Love by Kissing

39 4 0
                                    

Malam akhir pekan di tengah kota Atlanta. Penuh  gemerlap lampu jalanan, dan bebas dari kepadatan. Sunyi dan deru-deru kendaraan di tengah kota.

  Daviel dengan santai memegang kemudinya. Pandangannya berfokus pada jalan raya, tapi sesekali ia mencuri pandang ke arah lain, tak terkecuali Tracy.

  Perempuan itu duduk disebelah pangkuannya. Sedang terdiam, tidak melakukan apapun. Ponsel hanya dipegangnya, tidak ia mainkan atau sentuh layarnya. Entah memang bosan memainkannya. Tetapi sesekali gadis itu melipat lengannya yang terbuka.

  "Kau tidak kedinginan?" Daviel tidak sengaja bertanya.
  "Mm.. tidak." jawab Tracy kaku.
  Daviel memandang Tracy. "Kau yakin? Aku melihatmu selalu melipat lenganmu seperti orang kedinginan,"
  "Yaa. aku lebih suka seperti ini, aku tidak terlalu suka tangan diturunkan." balas Tracy, masih laku.

  'Memang sih aku kedinginan'

  "Kalaupun aku kedinginan, tadi aku tidak mungkin naik taksi,"
  "Ya itu kurasa kau menahannya." Daviel membantah lalu melepas pandangan dari gadis disebelahnya. "Taksi mobil butut Tracy."

  "Apa hubungannya?" Tracy tercengir.
  "Mobil butut saja sudah kedinginan, apalagi menaiki mobilku Tracy," sahut Daviel tertawa. "Sudah jujur saja, aku tahu ciri-ciri gadis kedinginan tanpa kau menyembunyikannya,"

  Tracy tersenyum malu. "Tapi aku keberatan kau justru kerepotan membiarkanku tetap hangat disini,"

  "Tidak perlu keberatan," Daviel meminggirkan mobilnya. Dari belakang kursi mobilnya, ia menarik sebuah selimut. "Pakailah ini agar kau tidak kedinginan."

  Tracy melebarkan selimut itu untuk menutupi seluruh tubuhnya. "Oh terima kasih Daviel," jawabnya tersenyum menatap Daviel.

  "Oke." balas Daviel tersenyum. "Kurasa kau masih tetap kedinginan dengan posisi seperti itu," Tangan Daviel menarik selimut di sisi lengan kiri Tracy, dan menaikinya hingga pundak.

  Tracy makin melebarkan senyumnya. Dirinya tidak menduga-duga hal ini.

  "Dengan begini lebih sempurna bukan?"
  "Tentu. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi kau melakukan hal ini," Tracy terus mengumbar senyum di depan Daviel.

  "Oh... hehe." Daviel kembali memegang kemudi stirnya. "Aku juga tidak keberatan kalau kau ingin tidur."

  Tracy menggeleng. "Aku tidak berani tidur di mobil orang."
  "Sudah tak perlu canggung Tracy. Adikmu sering begitu kalau dia naik mobilku. Anggap saja ini mobilmu,"

  Tracy menggangguk. "Tapi aku tidak pernah melihat adikku tidur di mobilku,"

  "Mungkin pendingin mobilku membawanya ke dunia mimpi yang indah," jawab Daviel tertawa kecil.

  Daviel kembali menjalankan mobilnya. Ia kembali berfokus pada jalan.

  Tracy menarik selimutnya lebih tinggi lagi. Dirinya begitu senang laki-laki disebelahnya begitu peduli dirinya. Ia juga tidak percaya apa yang barusan terjadi.

                                    *****

  Benar apa yang dikatakan Daviel. Rasanya setiap perempuan yang menumpang dalam mobilnya akan selalu tertidur. Suasana malam dan lampu jalanan yang agak redup turut membawa rasa nyaman untuk tidur.

Kepala Tracy miring ke jendela. Itu faktanya. Beberapa helai rambut poninya terurai di depan wajahnya, dan sesekali tertiup angin dari mulutnya. Matanya tertutup rapat.

  Perjalanan yang cukup jauh juga rasanya menjadi tambahan untuk mudah tertidur. Campbellton yang terletak di sisi kota agak pojok membuat semakin nyaman terlelap.

  Daviel terus memfokuskan dirinya mengendarai mobil. Ia tidak memikirkan apapun sekarang, entah masalah yang ia alami bersama Elicya, urusan ia harus kembali ke swalayan mengantar pasukan ternak, ataupun Tracy, yang sibuk menuai serbuk-serbuk indah di alam lain.

                                    *****

  Campbellton di depan mata. Rumah yang sudah menjadi langganan sehari-hari Daviel. Tidak mungkin ia lupa alamat ini, kecuali seseorang mengganti pelang jalan di depannya.

  Tracy masih terlelap tidur. Entah hari ini ia sibuk di panti asuhan bermain bersama anak-anak, apalagi gadis itu sempat mengunjungi rumah Daviel, sampai panik jika salah rumah. Tak ayal jika gadis itu tertidur pulasnya.

  "Tracy, bangun." Daviel mulai membangunkan gadis disebelahnya.


  Tidak ada respon sama sekali.

  "Tracy Taylor," Daviel membangunkan dengan memanggilnya. "Kau sudah sampai dirumahmu,"

  Masih dengan sebelumnya. Ia mungkin terjun ke jurang mimpi yang amat dalam.

  "Bangun Tracy. Aku tidak mungkin tetap membiarkanmu tertidur didalam mobil," Daviel memegangi pundak Tracy.

  Pundak Tracy ia pegang, dan sedikit menurunkan selimutnya. Ia lalu menepuk dengan halus pundaknya yang terbuka beberapa kali, sampai akhirnya Tracy terbangun.

  "Oh maaf," Tracy membuka matanya perlahan.

  "Tidak apa Tracy."
  "Ya aku melupakan janjiku agar tidak tertidur," Tracy menegakkan badannya dan menurunkan selimut yang membalut tubuhnya.
 
  "Kau tidak melupakannya Tracy. Aku tahu kau terlalu lelah untuk hari ini, dari mengunjungi rumahku sampai mengurus panti asuhan."

  Tracy menarik nafas. "Tapi aku tetap saja merasa bersalah, apalagi menumpang mobilmu bukan?"

  "Sudah-sudah lupakan masalah itu." Daviel lalu keluar dari mobil, lalu melangkah menuju pintu mobil dimana Tracy ada. Daviel langsung membukanya.

  "Selimut itu tak perlu melipatnya. Biar aku sendiri yang melipatnya." ucap Daviel selepas membukakan pintu untuk Tracy.

  "Aku sungguh memberatkanmu," gumam Tracy keluar dari mobil. "Ya aku sangat banyak berterimakasih kepadamu hari ini. Aku benar-benar merasa aman sampai kau mengantarku di depan rumah,"

  "Tidak masalah." balas Daviel sambil mengangkat pundak. "Sudah kewajiban laki-laki, daripada kau diculik supir taksi. Apalagi kau cantik, sama seperti adikmu."

  Tracy tertawa kecil. "Oh... Ya... aku juga ingin terus berusaha agar hubunganmu dengan Elicya tetap terhubung." Ia lalu menarik nafas sejenak. "Oke. Aku senang bisa bersamamu malam ini,"

  Daviel tersenyum. Tak lama, Tracy turut membalasnya dengan senyuman yang tak kalah manis, dan..

  Cup!

  "Sampai jumpa Daviel!"

  "Sampai jumpa juga!"

  Lalu Daviel masuk kembali ke mobilnya, dan Tracy masuk kerumahnya.
                                      *****
  Seorang sosok memerhatikan mereka di balik jendela. Ia melihat betapa keromantisan kakaknya bersama laki-laki yang dulu menemaninya sebagai teman.

Approval Of Love (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang