chapter 9

759 54 0
                                        

Hari itu, kompetisi pertandingan basket antar sekolah yang mereka nanti-nantikan pun dimulai. Segala persiapan telah matang; strategi dan stamina benar-benar mereka mantapkan. Sorak sorai penonton menggema di seluruh penjuru stadion, menciptakan atmosfer yang begitu membara. Pagar penghalang jelas memisahkan lapangan dari area penonton—gak bisa sembarangan orang yang masuk.

Di bangku penonton, Eunbi duduk bersama Minji dan Bora. Tangannya yang masih dibalut perban tidak menghalanginya untuk memberikan dukungan penuh pada timnya. Sesekali, matanya mencari sosok Suga di tengah lapangan.

"Semangat ya! Semangat semuanya!" teriak Eunbi dengan suara lantang, berusaha mengalahkan riuhnya suara penonton. Dia bahkan berdiri dan melambaikan tangan, membuat Suga yang sedang memegang bola sedikit tersenyum.

Minji dan Bora ikut menyemangati, meskipun dengan nada yang lebih kencang. "Awas aja kalo sampe kalah! Udah latihan keras gini!"

Di sisi lain, Seoyeon juga hadir. Dia duduk di barisan depan, dengan senyum yang terus mengembang. Matanya tak lepas dari Suga, seolah hanya dia yang ada di sana. Sesekali, dia melambaikan tangan dan memberikan tatapan yang penuh arti.

Pertandingan berjalan dengan sengit. Tim Suga memberikan perlawanan yang luar biasa, tetapi tim lawan juga tidak kalah kuat. Skor terus berkejaran, membuat jantung para penonton berdebar kencang.

Di tengah pertandingan yang menegangkan, tiba-tiba terjadi insiden. Salah satu pemain tim lawan dengan sengaja mendorong Suga saat dia mau lempar bola—Suga langsung terjatuh, meringis kesakitan sambil memegangi kakinya.

Eunbi yang melihat kejadian itu langsung panik. Dia mau berlari ke lapangan, tapi Minji dan Bora cepat menarik lengan dia. "Eunbi, jangan! Gak boleh masuk lapangan!" teriak Minji.

Eunbi hanya bisa berdiri di situ, matanya berkaca-kaca melihat Suga yang terluka. Dia menggigit bibirnya, harap guru pengawas dan perawat cepat datang ke lapangan.

Seoyeon juga terlihat khawatir, tapi dia tidak berani mau keluar dari bangkunya. Dia hanya menatap Suga dengan wajah yang bingung, seolah tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Wasit segera membunyikan peluit waspada, berlari ke arah Suga yang masih tergeletak di lapangan. Guru pengawas dan perawat tim pun cepat mendekat, memeriksa kondisi kakinya yang dipegang erat. "Lututnya apa ya? Jangan gegabah gerakin ya," ujar perawat sambil meraba bagian yang terasa nyeri.

Suga menundukkan kepala, keringat membasahi alisnya. Dia merasa luka yang menyakitkan, tapi matanya malah mencari arah bangku penonton—dan bertemu dengan pandangan Eunbi yang berkaca-kaca. Dia melihat betapa cemasnya gadis itu, bahkan tangan yang dibalut perban terlihat menggigit baju Minji.

Tanpa disadari, bibir Suga sedikit meringis ke atas. Dia melepaskan tangan dari lututnya, mencoba berdiri perlahan sambil disandang perawat. "Aku... aku masih bisa lanjut," katanya dengan suara yang agak berat, tapi tegas.

Eunbi mendengarnya dan langsung menangis lega, meskipun air matanya masih mengalir. Dia melambaikan tangan lagi, lebih kencang kali ini. "Sugapun, semangat! Jangan paksakan diri terlalu banyak ya!"

Sementara itu, wasit memanggil pemain lawan yang mendorong Suga. "Pelanggaran serius! Kamu dapat pelanggaran pribadi kedua, keluar lapangan!" teriak wasit dengan tegas. Pemain itu mengangkat bahu dengan ragu, keluar dari lapangan sambil ditertawakan sebagian penonton.

Seoyeon di barisan depan juga menghembuskan nafas lega. Dia masih tidak berani bergerak, tapi senyumnya kembali muncul—bahkan lebih lebar dari sebelumnya. "Kamu pasti bisa, Suga," bisiknya perlahan, semoga suaranya bisa sampai ke telinga cowok itu.

Suga kembali berdiri tegak di lapangan, meskipun lututnya masih terasa kaku dan nyeri. Rekan satu tim mendekati, memberikan dukungan dengan menepuk pundaknya. "Kita bantu kamu, Suga! Kita menangin ini bareng!"

LET GO!! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang