Kunjungan Tak Terduga #2

27 5 1
                                    

  "Huh mengapa dia harus datang?" 

  Langkah begitu cepat penuh kebencian dan emosi ia bawa sampai ke ruang makan. Kakaknya, Tracy, sibuk menata botol-botol susu di atas meja. Elicya langsung melambatkan langkahnya, dan berusaha agar tidak terlihat seperti orang marah-marah di depan kakaknya. Ia tidak mau kakaknya tahu masalahnya dengan Daviel.

  Elicya duduk disalah satu bangku ruang makan. Ia mengambil nafas dalam-dalam, lalu membuangnya. Ia lalu meraih ponselnya.

  "Tersengal-sengal, apa yang kau lakukan barusan?" tanya Tracy heran.

  "Mengangkat peti yang begitu berat,"

  "Kukira kau bertengkar, Ely, dengan Daviel,"

  Elicya menatap kakaknya serius, seolah berkata 'mengapa ia bisa tahu dirinya bertengkar dengan Daviel?'

  "Oh, t-tidak. Aku tidak bertengkar." jawab Elicya terpatah-patah. "Yaa..aku membantu Daviel membawa peti-peti bahan yang ia sumbangkan dari mobilnya,"

  "Ya setidaknya aku mendengar ada yang bertengkar tadi,"

  "Mungkin anak-anak. Kau tahu apa kelakukan mereka bukan?"

  Tracy mengangkat pundaknya. "Aku tidak begitu tahu, kau tahu setiap Sabtu aku jarang kesini, lebih memilih mencari bujangan disekitarku,"

  "Bujangan ada didepanmu, Tracy. Bukannya kau mencintainya?" ucapnya sambil tertawa.

  "Itu pacarmu Ely."

  "Ia bukan pacarku," balasnya sepersekian detik.

  Tracy berdiri, selesai membereskan botol susu, lalu duduk dihadapan Elicya. "Kau seharusnya bersyukur Ely, punya pacar. Aku, kakakmu, tidak ada laki-laki yang menginginkanku,"

  "Ya aku juga bersyukur, tapi tidak dengan laki-laki brengsek itu,"

  "Aku tahu permasalahanmu semalam dengan peternak itu,"

  Elicya menatap kakaknya tajam. "Darimana kau tahu? Setahuku kau langsung ke mobil semalam,"

  "Aku memang dimobil. Tapi aku begitu yakin kalian bertengkar semalam. Kau menamparnya bukan?"

  Elicya menelan ludah.

  "Ia punya rencana Ely. Kau tidak peduli dengan ucapannya, tapi rencana yang dia buat lebih baik daripada ia harus menolakmu semalam,"

  "Oh ayolah, aku begitu tahu laki-laki itu sering berbohong,"

  Tracy menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kurasa dalam hubungan asmara, dia serius. Dia ingin kau nyaman saja dari ocehan ibu kita pada lain hari,"

  "Tapi aku tidak yakin." ucapnya sambil memutar bola mata.

  "Ia menginginkan setelah beberapa waktu dari ini, untuk memutuskan hubungan pacar denganmu. Ibumu pasti seolah berpikir, kau putus cinta dengannya, dan Daviel tidak cocok dengan dirimu,"

  Elicya tidak menghiraukan kata kakaknya.

  "Kurasa aku harus memerhatikan anak-anak itu sebelum mereka bertengkar lagi," Tracy bangkit meninggalkan ruang makan itu.

"Aku ingin kau merawat dirinya sebaik mungkin. Aku tahu kau salah satu anak baik dihadapannya. Enam belas tahun bukan kau mengenalnya? Aku ingin meyakinkanmu ia nyaman Daviel,"

  Muka Daviel menyembunyikan rasa malasnya. Ia turut malas mendengar apa yang diucapkan perempuan paruh baya itu. Cerewet, banyak maunya, dicampur pengaruh ayah ibunya sendiri; keras kepala.

  "Kau bisa menjalankannya Daviel?"

  Daviel menarik nafas, lalu menatap ibu itu. "Aku tidak terlalu yakin Nyonya Annie. Aku bukan laki-laki sempurna dihadapannya," Ia lalu mengangkat pundaknya. "Jadi, aku tidak terlalu berjanji,"

  "Aku yakin kau bisa menepati janjimu Daviel."

  Daviel memutar bola matanya, tepat saat ponselnya berdering.

  "Nyonya, kurasa aku tidak bisa terlalu lama disini. Aku ada janji dengan seseorang."

  "Oh tidak masalah Daviel. Aku kira kalau tidak ada pekerjaan, kau bisa menemani anak-anak dan membantu kami untuk membuat sup."

  "Tentu. Aku tidak keberatan. Mungkin lain waktu Nyonya." Ia lalu menatap jam di ponselnya. "Oke, saatnya aku pamit."

  "Sering-sering berkunjung Daviel. Tuhan menyertaimu!"

 

'Oh akhirnya, aku bebas dari nyonya tua itu. Bosan, menyebalkan. Sampai kapan hidupku tidak diatur-atur lagi? I wanna life free!'

  Daviel melangkah keluar sambil tersenyum. Sebelum meninggalkan panti asuhan itu, seseorang mengejarnya.

  "Daviel!" panggil orang itu.

  Seseorang berlari dari dalam. Elicya? Bukan. Mirip, dan bukan siapa-siapa lagi, kakaknya Elicya, Tracy.

  "Maaf aku mencegatmu sebentar." ujar Tracy sedikit capek berlari. Ia memegangi pundak Daviel.

  "Tidak masalah. Daripada kau mencegatku saat sedang mengendarai mobil."

  Tracy tersenyum. "Boleh aku bertemu dengan dirimu nanti malam? Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu."

  "Membicarakan apa?" tanya Daviel linglung.

  "Datanglah saja ke Ericko Cafe, Auburn Avenue. Aku menunggumu disana."

  Daviel mengangguk, lalu mulai menampakkan senyumnya. "Oke, aku akan kesana nanti malam."

  "Oke, sampai jumpa Daviel!" Tracy kembali melangkah masuk ke dalam.

  Daviel masuk mobilnya, meninggalkan panti asuhan itu.

Approval Of Love (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang