Chapter 17

468 49 0
                                        

FLASHBACK - 3 TAHUN SILAM

Saat itu mereka baru memasuki kelas 1 SMP. Di halaman sekolah yang rindang, Suga duduk di bawah pohon beringin bersama Eunbi, sedang mengerjakan tugas matematika bersama.

"Bagaimana caranya menghitung luas segitiga itu ya, Suga?" tanya Eunbi dengan wajah bingung, menunjuk ke buku tugasnya.

Suga tersenyum lembut dan mendekatkan diri untuk menjelaskan. "Begini, Eunbi. Rumusnya adalah setengah kali alas kali tinggi. Kamu coba masukkan angka-angkanya seperti ini..."

Awalnya mereka hanya teman sekelas yang sering membantu satu sama lain. Seiring berjalannya waktu, hubungan mereka semakin erat—dari teman belajar hingga selalu bersama di setiap acara sekolah. Saat memasuki kelas 3 SMP, rasa sayang satu sama lain mulai tumbuh lebih dalam.

Suatu malam, saat mereka sedang berjalan pulang setelah mengikuti lomba bahasa Korea bersama, Suga berhenti di tengah jalan dan menatap Eunbi dengan wajah serius.

"Eunbi... aku punya sesuatu yang ingin kubilang," ujarnya dengan suara sedikit gemetar. "Aku sangat menyukaimu. Tapi aku tidak bisa meresmikan hubungan kita sekarang. Aku ingin menyelesaikan sekolah dulu, bekerja keras, dan menjadi orang yang sukses agar layak untukmu."

Eunbi tersenyum hangat dan meraih tangan Suga. "Aku mengerti, Suga. Aku akan menunggu kamu. Selama kita tetap seperti ini sudah cukup bahagia untukku."

Setelah itu, mereka tetap menjaga hubungan erat seperti sebelum nya, meskipun tidak resmi berpacaran. Sampai mereka masuk SMA kelas 10, mereka masih selalu bersama—hingga akhirnya Pak Min-seok mengetahui tentang hubungan mereka.

Sebagai seorang pengusaha besar yang memiliki banyak koneksi, Pak Min-seok segera mencari tahu tentang latar belakang keluarga Eunbi. Ia menemukan bahwa ayahnya, Lee Jihoon, pernah menjadi tentara angkatan udara sebagai pengemudi pesawat militer sebelum beralih profesi menjadi atlet tinju. Namun masa lalunya yang pernah dikenal sebagai orang yang kuat dan terkadang kasar membuat Pak Min-seok khawatir. Padahal kini Jihoon telah menjalankan perusahaan yang bergerak di bidang pangan yang didirikan oleh mendiang istrinya dengan sukses dan dikenal sebagai orang yang baik hati.

"Hentikan hubunganmu dengan Eunbi sekarang juga, Suga!" perintah Pak Min-seok dengan tegas saat mereka sedang makan malam. "Ayahnya punya latar belakang yang tidak baik, dan aku tidak ingin masa depanmu terganggu karena itu."

Suga mencoba membela Eunbi dan keluarganya, tapi Pak Min-seok tidak mau mendengar apa-apa. Ia bahkan melarang Suga bertemu atau berkomunikasi dengan Eunbi lagi.

Hari-hari setelah itu menjadi sangat sulit bagi keduanya. Mereka hanya bisa saling melihat dari kejauhan di sekolah, tanpa bisa berkata apa-apa. Namun apa yang tidak diketahui Suga adalah, selama masa itu ada seseorang yang selalu ada di sisi Eunbi—Bang Chan, teman sekelas mereka yang juga teman satu team basket nya.

Bang Chan adalah orang yang ceria, baik hati, dan selalu siap membantu Eunbi saat dia merasa sedih karena tidak bisa bertemu dengan Suga. Ia tidak pernah mengucapkan kata-kata cinta secara langsung, tapi perhatiannya yang tulus mulai membuat Eunbi merasa nyaman. Lambat laun, rasa sayang Eunbi kepada Suga yang selama ini ia simpan mulai pudar, digantikan oleh rasa hormat dan perasaan yang tumbuh perlahan terhadap Bang Chan.

KEMBALI KE MASA SEKARANG

Pak Min-seok meraih tangan Suga dengan erat, air mata mengalir lepas di wajahnya yang biasanya selalu terlihat tegas. Ia tidak bisa berkata apa-apa, hanya bisa menatap anaknya yang lemah berbaring di ranjang. Semua rasa bersalah menyelimuti dirinya—dia yakin bahwa semua yang terjadi pada Suga adalah karena larangannya terhadap hubungan dengan Eunbi.

"Aku minta maaf, Nak..." gumamnya dengan suara teredam, mencium dahi Suga perlahan. "Semua ini karena aku. Kalau aku tidak melarangmu bersama Eunbi, kamu tidak akan mengalami hal seperti ini..."

Suga menggeleng perlahan, mencoba mengangkat tangannya untuk menepuk tangan ayahnya.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka dan Bang Chan masuk dengan membawa tas ransel berisi pakaian ganti untuk suga dan diri nya. Wajahnya langsung menunjukkan ekspresi terkejut ketika melihat Pak Min-seok dan pak. Jihoon berada di dalam kamar. Bagaimana mereka bisa tahu lokasi rumah sakit ini? Aku sudah sangat berhati-hati untuk tidak memberitahu siapapun, pikirnya. Ketika matanya menyapa Jihoon yang berdiri di sudut kamar, dia mengangguk perlahan dalam hati. Ah, pasti Om Jihoon yang memberitahu Pak Min-seok.

Bang Chan segera menghampiri mereka dan memberikan salam hormat yang sopan. "Pak Min-seok, Om Jihoon... saya tidak menyangka Anda berdua ada di sini."

Pak Min-seok mengangkat pandangannya, melihat wajah pemuda yang sudah tidak asing lagi baginya. "Kamu Bang Chan, bukan? Teman sekelas Suga yang juga teman Eunbi."

"Iya, Pak," jawab Bang Chan dengan sopan. Lalu ia melihat ke arah Suga yang sedang berusaha untuk duduk tegak. "Saya akan menjelaskan semua kronologi kejadian, Pak. Supaya tidak ada kesalah pahaman lagi."

Dia menarik sebuah kursi dan duduk di dekat ranjang, mulai menceritakan semua yang terjadi beberapa hari yang lalu:

"Saya dan Suga saat itu baru saja pulang dari cafe. Kami sedang berbincang santai sambil jalan menuju rumah saya, tapi tiba-tiba dihadang oleh beberapa remaja seumuran kami. Mereka adalah anggota tim basket sekolah lawan yang pernah bertanding melawan kami beberapa minggu yang lalu."

Bang Chan menghela napas sebelum melanjutkan, "Saat pertandingan itu, ada salah satu anggota tim mereka yang sengaja mendorong Suga hingga dia terjatuh dan mengalami cidera ringan di pergelangan kaki. Karena perilaku yang tidak sportif itu, tim mereka akhirnya didiskualifikasi dari kompetisi. Sepertinya mereka merasa malu dan ingin membalas dendam kepada kami."

"Dia mulai mencaci maki kami dan akhirnya perkelahianpun tak terelakan" lanjut Bang Chan dengan nada yang semakin serius. "Suga mencoba untuk tetap tenang, tapi mereka tidak mau mendengar dan mulai menyerang. Kami hanya bisa membela diri. Saat polisi datang, mereka semua lari, dan kami pulang kerumah saya. Setelah itu kami tidak tau apa-apa lagi"

Jihoon mengangguk mendengar penjelasan itu. "Jadi ini benar-benar tidak ada hubungannya dengan masalah pribadi atau hubungan dengan Eunbi?"

"Benar sekali, Om," jawab Bang Chan. "Yang terjadi ini murni karena masalah balas dendam dari tim basket itu."

Pak Min-seok merasa seperti batu besar yang terangkat dari hatinya, namun rasa bersalahnya tidak hilang sepenuhnya. Meskipun kejadian ini tidak ada hubungannya dengan Eunbi, dia tahu bahwa perlakuan dirinya terhadap hubungan Suga dan Eunbi telah menyakitkan hati anaknya selama ini.

Suga melihat ke arah Bang Chan dengan wajah penuh rasa terima kasih. "Terima kasih sudah menjelaskannya, Chan. Kalau bukan lo yang segera bawa gue ke rumah sakit, gue gak tau apa yang akan terjadi"

Bang Chan tersenyum lembut dan menepuk bahu Suga dengan hati-hati. "Gak apa-apa, kita kan teman? Udah seharusnya gue lakuin hal ini."

LET GO!! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang