Manusia selalu mengingat semua kenangan yang menyakitkan. Meskipun seluruh usaha dilakukan untuk melupakan dan berlari, kenangan itu muncul di tengah kegelapan malam. Pada saat itu semuanya belum usai.
Mariana mulai menyadari ada yang hilang dari di...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
MEMORY 5 :DALAM PIKIRANKU
Beberapa hari setelah pindah aku merasa begitu lemas. Ada yang menarik energiku secara cepat. Padahal aku tidak banyak melakukan aktivitas dan tidak melewatkan waktu makan. Kepalaku terasa sangat sakit akhir-akhir ini. Sangat sulit rasanya untuk bangun dari tempat tidur. Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan cepat. Aku berusaha bangun dan mengambil air disampingku. Aku meneguknya dan menelan obat sakit kepala yang diberikan tuan Matt. Aku memejamkan mata sesaat dan mengikat rambutku asal. Aku bangkit berusaha menyeimbangkan tubuhku. Brown terlihat terlelap tidur di dekat pintu. Aku menarik tirai dan menatap keluar jendela. Hutan pinus terlihat sangat gelap ketika matahari mulai turun ke ufuk. Aku menutup kembali tirai jendela. Tidak ada hal yang menarik yang bisa kulihat. Aku membenci kegelapan. Aku berbalik memutar kenop pintu dan keluar. Rumah itu terlihat sepi. Aku berjalan ke arah pintu keluar.
"Nona sudah bangun?" Seseorang mengejutkanku. Aku berbalik dan melihat Gretha sedang memegang sebuah buku bacaan. "Ingin secangkir cokelat panas?" Ia menawarkanku. Aku hanya mengangguk.
"Aku ingin jalan-jalan sebentar." Aku memaksa senyum dan berbalik meninggalkan Gretha. Angin sore berhembus dingin menusuk tulangku. Sweater yang kupakai tidak dapat menghangatkanku sama sekali. Aku memeluk diriku sambil berjalan untuk mencegah dingin. Suasana sore yang mencekam. Aku menatap ke langit. beberapa burung terbang bersamaan melintasi langit jingga. Suara-suara serangga mulai terdengar lebih jelas. Aku berjalan ke dermaga dan memperhatikan air sungai yang mengalir. Pikiran gila mulai menyusup ke dalam otakku. Rasanya aku ingin terjun dan membiarkan diriku terbawa arus dan menghilang. Aku merenggangkan tanganku dan membukanya lebar. Angin dingin menghunus tubuhku. Rasanya sakit tapi lebih menenangkan. Aku memejamkan mataku dan mencoba menikmatinya. Ini seperti akan terbang.
"Nona ! Apa yang kamu lakukan?!" Dari belakang Gretha meninggikan suaranya. Aku tersentak dan menoleh kebelakang. Aku terbata-bata mencari alasan.
"Aku sedang menikmati anginnya." senyumku memaksa. Gretha berjalan cepat kearah ku.
"Ayo masuk. Aku sudah mempersiapkan secangkir cokelat panas." Ia menarik tanganku. Aku sedikit terkejut namun tetap mengikuti langkahnya. Saat itu rasanya suasana canggung tercipta diantara aku dan Gretha.
***
Aku masih memikirkan kecanggungan yang memisahkan aku dan Gretha. Ia seperti marah kepadaku. ketika makan malam pun tidak ada pembicaraan yang terjadi. Aku merasa tidak betah. Malam itu tuan Matt datang untuk memberiku terapi. Aku berharap terapiku cepat berakhir sebelum sempat dimulai. tapi sepertinya itu tidak mungkin terjadi karena tuan Matt tiba-tiba mengetuk pintu kamarku dan masuk.
"Nona, silahkan ke ruang terapi." tuan Matt memberi hormat padaku. Aku memasang wajah malas dan berlalu melewatinya. Saat aku keluar Gretha terlihat sedang membaca buku yang ia pegang tadi sore. Bahkan ia sama sekali tidak berpaling menatapku. Aku sedikit frustasi terhadapnya. aku pikir tidak ada masalah yang kuperbuat. Aku membuang pikiran canggungku dan melangkah masuk ke ruang terapi.
Tuan Matt mempersilahkanku untuk duduk ditempat biasa. Aku menurut dan mengatur dudukku agar terlihat santai.
"Kenapa kau tidak tinggal dengan Gretha?" Aku membuka pertanyaan. Tuan Matt hanya diam seperti biasanya. Ia sibuk dengan peralatannya. Aku memberikan wajah masam padanya. Ia membawa obat yang berbeda dari obat sebelumnya.
"Apa kamu memiliki keluhan?" Ia bertanya sambil menulis sesuatu di buku catatannya.
"Tidak ada. Aku baik." jawabku ketus. Tuan Matt menatapku tajam sesaat. Lalu wajahnya berpaling dengan cepat.
"Gretha mengatakan kamu perlu perawatan intensif. Kamu mencoba untuk bunuh diri." Ia berucap tanpa ragu. lidahku terasa kaku untuk menjawab pertanyaannya. Itukah alasan Gretha memberikan jarak padaku. Aku tersenyum pahit.
"Aku pikir aku akan melakukannya jika ia tidak mencegahnya. Kau benar, aku mulai bosan dengan hidupku sendiri." Aku memberikan senyum getir pada tuan Matt. Ia sedikit terkejut namun tak berkomentar apa-apa.
"Dosis obatmu akan meningkat setelah ini. Kamu telah bersaksi padaku ingin bunuh diri. Tuhan tidak akan pernah menerima keputusanmu. Jadi aku mencoba menggagalkan rencana bodohmu." Tuan Matt membalas kata-kataku dengan telak. Ini terapi terburuk yang pernah kujalani.
Tuan Matt menyodorkan segelas air dan dua kali lipat jumlah obat yang ia berikan pada terapi sebelumnya. " Aku akan gila selamanya jika kau hanya memberiku obat." Aku mengambil seluruh obatnya dan meneguk semuanya tanpa memikirkan apapun lagi. Bagiku yang terjadi-terjadilah. Aku juga tidak tau untuk apa aku hidup.
Tanpa berkata apapun aku bangkit dan meninggalkan tuan Matt. Otakku rasanya ingin pecah.
***
Model : Sasha Pivovarova (hak cipta gambar milik Sasha)