VOTE DAN KOMEN SEBAGAI PENGHARGAAN KEPADA AUTHOR.

AUTHOR SANGAT BERTERIMAKASIH UNTUK VOTE DAN KOMEN YANG KALIAN BERIKAN :)

KEEP ENJOY  UNTUK CHAPTER SELANJUTNYA !!

model : aunty sasha Pivo ( Hak cipta milik aunty sasha)

LOST IN PASTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang