"Kuharap pertemuan kali ini mereka melupakan hubunganku."
Harapan itu terus terngiung di kepala Elicya. Ia bersama satu keluarganya -meski tidak lengkap, kurang ayahnya- , bersama ibunya dan Tracy, melangkah masuk ke restoran Willies Kitchen. Suasana dingin ia rasakan, apalagi ia sengaja memakai dress tanpa lengan, karena disuruh ibunya. Entah ia ingin dijadikan ratu bidadari cantik malam ini.
Ia memandangi sekitar. Restoran disini cukup kompromi dengan dirinya. Vegetarian. Satu pemikiran cemasnya perut gendut karena makan daging sudah tergeser."Ayo nak, kita sudah telat lima menit," tarik ibunya, menuju lantai dua, yang dikhususkan untuk ruang makan per keluarga. Lantai satu hanya dikhususkan perorangan.
Perasaan Elicya kian tidak terkendali. Mengapa begitu cepat ingin melangkah? Bisa saja beralasan di depan Virginia Avenue macet, dan berjalan santai menemui mereka?
Mereka sampai di lantai dua. Tiga orang telah menunggunya di sebuah meja bundar. Dua diantara mereka bersantai saja, saling mengobrol. Tapi tidak dengan anak mereka, salah satu dari mereka.
"Oh maaf Nyonya Madeline, aku sedikit terlambat."
ucap Annie Taylor sesaat dirinya sampai di meja.
"Tidak masalah. Kami pun baru sampai sekitar... tiga menit yang lalu," Madeline Russel memandang ke jendela depan restoran. "Aku tahu kalian terjebak macet karena galian di depan sana,"
Annie Taylor tersenyum. "Ya memang. Galian di depan sana memang membuat sekitarnya lumpuh.""Oh ayo kalian persilahkan duduk. Aku sampai lupa mempersilahkan duduk karena membahas kemacetan di depan restoran."
Mereka bertiga duduk. Elicya juga turut duduk dan tidak bisa beranjak ke mana-mana lagi. Ini penentuannya sekarang. Ini keputusannya sekarang. Orangtua mereka sebentar lagi akan membicarakan status hubungannya dengan Daviel, oh , dia duduk disebelahnya sekarang."Halo tuan Thomas," Annie Taylor menyapa Thomas Russel, ayah Daviel. "Senang bisa bertemu anda kembali."
"Oh tentu," balasnya dengan suara berat khasnya. "Aku juga senang kala bertemu seseorang yang terakhir kutemui saat perpisahan anak kita saat SMA."
Disela para orangtuanya menyapa, Daviel turut menyapa Elicya, meski sapaan mereka begitu tegang. Sikap Elicya terlihat galak, tidak seperti biasanya.
Tidak ada senyum apapun dari wajahnya."Penampilanmu feminim hari ini," puji Daviel membuka sapaannya, tanpa senyum.
"Tentu. Aku jarang berpenampilan seperti ini," balas Elicya cukup cepat. "Penampilanmu juga bagus, tidak selalu memakai baju kodok,"Daviel memandangi pakaiannya. Ia sengaja memakai kemeja biru bergaris biru dongker malam ini. Orangtuanya memintanya agar memakai baju lebih resmi, padahal baju mereka sendiri juga sederhana.
"Setidaknya penampilannya tidak seperti kakakmu," Daviel berbisik, sambil memandang Tracy yang asyik sendiri memainkan ponselnya.
Elicya tersenyum kecil. "Sepulang kerja ia langsung diajak ibuku, maka itu ia tidak sempat ganti baju, meskipun ada pakaian lebih bagus di mobilnya,"
"Oh rupanya sedang berbicara juga,"Berbisik saja sudah ketahuan. Makin memperburuk suasana. Bodohnya.
"Ya aku senang pula juga melihat anakku lebih akrab dengan anakmu, Nyonya Annie," Madeline melepas pandangannya ke Daviel dan Elicya.
Daviel menelan ludah. Ia merasa bersalah. Akibat dirinya, ia memperburuk suasana. Suasananya kian makin tidak aman, dan memperbesar kemungkinan membicarakan urusan jodoh."Anakku juga turut seperti itu. Enam belas tahun mereka berteman dan mereka seperti dua sejoli yang tak bisa dipisahkan," komentar Annie Taylor. "Oh ya, aku lupa memperkenalkan kakaknya. Mungkin kalian tidak pernah melihatnya dulu karena ia tidak betah dirumah,"
"Siapa namanya?" Madeline Russel berkenalan dengan gadis yang mirip Elicya itu.
"Tracy Taylor." Tracy memperkenalkan dirinya tanpa canggung.
"Apa pekerjaanmu Tracy?"
"Seorang sekretaris perusahaan Paperline Atlanta Co."
"Wah," suami dari Thomas Russel itu berdecak kagum. "Aku tidak menyangka kakak dari gadis manis ini ternyata bekerja di perusahaan kertas yang cukup besar di kota Atlanta ini,"
Tracy berbangga.

KAMU SEDANG MEMBACA
Approval Of Love (Completed)
ChickLit"Kita adalah teman, bukan pacar" Bukan friendzone, melainkan parentzone! Elicya dan Daviel. Bersahabat 16 tahun membuat orangtua mereka untuk menjadikan menjodohkan sepasang sahabat ini, meskipun keduanya berpegang teguh, tidak mau berpacaran. Lal...