"Uchiha-sama-- Tunggu-- Saya mohon--"
"Tolong bantu saya, tolong--"
"Ayahku-- Ayahku tak mungkin berkhianat-- Ayahku-- Ayahku itu orang baik Uchiha-sama"
"Tolong-- selamatkan Ayahku, Uchiha-sama. Saya-- saya mohon"
"Ayahku-- Tolong--"
"Saya-- akan melakukan apapun untuk Uchiha-sama. Saya mohon selamatkan Ayah-- Tolong."
Onyx yang semula enggan melirik itu spontan fokus menatap penuh arti sosok gadis muda yang bersimpuh dihadapannya, diselingi seringai licik khas Uchiha.
**
Sebelum memulai aktivitas Fugaku selalu menyempatkan diri untuk melakukan pemeriksaan rutin yang langsung ditangani langsung oleh Dokter Tsunade, selaku dokter pribadinya. Dokter keturunan british itu sudah mengabdi selama puluhan tahun untuk keluarga Uchiha. Dokter jenius dengan pengalaman yang mumpuni jelas menjadi alasan utama bagi Fugaku untuk selalu mengikatnya dibawah kekuasannya. Meski begitu, Fugaku tak langsung sepenuhnya percaya pada dokter berambut pirang itu. Perasaan waspada dirinya begitu tinggi. Fugaku yang begitu sensitif menjadikannya sosok yang sulit percaya kepada orang lain hingga ia tak segan-segan menyewa seseorang untuk mengawasi seluruh gerak-gerik dokter pribadinya itu.
"Saya sudah memberikan suntikan analgesik seperti yang Uchiha-sama minta" ucap Tsunade seraya membereskan peralatan medisnya. Iris matanya melirik sekilas Fugaku yang masih tak beranjak dari tempat duduk dan masih terpaku dengan layar ponselnya.
"Tugas saya sudah selesai, saya mohon pamit Uchiha-sama"
Fugaku melirik sekilas lalu mengibaskan tangannya seolah memberikan gesture untuk segera menyingkir dari hadapannya. Mata tajamnya masih fokus membaca rentetan kalimat yang dikirim seseorang ke alamat emailnya. Semakin lama, dahinya semakin berkerut marah.
"Semakin banyak saja masalah yang harus diurus" geram Fugaku seraya kembali menyimpan ponselnya. Dengan cepat ia sambar jas kerja yang sudah dibawakan seorang maid untuknya.
***
Rokok yang terselip diantara dua jarinya sesekali ia hisap kuat-kuat hingga benda bernikotin itu semakin memendek. Ia tak peduli jika asap rokoknya akan memenuhi ruangan ber-ac yang sekarang di tempatinya. Tsk. Mana mungkin Gaara peduli jika sang tuan rumah masih teler diatas sofa. Bahkan jika Gaara mau, ia bisa membakar apartement sahabat blondenya itu sekarang juga. Apapun bisa Gaara lakukan. Hanya saja ia sedang malas. Menurutnya merokok seraya ditemani secangkir kopi lebih menggoda untuk dinikmati ketimbang melakukan hal-hal yang konyol.
"Bangun atau kusiram tubuhmu dengan spiritus?" ucap Gaara dengan penuh penekanan.
"Kau masih disini?" tanya balik Naruto seraya meregangkan tubuh yang kaki dan juga nyeri.
"Kenapa tidak membawaku ke kamar?" keluhnya.
"Awalnya aku ingin melemparmu ke atas kompor" jawab Gaara dengan ketus.
"Jam berapa sekarang?" tanya Naruto setelah kesadarannya kembali terkumpul.
"Jika kau ada rapat, kau terlambat" balas Gaara seraya kembali menyeruput kopi buatannya.
"Kau bisa pergi Gaara"
Gaara menghela nafasnya pelan. Sadar, jika Naruto sedang mengusirnya secara terang-terangan.
"Aku sangat peduli denganmu, Naruto" seru Gaara lirih.
"Aku tau"
Tanpa kata lagi, Gaara lantas beranjak menjauh dari posisi awal duduknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Fact
RomansaTakdir begitu menggelikan. Saat ia menyerahkan hati dengan tulus, saat itu juga ia merasakan sakit.
