"Om, kenapa om bisa bertemu bang chan di tempat seperti itu?" Tanya Taehyung dengan rasa penasaran.
Jihoon menghela napas panjang sebelum mulai bercerita, sambil terus merawat luka di tangan Jungkook dengan hati-hati.
"Ya, dulu aku memang termasuk salah satu orang yang cukup berpengaruh di dunia bawah tanah Korea," ujarnya dengan nada yang tenang, seolah sedang menceritakan cerita orang lain. "Aku mulai terjun ke dunia itu saat masih muda, karena kondisi ekonomi keluarga yang sangat sulit. Tinju adalah jalan keluar pertama ku, tapi perlahan aku masuk ke dalam lingkaran yang tidak bisa kuhindari lagi."
Ia mengangkat pandangan ke arah langit-langit, seolah merenung masa lalunya. "Saat itu, aku merasa itu adalah satu-satunya cara untuk memberi makan keluarga dan melindungi orang-orang yang ku cintai. Tapi kemudian, aku bertemu dengan ibunda Eunbi—dia mengajarkanku bahwa ada cara lain untuk hidup dengan bermartabat."
"Tapi kenapa om bisa keluar dari dunia itu?" tanya Suga dengan penuh rasa penasaran, memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut Jihoon.
"Itu tidak mudah anak-anak," jawab Jihoon dengan senyum sedikit menyakitkan. "Aku harus berjuang keras dan membuat banyak pengorbanan agar bisa keluar dengan aman. Bahkan setelah itu, aku masih harus tetap berhati-hati karena pengaruh mereka masih luas."
Ia menatap ke arah Bang Chan dengan pandangan yang penuh makna. "Saat aku melihatmu tadi, aku teringat dengan diriku dulu—siap melakukan apa saja untuk melindungi orang yang aku sayangi. Itu adalah sifat yang baik, tapi kamu harus berhati-hati, nyawamu juga berharga"
"Aku juga punya adik laki-laki yang dulu sangat suka bermain basket," lanjut Jihoon sambil membersihkan luka di kaki Taehyung. "Dia juga pernah mengalami masalah dengan anak-anak jalanan karena tim basketnya. Saat itu aku tidak bisa membantu dia dengan cara yang benar, dan itu menjadi salah satu alasan kenapa aku memutuskan untuk keluar dari dunia itu."
Mata teman-teman Bang Chan penuh dengan rasa kagum mendengar cerita itu. Mereka tidak menyangka bahwa sosok ayah Eunbi yang selalu terlihat ramah dan rendah hati punya cerita masa lalu yang begitu berat.
"Kini aku hanya ingin hidup damai dan menjaga Eunbi agar bisa hidup dengan tenang," ujar Jihoon dengan suara yang penuh kasih sayang. "Jadi ketika aku melihatmu dalam kesusahan tadi, aku tidak bisa tinggal diam. Apalagi kamu adalah orang yang Eunbi sayangi."
Seperti petir di siang bolong, lagi-lagi hatinya merasa sangat sakit, seperti nya harapan nya tlah sirna, kecurigaan nya selama ini ternyata benar, ada sesuatu antara Eunbi dan Bang chan.
Bang Chan langsung merasa wajahnya memerah lagi. "Terima kasih banyak ya om, kalau bukan karena om, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku dan teman-teman."
"Kamu tidak perlu berterima kasih" jawab Jihoon dengan lembut. "Yang penting kalian semua baik-baik saja. Dan ingat ya, jika suatu hari kalian menghadapi masalah yang tidak bisa kalian atasi sendiri, jangan sungkan untuk mencari aku. Meskipun aku sudah keluar dari dunia itu, masih ada beberapa orang yang masih menghargai diriku disana."
Ia kemudian berdiri dan melihat ke arah jam di dinding. "Sudah larut malam anak-anak, kalian semua harus istirahat. Luka-luka kalian perlu waktu untuk sembuh, jadi jangan terlalu banyak bergerak ya."
Sebelum pergi, Jihoon menoleh lagi ke arah Bang Chan. "Aku akan merahasiakan ini dari Eunbi."
Setelah ayah Eunbi pergi, teman-teman Bang Chan hanya bisa terdiam sejenak, masih merenungkan cerita yang baru saja mereka dengar. Hyunjin kemudian membuka bicara dengan suara penuh kagum. "Gue gak nyangka, ayah Eunbi ternyata orang yang begitu hebat."
Bang Chan hanya mengangguk, matanya penuh dengan tekad. "Kita harus lebih berhati-hati dari sekarang ya guys"
Suga mendekat dan memberikan tap di bahu Bang Chan. "Kita adalah teman baik Chan, apa pun masalahnya kita akan hadapi bersama." Ia tau hatinya sangat sakit, tapi persahabatnya lebih penting dari perasaan cintanya pada Eunbi.
Mereka pun saling melihat dan tersenyum, rasa persahabatan mereka semakin erat setelah melalui kejadian yang menguji mereka...
Setelah ayah Eunbi pergi dan mereka mulai membersihkan diri untuk istirahat, Suga duduk di sofa sambil merenung kata-kata yang baru saja diucapkan oleh pria itu. Kalimat "apalagi kamu adalah orang yang Eunbi sayangi" terus bergema di benaknya.
Ia semakin yakin bahwa dugaan awalnya tentang hubungan Bang Chan dan Eunbi benar adanya. Ia ingat betul bagaimana Eunbi selalu terbuka pada ayahnya setiap kali berbicara tentang sekolah, dan bagaimana kata-kata semangatnya selalu terdengar khusus untuk Bang Chan—bahkan ketika mereka sedang berbicara tentang tim basket secara keseluruhan.
Tak ada keraguan lagi sekarang. Eunbi dan Bang Chan memang sudah bersama.
Namun setelah beberapa saat merenung, Suga perlahan menghela napas dan mengangguk sendiri. Ia perlahan menggeser tubuhnya untuk mendekat ke Bang Chan yang sedang duduk di kursi lain, masih merasa sedikit sakit karena luka-lukanya.
mereka segera bersiap untuk istirahat. Hyunjin mengambil kasur lipat dari gudang bersih yang berada di sebelah kamar tamu dan melebarkannya di lantai ruang tamu, sementara Jungkook dan Taehyung sudah tertidur terlelap di sofa karena kelelahan akibat perkelahian tadi.
Suga memilih untuk tidur di lantai sebelah Bang Chan, yang masih kesulitan bergerak karena luka-lukanya. "Sakit banget ya?" tanya Suga dengan suara pelan.
"Cukup!, tapi gapapa. Besok pasti sudah lebih baik," jawab Bang Chan dengan senyum lembut.
Mereka terdiam sejenak sebelum Suga membuka bicara lagi. "Kita harus lebih hati-hati dari sekarang ya tentang masalah tim basket itu. Kalau perlu kita cari cara yang lebih baik untuk menyelesaikannya, bukan dengan jalan kekerasan."
"Hmm," sambut Bang Chan. "Kita bisa bicara sama guru pembina kita besok, atau langsung menghubungi pihak sekolah tim lawan. Jangan sampai kejadian seperti tadi terulang lagi."
Hyunjin yang belum tidur menambahkan, "Bisa juga kita ajak mereka melakukan pertandingan persahabatan aja. Biar masalah bisa teratasi dengan cara yang positif."
"Boleh juga!" ujar Suga dengan mengangguk. "Kita akan bahas detailnya besok setelah kita semua merasa lebih baik."
Tak lama kemudian, keheningan kembali menyelimuti ruangan. Hanya terdengar napas teratur dari mereka yang sudah tertidur dan suara angin yang bertiup lembut melalui jendela.
Keesokan harinya, mereka bangun dengan tubuh yang masih terasa pegal dan luka-luka yang belum sembuh total. Namun semangat mereka tetap tinggi. Mereka sarapan bersama sambil membahas rencana untuk menyelesaikan masalah dengan tim basket lawan.
Mereka pun bersiap untuk pergi ke sekolah, dengan tekad yang kuat untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang benar dan menjaga keharmonisan antar tim. Persahabatan mereka semakin erat setelah melalui ujian yang tidak mudah, dan mereka berjanji akan selalu saling mendukung satu sama lain dalam setiap situasi.
KAMU SEDANG MEMBACA
LET GO!!
AcciónBang chan x Suga! Pertarungan Basket, dan sebuah kebebasan yang sulit mereka raih membuat mereka harus bertaruh nyawa.
