Di rumah Suga yang cukup luas namun terasa sepi, ayahnya—Mr. Victor aka Min-seok—duduk di ruang tamu dengan wajah penuh kekhawatiran. Tangannya masih memegang ponsel, layarnya menunjukkan beberapa kali percobaan panggilan yang tidak terjawab dan pesan yang belum terbaca.
"Kemana anak ini..." gumamnya pelan sambil menatap foto keluarga yang berada di atas meja tamu—foto dirinya bersama istri yang telah meninggal dan Suga yang masih kecil, wajah mereka penuh senyum.
Suga adalah anak semata wayangnya. Sejak istri nya meninggal ketika Suga baru berusia 10 tahun, hingga kini anaknya sudah duduk di kelas 11 SMA, mereka tinggal berdua. Beberapa bulan yang lalu, Seoyeon—anak dari teman baiknya yang sudah mengenalnya sejak lama—ditetapkan untuk tinggal bersama mereka. Ayah Seoyeon sedang sakit keras dan tidak bisa merawatnya sendiri, jadi Mr. Min-seok dengan senang hati menerima untuk merawat dan mendidik gadis itu seperti anaknya sendiri. Ia memilih untuk tidak menikah lagi, karena cintanya pada mendiang istri masih sangat mendalam. Ia fokus pada bisnis yang dijalankannya dan mendidik kedua anak yang tinggal bersamanya dengan penuh kasih sayang, meskipun terkadang kesibukannya membuat mereka jarang bisa berkumpul.
Ia segera berdiri dan mencari Seoyeon di dalam rumah. Setelah menemukan dia sedang membersihkan dapur, Mr. Min-seok langsung mendekatinya.
"Seoyeon, kamu tahu dimana Suga? Aku sudah beberapa kali meneleponnya tapi tidak bisa dihubungi" ujarnya dengan nada khawatir.
Seoyeon berhenti dari pekerjaannya dan menggelengkan kepala dengan wajah juga penuh kekhawatiran. "Aku juga tidak tahu OM, Suga kemarin malam tidak pulang juga. Aku sudah mencoba menghubunginya beberapa kali tapi sama saja tidak bisa terhubung"
"Mungkin mereka sedang ada urusan penting ya..." gumam Mr. Min-seok pada dirinya sendiri, tapi rasa khawatir tidak pernah hilang. Ia berjalan ke kamar Suga, melihat ke dalam ruangan yang rapi seperti biasanya. Tak ada tanda-tanda sesuatu yang salah, hanya saja barang-barang Suga terlihat seperti biasa.
"Semoga kamu baik-baik saja" ujarnya sambil menyentuh bantal yang biasa digunakan Suga, lalu keluar dari kamar dan kembali ke ruang tamu, masih menunggu panggilan balik dari anaknya yang dicintai...
Beberapa jam kemudian, matahari mulai merangkak ke sisi barat, menorehkan warna jingga di langit kota. Pak Min-seok masih duduk di sofa, tidak beranjak jauh dari teleponnya. Seoyeon sudah menyajikan teh hangat di mejanya, tapi cangkirnya hampir tidak menyentuh bibirnya.
Tiba-tiba, suara ketukan pintupun memecah kesunyian, membuat kedua orang itu terkejut dan langsung berdiri. Mereka berjalan cepat ke arah pintu, harapan terpancar di wajah mereka. Namun, ketika pintu terbuka, yang muncul bukanlah Suga—melainkan seorang polisi dengan seragam biru tua yang rapi.
"Pak Kim Min-seok?" tanya polisi itu dengan nada lembut namun tegas.
"Ini saya," jawab Pak Min-seok dengan suara sedikit menggigil, sementara Seoyeon berdiri di belakangnya.
"Kami menemukan anak Anda, min Yoongi—yang biasa Anda panggil Suga—di kawasan sekitar taman kota bersama beberapa orang muda lainnya. mereka terlibat dalam bentrokan fisik dan kini beberapa dari mereka sedang berada di kantor polisi. Tidak ada yang terluka parah, tapi kami perlu Anda datang untuk menyelesaikan beberapa proses" jelas polisi itu sambil memberikan nomor lokasi kantor polisi.
Hati Pak Min-seok terasa seperti ditusuk tajam. Bentrokan? Bagaimana bisa anakku terlibat dalam hal seperti itu? pikirnya, sementara rasa khawatir berganti dengan rasa kebingungan dan sedikit kemarahan. Seoyeon di belakangnya menangis pelan, menutup mulutnya dengan kedua tangan untuk menghalangi suara tangisnya.
"Baik, saya akan segera datang," ujar Pak Min-seok dengan suara yang mencoba tetap tenang. Ia mengambil kunci mobil di atas meja, lalu menoleh ke Seoyeon. "Seoyeon, kamu tinggal di rumah ya. Jangan khawatir.
KAMU SEDANG MEMBACA
LET GO!!
AksiBang chan x Suga! Pertarungan Basket, dan sebuah kebebasan yang sulit mereka raih membuat mereka harus bertaruh nyawa.
