Beberapa hari setelah kejadian, malam itu mereka berkumpul kembali guna mengatur bagaimana mereka bisa bertemu.
Mereka pun memutuskan menunggu di area tempat mereka sempat dua kali berkelahi. Suga merasa bukan hanya masalah basket yang menjadi penyebabnya.
"Kemana nih mereka?" ujar Hyunjin.
"Gak tau, biasanya mereka ada di sini," kata Bang Chan.
"Apa kita terlalu cepat datangnya ya?" Jungkook bertanya.
"Tunggu aja sebentar lagi, mereka pasti datang juga," ujar Suga.
Waktu menunjukkan pukul 8 malam, jalan pun mulai sedikit ramai dan ada beberapa gerombolan pemuda yang datang mendekat.
"Wah wah... kebetulan kita ada di sini rupanya," ujar Ryan sambil bertepuk tangan. Dia adalah orang yang mendorong Suga hingga cidera saat kompetisi basket antar sekolah beberapa waktu lalu.
"Nah ini dia," gumam Taehyung sambil bangkit dari posisi jongkoknya.
"Apa kalian sengaja menunggu kami di sini?" tanya Ryan.
Dari sisi belakang terlihat seorang pemuda memicingkan matanya, menatap satu per satu teman-teman Suga. Matanya pun terhenti pada satu sosok. "Bangsattt Bang Chan!" gumamnya dalam hati. Ia pun berlari cepat mendekat lalu menarik lengan Bang Chan hingga Bang Chan terpaksa mundur beberapa langkah. "Bocah sialan, lu ngapain ada di sini?" ujarnya dengan nada kasar.
"Felix?" ujar Bang Chan terkejut saat melihat wajahnya. Ya, dia adalah sahabat lama yang juga pernah jadi tetangganya. "Lu sendiri ngapain disini?" balik Bang Chan bertanya.
"Gue kira bukan lo yang berurusan sama mereka," bisik Felix dengan suara rendah. "Jangan berbuat apa-apa, biar gue yang urus," lanjutnya.
"Hey hey!" Felix sambil bertepuk tangan untuk menarik perhatian kelompoknya. "Kita masih punya banyak urusan lain, jangan terlibat apa-apa dulu dengan mereka," tegasnya pada kelima temannya termasuk Ryan. Felix beserta enam temannya pun pergi meninggalkan Bang Chan dan teman-temannya di situ.
"Lo kenal orang itu?" tanya Hyunjin pada Bang Chan.
"Felix!" jawab Bang Chan singkat.
"Anjirrr si Felix, gue kira siapa!" ujar Hyunjin dengan ekspresi khawatir. Ia juga mengenal siapa Felix – benar saja, Bang Chan, Hyunjin, dan Felix adalah teman masa SMP yang sekaligus pernah jadi tetangga.
Saat perjalanan pergi dari tempat itu, Ryan bertanya dengan kesal pada Felix, "Kenapa lo gak hajar mereka, lo takut?" Gusarnya terasa dengan nada yang agak tinggi.
"Udahlah, hal gak penting ngapain berantem?" jawab Felix dengan nada malas.
"Lu tau gak mereka udah bikin kita malu!" tegasnya.
Felix pun menghentikan langkahnya lalu menatap Ryan dengan sorot yang dingin. "Hm? Bukannya lo yang bikin tim kita malu? Bukannya lo yang dorong Suga si kapten Wolf?" tegas Felix, membuat Ryan merasa canggung dan sedikit menunduk sebelum akhirnya menatap Felix lagi.
"G..gue cuma emosi, Felix... Mereka udah banyak kali ngotot buat menang, malah menyuruh pemainnya ngeganggu kita dari belakang!" balik Ryan dengan nada yang sudah tidak sekeras tadi, wajahnya masih menunjukkan rasa tidak puas.
Felix menghela napas panjang lalu melanjutkan langkahnya, "Kalau lo benar-benar peduli sama tim, fokus aja ke permainan, bukan cari masalah di luar lapangan. Gue jadi kapten bukan buat ngajarin kalian cari perkelahian, tapi buat bawa tim kita menang dengan cara yang benar!"
Salah satu anggota tim yang bernama Aron mendekat dari belakang, "Tapi Felix, bukan cuma kali ini lho. Pas latihan juga pernah ada yang sengaja nyelinjurin kita. Kalau terus begitu, gimana kita bisa bermain dengan tenang?"
"Ya tapi itu bukan alasan buat kita turun ke level mereka!" ujar Felix dengan suara yang sedikit meninggi. "Gue juga kesel sama mereka, tapi ada cara yang lebih baik daripada berkelahi dan bikin nama tim kita jadi buruk di mata sekolah lain. Lagian..." dia berhenti sejenak, mata sedikit melirik arah tempat mereka bertemu dengan Bang Chan dan teman-temannya, "kalau aku ikutan buat masalah, aku jadi sama aja dengan mereka yang salah."
Ryan masih menggerutu sambil mengikuti langkahnya, "Tapi semua orang sekarang bilang kita kalah karena main kotor padahal mereka yang lebih dulu mulai!"
Felix berhenti seketika dan menghadap langsung ke seluruh kelompoknya. Matanya yang biasanya hangat kini penuh dengan ketegasan. "Apa perkelahian bisa menyelesaikan masalah? Gue gak suka cara kotor ini Kalau ada yang gak suka dan masih nekad cari masalah sendiri, silakan keluar dari tim ini!"
Sorot matanya yang kuat membuat semua teman tidak berani membantah lagi. Mereka hanya bisa mengangguk perlahan dan melanjutkan perjalanan pulang bersama. Di dalam hati, Felix sendiri sebenarnya juga merasa tertekan – melihat Bang Chan dan Hyunjin di sana membuatnya teringat pada masa SMP ketika mereka bertiga selalu bersama-sama, tapi sekarang dia harus berdiri di sisi yang berbeda karena menjadi kapten tim basket sekolahnya. Ia pun berbisik pelan, "Maaf ya Chan, Hyunjin... Semoga kalian bisa mengerti nanti."
Sungguh Alibi Ryan sangat membagongkan, jelas- jelas mereka yang tidak mau kalah dengan menghalalkan segala cara untuk menang malah menyalahkan tim suga.
*
Di tempat lain, Minji diam-diam bertemu dengan Lay, mantan kekasihnya sewaktu SMP, tanpa Jungkook ketahui.
Mereka saling bertukar cerita dan tertawa bersama.
Hatinya sangat bingung. Ketika menghadapi situasi ini, satu sisi dia ingin kembali pada Lay, satu sisi dia masih menjadi pacar Jungkook.
"Lama banget kita nggak ketemu ya Minji," ujar Lay sambil menatap wajahnya dengan senyum hangat. "Kamu masih sama aja kayak dulu – suka tertawa begitu kalau cerita lucu."
Minji hanya bisa tersenyum pelan, tangannya tidak sengaja mengulurkan rambutnya ke belakang, gerakan yang biasa dia lakukan saat merasa canggung. "Ya juga... Aku sendiri juga nggak nyangka bisa ketemu kamu lagi disini."
"Aku sebenarnya udah lama mau menghubungi kamu, tapi khawatir kamu tidak nyaman aja," lanjut Lay. Dia mengambil gelas jus yang ada di mejanya sebelum melanjutkan, "Kamu sekarang bagaimana? Sudah punya pacar kan?"
Minji mendengar pertanyaan itu, hatinya langsung berdebar kencang. Dia tidak bisa berbohong, tapi juga tidak tahu harus bagaimana menjelaskan keadaan dirinya sekarang. "Ya... Aku sudah punya pacar. Namanya Jungkook, dia baik banget sama aku."
Lay mengangguk perlahan, ekspresinya sedikit berubah tapi segera kembali normal. "Begitu ya... Aku senang kamu punya orang yang bisa merawatmu. Cuma... aku mau bilang saja, aku masih menyimpan rasa sama kamu Minji. Kalau kamu merasa ada kesempatan untuk kita berdua lagi..."
Minji segera menggelengkan kepalanya dengan tergesa-gesa, tapi tanpa rasa kebencian. "Lay, aku sangat menghargai perasaanmu. Tapi aku juga sayang sama Jungkook. Aku bingung benar sekarang – aku tidak ingin menyakiti salah satu dari kalian berdua."
Setelah itu, mereka tetap bertemu secara diam-diam setiap beberapa hari sekali. Minji mencoba untuk menjaga jarak, tapi rasa nostalgia dan kedekatan lama dengan Lay membuatnya semakin sulit untuk menolak. Suatu malam, saat mereka duduk di taman yang sepi, Lay menghampiri tangannya dan memegangnya dengan lembut.
"Minji, aku tidak mau memaksamu," ujarnya dengan suara lembut. "Tapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak dekat denganmu lagi. Bolehkah kita menjalin hubungan secara diam-diam dulu? Biarkan aku punya waktu untuk membuktikan bahwa aku layak untukmu, dan biarkan kamu juga berpikir dengan tenang tentang apa yang kamu inginkan."
Hatinya berdebar kencang. Setelah beberapa saat berpikir, Minji akhirnya mengangguk perlahan. "Baiklah Lay... Tapi kita harus sangat hati-hati. Jungkook tidak boleh tahu tentang ini."
Sejak itu, mereka mulai menjalin hubungan rahasia. Minji akan mencari alasan untuk keluar dari rumah atau menghindari Jungkook di malam hari hanya untuk bertemu Lay. Kadang dia merasa bersalah, tapi saat bersama Lay, dia merasa seperti kembali ke masa lalu yang penuh dengan kebahagiaan dan kenangan indah. Mereka berjanji untuk tidak menyalahgunakan kepercayaan ini dan akan segera memutuskan apa yang terbaik untuk semua pihak – tapi untuk saat ini, mereka memilih menikmati momen bersama dengan cara yang tidak benar.
KAMU SEDANG MEMBACA
LET GO!!
ActionBang chan x Suga! Pertarungan Basket, dan sebuah kebebasan yang sulit mereka raih membuat mereka harus bertaruh nyawa.
