"Aku pun bertanya-tanya apa maksud Tracy bertemuku malam ini, meskipun ia berjanji tadi siang ia mengatakan 'kapan-kapan'"
Daviel melangkah santai masuk ke sebuah cafe yang dijanjikan gadis dua puluh lima tahun itu. Ramai, tidak begitu, meskipun ini malam minggu.
Daviel lalu melihat sekelilingnya. Ia mencari-cari gadis itu -siapa tahu sudah datang duluan-. Dan ia melihat gadis itu berada di sebuah meja kecil di pinggir jendela, dan sedang memandang ke luar.
Ia lalu melanjutkan langkahnya menuju gadis itu.
"Kukira kau belum sampai Tracy,"
Gadis itu lalu menengok ke dirinya. "Tidaklah. Aku yang mengadakan janji, harus akulah yang datang lebih dahulu,"
"Haha. Setidaknya aku tidak bingung," Daviel mengangkat pundaknya. "Apalagi aku hampir tidak mengenalmu,"
Tracy tertawa. "Aku berbeda bukan dengan sebelumnya?"
"Rambut keriting, minidress. Ya aku tidak biasa melihatmu seperti itu, selalu berpakaian kantor."
"Ya karena aku selalu sibuk di kantor. Oh ya, aku lupa memintamu duduk."Daviel menarik kursi lalu duduk di sebuah meja bersama gadis itu. Ia sedikit terpana melihat gaya Tracy, yang tidak biasa. Atau, ia memang sengaja ingin tampil cantik didepan seorang pemuda ini?
"Oke, apa yang ingin dibicarakan Tracy?" Daviel membuka pembicaraan.
"Mengenai hubunganmu dengan adikku." Ia mengambil sedotan dari gelas minuman yang ia beli. "Elicya memang susah untuk dinasihati,"
Daviel menarik nafas. "Ya.. sedikit keras kepala, tidak mau mendengar. Apapun yang kukatakan, sama sekali tidak ia dengar.
"Sama halnya dengan dirimu," sambar Tracy. "Aku sudah berbicara pada dirinya tadi siang, tetapi ia ogah untuk mendengar."
"Mengapa ogah? Bukannya kau adalah kakaknya?"
"Entah. Ia mengatakan semua hal yang kau lakukan adalah hal licik, bohong. Jadi ia sama sekali tidak mempercayaimu,"
Daviel menggigit bibirnya. "Ya memang aku suka berbohong, tetapi aku tidak pernah berbohong mengenai perasaan perempuan, apalagi sebuah rencana."
"Aku juga heran dengan dia, Daviel." Tracy memandang ke jendela. "Mungkin baginya janji manis yang kau ingkari sendiri."Daviel menyenderkan kepalanya pada tangan. "Ya memang, setiap orang meledekku dengannya bahwa kuberpasangan dengan dia, janji itu diungkapkan ke orang lain. Tapi begitu, yang kau ketahui sekarang."
"Oke. Itulah mengapa ia sampai seperti itu. Aku ingin sekarang jauhi ia sementara, sampai rasa dendam dia padamu reda. Aku tidak rela dia menampar pipimu lagi, dan berteriak-teriak di teleponmu." Tracy memberi solusi.
"Itu memang terkesan mudah. Tapi aku juga tidak rela kehilangan dia,"
"Tak perlu khawatir Daviel. Aku yakin, hubungan kalian lama-lama akan pulih. Jangan panik." Tracy mendekatkan wajahnya ke Daviel. "Memang apa alasanmu tidak rela kehilangan dia?"
Daviel menunduk. "Ia teman terbaik. Aku selalu curhat padanya. Tidak ada sebaik dia,"
Tracy menjauhkan sedikit wajahnya dengan Daviel, menegakkan badannya. "Aku bisa menjadi temanmu Daviel. Aku juga turut memperbaiki hubunganmu."Daviel diam tak acuh.
"Ada yang salah?" Tanya Tracy kikuk.
"Tidak. Aku perlu menyesuaikan pertemananmu dengan dirimu, karena kutahu, kau pasti berbeda dengan gadis itu bukan?"
"Itu menurut dirimu Daviel. Aku siap merelakan waktu untuk curhat dengan dirimu, menemanimu seperti Elicya,""Oke-oke." Daviel mengangguk. "Mungkin aku perlu berterima kasih banyak denganmu, telah berusaha mendekatkanku dengan Elicya. Sekarang aku sedikit lebih tenang,"
******
Tracy tidak mengalihkan pandangan sama sekali. Bukan alasan membahas hubungan adiknya dengan Daviel, tetapi tujuannya malam ini, hanya ingin sekedar berkencan. Meskipun hanya bertemu, lalu pulang, setidaknya ia berhasil."Daviel, memangnya ada alasan lain kau tidak berpacaran dengan Elicya, selain karena teman?"
Daviel mengangkat pundak. "Dia teman. Tetapi aku tidak berniat berpacara atau menikah dengannya. Meskipun ada anggapan 'teman sehidup semati'."
"Ya kalau kau menikah dengannya, seumur hidupmu tak pernah kehilangan dia. Bahkan selalu menemanimu kapanpun."
"Entahlah," jawab Daviel sedikit tertawa. "Istri adalah pasangan hidup, bukan teman hidup."
"Kurasa pasangan sudah dimiliki semuanya,"Daviel mengangkat pundaknya lagi. "Entahlah."
*****
"Kau orangnya lancar diajak berbicara, cantik, sudah mapan, kenapa belum punya pasangan hidup?"
Percakapan itu sedikit menusuk Tracy. Seusai makan malam, Daviel mulai mengalihkan pembicaraan ke hal yang lain, bukan membahas Elicya lagi. Tapi tidak masalah.
"Mungkin aku terlalu sibuk kerja." jawab Tracy singkat.
"Lalu, tidak ada teman atau siapapun rekan kerjamu yang disukai?"
Tracy menggeleng. "Tidak ada. Rata-rata sudah memiliki istri, dan tentu aku tidak mau mengganggu rumah tangga orang," Ia lalu mengambil segelas kecil wine. "Latar belakangku juga, hanya tinggal di pinggiran kota, tidak terlalu kaya, bisa menjadi alasan kumasih sendiri sekarang."
Daviel mengangguk. "Seharusnya urusan itu tidak menjamin."
"Lalu, boleh aku bertanya padamu?" balas Tracy. "Aku juga ingin menanyakan, kenapa kau tidak memiliki pacar, memilih sendiri daripada dijodohi Elicya yang juga cantik, sudah saling mengenal dan saling melengkapi?""Aku orangnya tertutup. Meskipun kadang-kadang orang-orang seperti manager swalayan sedikit tertarik denganku, tetapi aku tidak begitu suka. Aku juga tahu, adikmu memang cantik, dan diriku bisa dibilang selalu melengkapi kekurangan dirinya, tapi aku tidak suka aja kalau dia jadi pendamping hidupku,"
Tracy menutup mulutnya rapat-rapat. Ia kembali memutar otak, mencari pembicaraan agar dirinya menarik dimatanya. Ia menyukai laki-laki itu, dan ia ingin malam ini menjadi kesempatan terbaiknya.
"Mereka sedikit tertarik, mengapa tidak kau layani saja?"
"Bertemu seminggu sekali, untuk memasok barang-barang. Lagipula bukan seperti itu orang yang kusukai," Daviel meneguk habis wine ditangannya."Lalu, apa gaya yang kau sukai?"
"Sederhana, cantik, pintar, sudah bisa mencari uang, dan tentunya, setia."Tracy mengangguk. "Adikku mempunyai semuanya, tapi aku tahu kau tidak menyukainya bukan?"
"Perempuan lain yang kucari, bukan dirinya. Bukan dirinya sebagai jodoh, apalagi teman hidup." ucap Daviel lirih.
"Oh oke-oke. Aku mengerti sekarang. Aku tahu semua gayamu dan apa kesukaanmu, serta jodohmu." Tracy menyela. "Kalau perlu, mungkin aku membantukan mencari jodohmu untuk sekarang."
"Siapa?"
"Kau tidak perlu tahu. Aku yakin ini lebih baik daripada Elicya, dan dirimu tetap tidak kehilangan dia sebagai teman."
Daviel melipat tangannya. "Oke. Terserah dirimu. Aku hanya perlu berterimakasih dengan dirimu, sedikit membantuku untuk memperbaiki hubunganku dengan Elicya."
"Tentu." Tracy tersenyum.
"Aku juga berterimakasih, jika memang kau membantuku mencariku pacar." balas senyuman dari Tracy dengan sedikit tertawa.Muka Tracy berseri-seri. 'Bagaikan anggapan membantu orang lain mencarikan sesuatu yang hilang, tetapi barang yang hilang itu ada di dirinya sendiri.'
"Mungkin aku harus pulang. Aku takut naik taksi terlalu malam."
Daviel memandang arlojinya. "Oh oke. Tapi, kalau perlu kuantar kau sampai rumah. Aku juga tidak mau seorang perempuan diculik hanya gara-gara naik taksi,"
"Oh terima kasih. Tapi aku takut dirimu keberatan,"
Lelaki itu menggeleng. "Aku sudah biasa mengantarkan pulang Elicya. Sudah, tidak perlu sungkan. Aku juga ingin kau menghemat uangmu untuk renovasi rumah,"Tracy tersenyum. Mendadak ia sangat bahagia. 'Oh aku tidak bisa membayangkan satu mobil dengan lelaki ini. Aku bisa berbicara kembali dengan dirinya dan mengenal lebih jauh mengenai dirinya,'
"Tracy, kau masih sadar bukan?" Daviel menggerakkan tangannya di hadapan Tracy. Lelaki itu sudah berdiri didepannya sekarang.
"Ya.. Oh maaf." Tracy bangkit. "Kita akan pulang sekarang bukan?"
"Tentu."
Lalu Tracy dan Daviel meninggalkan restoran yang bernuansa modern itu.
*****

KAMU SEDANG MEMBACA
Approval Of Love (Completed)
ChickLit"Kita adalah teman, bukan pacar" Bukan friendzone, melainkan parentzone! Elicya dan Daviel. Bersahabat 16 tahun membuat orangtua mereka untuk menjadikan menjodohkan sepasang sahabat ini, meskipun keduanya berpegang teguh, tidak mau berpacaran. Lal...