Hate You

33 7 9
                                    

  Hari sudah malam. Mendung malam ini terasa. Bagus, ya bagus, siang panas malam hujan. Tidak selalu kering di kota yang mempunyai tim basket Atlanta Hawks.

  Daviel sudah tahu apa yang terjadi pada dirinya setelah ini. Wajah Elicya sudah pasti ditebak. Dan ini saatnya ia berbicara rencananya yang sudah ia pikirkan dari tadi.

  Ia mengikuti Elicya yang memang meminta dirinya mengikutinya. Ia juga masih membayangkan izin yang ia lontarkan sebelum berpisah dengan orangtuanya dan mengikuti Elicya.

  "Permisi , ibu, Nyonya Madeline, boleh aku berbicara sebentar pada Daviel?" ucapnya sopan dan halus. Jelas sekali, menyembunyikan sesuatu.
  "Tentu. Kami sangat menghargai apa yang kalian lakukan." Madeline Russel memperbolehkan.
  Ibunya, Annie Taylor langsung menatapnya. "Oke. Jangan berlama-lama. Kami menunggu di mobil."
  Tak lama tangannya ditarik Elicya.

  Elicya menariknya sampai ke belakang restoran. Gelap, hanya berupa tempat pembuangan bekas restoran, dan asap.
Suara kipas industri juga turut terdengar.

  Ia memberhentikan langkahnya, lalu menatap Daviel dari kepala ke kepala. Wajahnya begitu muram dan kesal. Juga dengan keseriusannya.

  PLAK!

  "Aku kira kau serius dengan ucapan 'hanya berteman' Daviel,"

  Daviel membuka mulutnya, langsung menyambar ucapan Elicya yang sedang membara. "B.."

  "Aku kira kau menganggapku teman, tapi KAU, menganggapku pacar sekarang." ketusnya mulai berkaca-kaca, memotong ucapan Daviel.

  Daviel menunduk. Ia mencoba untuk berbicara lagi pada gadis berpakaian dress yang berdiri di depannya.

  "Aku tidak sudi berpacaran denganmu Daviel Russel. Kau gila! Kau lebih gila dan bodoh daripada seekor sapi di peternakanmu,"

  "Ely, ada maksud untuk persetujuanku tadi,"
  "Apa? berpacaran denganku? Ya! Itu jawabanmu kan?" Elicya mulai menitikkan air mata. "Jadi, selama 16 tahun kau berteman denganku, tujuannya hanya mencintaiku, iya?!"

  Daviel mengerutkan dahinya. "Tidak Elicya! Siapa yang menyebut kumencintaimu?" balasnya tidak kalah ketus.

  "Itu semua bohong!" teriak Elicya, disambut petir menggelegar.

  Daviel diam. Elicya sangat garang , lebih garang daripada dirinya di depannya sekarang, meskipun tetesan mata sudah mengalir, tapi ekspresinya benar-benar sudah sangat kesal.

  Suasana diam sejenak. Angin tanda hujan bertiup kencang. Helaian rambut Elicya tertiup. Elicya mengusap air matanya. Ia tidak tahan lagi. Teman yang menemaninya selama 16 tahun itu ternyata jatuh cinta pada dirinya. Ia tidak terima.

  "Aku membencimu Daviel,"

  Elicya melangkah meninggalkan Daviel. Matanya masih turut berkaca-kaca. Ia meninggalkan lelaki peternak itu setengah berlari, dan memaksa, meskipun sepatu yang ia pakai berupa sepatu hak.

  "Elicya!" teriak Daviel. Ia mengejar gadis itu dan memegang tangannya. "Kau belum mendengar apa maksudku berkata itu, gadis keparat!"

  Elicya berhenti melangkah, menoleh Daviel dan dengan kasar melepas tangan Daviel. "Tidak perlu kau memegang tanganku lagi lelaki peternak,"

  Elicya berlari lagi. Daviel hanya berdiri, memandangi kepergian teman yang telah menemaninya sejak duduk di sekolah dasar. Hujan rintik mulai terasa. Elicya berlari begitu kencang meninggalkan dirinya melalui lorong samping restoran. Dirinya tetap berdiri, sampai Elicya tak terlihat lagi, dan hujan kian deras. Ia membiarkan dirinya basah oleh hujan.

  Tak lama ia melangkah meninggalkan belakang restoran itu.

Approval Of Love (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang