Bang Chan mencoba melepaskan diri dengan sekuat tenaga—bobot tubuhnya yang kekar jelas membuat salah satu lawan tidak kuat menahannya. Dia dengan cepat mendorong perut salah seorang dengan pundaknya hingga membuatnya jatuh terpelanting ke dinding gang.
"Jangan sentuh dia!" teriak Chan sambil melompat menghalangi pukulan yang akan mengenai Suga. Dia memberikan pukulan tepat di rahang salah satu penyerang, lalu menendang kaki lawan lain yang ingin menyerang dari samping.
Namun karena jumlah lawan lebih banyak, mereka pun tak luput dari pukulan dan tendangan. Tubuh Chan dan Suga sudah babak belur, wajah mereka memerah dengan beberapa memar dan goresan luka. Suga sudah hampir pingsan, tubuhnya terengah-engah menahan rasa sakit, sementara Chan masih berjuang dengan gigih untuk melindungi temannya.
Tiba-tiba terdengar suara sirine mobil polisi yang semakin dekat—mereka sedang berpatroli di sekitar daerah itu. Penyerang-penyerang itu langsung kaget dan saling melihat satu sama lain.
"lari!" Teriak Rian dengan suara terengah-engah, lalu mereka langsung berlari berhamburan meninggalkan gang.
Chan dan Suga yang nyaris pingsan tetap berusaha untuk bangkit. Chan meraih bahu Suga dengan lembut, membantu dia berdiri. "Lo gakpapa kan? Ayo kita balik" ujar Chan dengan suara yang terbata-bata akibat rasa sakit di tubuhnya.
Suga mengangguk pelan, menopang dirinya dengan menempel pada dinding gang, sambil mencoba menahan rasa pusing yang menyerang.
Sesampainya di rumah, Chan dan Suga saling menopang masuk ke dalam ruang tamu. Mereka dengan susah payah membaringkan diri di sofa, tubuh yang babak belur membuat setiap gerakan terasa sangat menyakitkan.
"Kita... harus obatin dulu luka nya" ujar Chan dengan suara lemah, mencoba untuk bangkit tapi tubuhnya tidak sanggup lagi. Dia hanya bisa mengerutkan kening menahan rasa sakit.
Suga juga sudah tidak punya kekuatan lagi, matanya mulai berat dan sulit untuk tetap terbuka. "udahlah Chan... kita istirahat dulu sebentar..." ujarnya pelan sebelum akhirnya kedua mata mereka terlelap tertidur.
Lampu ruang tamu masih menyala terang, menyoroti wajah dan tubuh mereka yang penuh memar dan goresan luka. Mereka tertidur nyenyak di sofa, meskipun posisinya tidak terlalu nyaman—kelelahan dan rasa sakit membuat mereka tidak bisa lagi berpikir tentang apa pun selain istirahat.
Hari berganti, waktu menunjukkan pukul 11 siang hari. Mata Bang Chan perlahan terbuka, tubuhnya masih terasa sakit di berbagai bagian. Ia menoleh ke arah jam yang menempel di dinding dan mengerutkan kening.
"Astaga jam 11!" Ujarnya terkejut, tubuhnya sedikit bergerak tapi langsung mengerutkan kening karena rasa sakit. Dia sadar sudah telat banget untuk sekolah, apalagi dengan kondisi badan dan wajah yang babak belur seperti ini, jelas tidak mungkin masuk sekolah hari ini.
Chan perlahan meraih ponsel yang berada di saku jaketnya yang diletakkan di atas meja kecil. Layar ponselnya penuh dengan notifikasi—30 panggilan telpon dan 10 pesan dari Hyunjin dan Eunbi yang sudah dikirim sejak pagi hari.
Tanpa berlama-lama, ia segera membuka pesan dan membalasnya satu per satu dengan sejujurnya:
Untuk Hyunjin:
"Hyunjin sorry, gue and Suga gak bisa masuk sekolah hari ini. Malem kemarin kita dikejar sama beberapa orang dari tim basket lawan, kita berdua babak belur. Sekarang kita lagi istirahat di rumah gue. Jangan khawatir, kita baik-baik saja."
Untuk Eunbi:
"Eunbi, maaf ya aku gak bisa masuk sekolah. Malem kemarin aku dan Suga terkena masalah sama beberapa orang, jadi badan kita banyak memar dan luka. Suga sekarang ada di rumahku, dia masih tidur. Aku akan info kalau kamu mau tahu kabarnya ya."
KAMU SEDANG MEMBACA
LET GO!!
AksiBang chan x Suga! Pertarungan Basket, dan sebuah kebebasan yang sulit mereka raih membuat mereka harus bertaruh nyawa.
