Behind Me

30 3 0
                                    


  "Oh aku tidak percaya mengapa Tracy mencium Daviel semalam. Aku tidak yakin dirinya mencium dengan alasan terima kasih. Aku yakin dia mencintai Daviel, sampai nekat ingin mencium bibirnya, tapi ia tidak melakukannya demi diriku.

  Tapi aku begitu canggung ketika Tracy mencium bibir Daviel. Aku tidak pernah merasakan hal seperti itu. Maupun aku bertemu sahabat laki-laki, sampai kuberpacaran dengan Vicky, aku tidak pernah merasakan ciuman di pipiku. Apalagi bibir. Kecuali ibuku, yang dulu suka mencium pipiku. Tidak dengan sekarang, karena lebih sibuk di panti asuhan.

  Aku pernah ingin mencium Daviel sebelumnya...

  Oh ups. Aku berpikir terlalu jauh. Bukannya aku berkomitmen untuk menjauhi Daviel, dan memberikan sahabat yang pernah menemaniku 16 tahun itu kepada kakakku sebagai pacarnya?"

  Elicya melangkah dengan segudang argumentasi di otaknya. Meski begitu, ia masih memerhatikan jalan di depannya. Dan lebih untung, kondisinya sepi. Setidaknya ini tidak membuatnya sering menabrak orang.

  Inilah tujuannya pagi ini, ia ingin berenang bersama teman-teman semasa SMAnya.

  "Hai Elicya!"
  "Oh Hai! Oh aku tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan kalian,"
 
  "Tentu. Tapi ngomong-ngomong, kau berbeda dengan yang dahulu,"
  Elicya tersenyum. "Tentu aku berbeda. Memang dirimu Raine, tak jauh berbeda dengan dahulu?"

  "Haha. Ya kurasa kau sangat seksi sekarang. Idaman perempuan sekali tubuhmu kurasa, untuk memikat laki-laki,"
  Elicya memandang pakaiannya. Pakaiannya pagi ini santai, tanktop dan celana pendek, serta sepatu olahraga. Tapi ia tidak pernah yakin dirinya merasa memesona.

  "Tapi aku tidak merasa mempesona." Elicya kembali menatap dua teman yang berdiri di depannya.
  "Tidak Ely. Ya aku ingin belajar padamu bagaimana menjadi perempuan yang ideal," ucap Raine tertawa. Tubuhnya yang agak berisi ia punya sejak SMA. Tapi dirinya juga tidak terlalu gemuk.

  "Oh ya aku lupa bersapa dengan Aline. Aku awalnya tak mengenalmu karena wajahmu berbeda," celoteh Elicya terkekeh.
  "Hmm... terima kasih telah melupakanku." sahutnya lirih.
 
  "Oh aku hampir lupa menyuruh kalian masuk kerumahku, dan membiarkan kita berbicara disini," sambung Raine masih tertawa. "Ayo masuk."

  Lalu ketiga gadis itu masuk.

                              ****

  "Aku sangat senang kita bisa berkumpul kembali bukan? Bernostalgia masa SMA dulu bukan?" sambut Raine senang.
  "Ya.. aku juga senang. Aku juga begitu tercengang kau punya kolam renang pribadi dirumahmu," sahut Aline.
  Elicya menarik nafas. "Ya kalian juga menemaniku disaat yang tepat,"

  Dua temannya menengok dirinya.

  "Aku sedang kesepian," jawab Elicya mengangkat pundaknya.
  "Bukannya kau biasanya bersama Daviel?" tanya Aline sambil memegangi gelas teh.
  "Aku kira juga kau turut mengundangnya kesini. Aku senang jika ada laki-laki juga disini. Nostalgia kita kembali lengkap bukan?"

  Elicya mengangkat pundaknya lagi. "Entahlah. Aku juga tidak mungkin membawa laki-laki kesini. Dia laki-laki dan akan canggung jika sendirian sebagai seorang pemuda,"

  "Iya. Dan aku tahu. Daviel pacarmu bukan?"

  Elicya menengok Raine. "Aku tidak berpacaran dengannya,"

  "Oh ayolah Ely. Aku sering melihatmu mesra dengan laki-laki tampan itu di Instagram," sahut Aline tak kalah untuk membalas.

  "Kau tahu dia siapanya diriku?"
  "Pacar?"
  Elicya menggeleng. "Oh dia bukan pacarku,"

  "Tunangan?"

  Elicya menatap tajam Raine. "Kau tidak bercanda bukan?"
  "Tidak. Aku serius. Aku melihat kalian begitu mesra di Instagram atau Facebook, seperti yang disebutkan Aline tadi. Kalian sudah belasan tahun bersama, dan aku yakin saja, ternyata kalian sudah bertunangan."

  Elicya menarik nafas. "Aku tidak mungkin menikah dengannya."

  "Kenapa? Kalian sangat cocok. Bahkan aku menyebutnya m...m..... "pikir Aline.

  "Relationship goals."

  "Ya itu. Ayolah Ely. Kita berdua saja belum punya pacar, dan kau sebegitu gampangnya bersama dia dan bisa langsung menikah dengan dia." ucap Aline begitu meyakinkan.
  "Aku juga melihat dirimu cocok. Menurut novel-novel yang kubaca, ciri-ciri orang yang berpasangan sangat cocok itu, ada pada dirimu. Entah itu kemesraannya, cantik atau tampannya, ataupun sikap kalian."
sambung Raine.

  Elicya memutar bola mata. "Aku tahu kau membaca 'Essay of Love' bukan?"

  "Kau mengetahuinya?" Raine menatap Elicya serius.
  "Ayolah, pekerjaanku sekarang seorang penjaga perpustakaan dan seorang penulis buku. Aku pasti tahu dan aku selalu membaca novel baru yang datang ke perpustakaan,"

  "Oh ya?" wajah Raine serius menatap Elicya.
"Aku sangat tercengang mendengar pekerjaanku sekarang."

  "Lalu?" Elicya mengangkat pundaknya.
  "Tidak. Oke kembali ke novel yang kubahas tadi. Dari semua sifatmu, aku tahu Daviel itu pasanganmu masa depan!"

  Elicya membuang muka. "Ya..ya..ya. Kurasa aku sebelumnya jangan menulis di dalam buku itu."

  "Apa?"
  "Lupakan saja. Oh aku ingin menceburkan diri di air sekarang. Rasanya panas hari ini,"

                                 *****

  "Aku tidak percaya novel favorit yang kubaca sekarang... penulisnya adalah sahabatku sendiri!"

  Elicya berenang ke permukaan air. "Oh jangan seperti itu Raine. Aku tidak suka orang lain membahas pekerjaanku."

  "Ya aku begitu kaget. Aku tidak pernah menyadari penulisnya sahabat SMAku. Aku tahu, nama Elicya Taylor di Amerika itu banyak, bukan hanya dirimu, jadi aku tidak mengira kau penulisnya Ely,"

  Elicya menarik nafas. "Ya begitulah. Namaku sudah pernah masuk Wikipedia, tapi aku tidak pernah berbangga dengan diriku. Sebab tujuanku menulis hanya hobi."

  "Dan kau kena impas tulisanmu sendiri tadi," sahut Aline yang duduk di pinggir kolam.

  Elicya tersenyum. "Mengenai kecocokan. Tapi aku mendapat ide menulis itu dari referensi bacaan di perpustakaanku, untuk mengenal seorang laki-laki,"

  "Tapi kau tidak pernah merasakan hal itu pada Daviel?"

  Elicya menggeleng. "Aku dengan dirinya hanya bersahabat. Tidak lebih dari itu. Dan ia juga menganggapku seorang sahabat. Tapi orang-orang selalu menganggap kita pacaran, termasuk kalian,"

  Raine berenang mendekati Elicya. "Tentu. Kalau aku menjadi dirimu, aku sudah pasti mempacari laki-laki itu. Apalagi tampan, dan kudengar dia seorang peternak. Kurang sukses apalagi coba?"

  Elicya mengangkat pundaknya, lalu memegangi ikatan rambutnya yang basah. "Ya aku sudah mengenal dirinya lebih dalam, jadi aku memutuskan tidak berpacaran dengan dirinya, dan aku mencari yang lebih baik dari dirinya,"

  "Kalau kau sudah menganggap dia baik, berarti kau mencintai dirinya juga bukan?" balas Aline tersenyum licik. Ia lalu menyeburkan dirinya ke dalam kolam.

                           *****

  "Aku tidak pernah tahu hal cinta. Aku menganggapnya baik sebagai teman, bukan pacar, apalagi yang kau sebut, tunanganku. Sekilas memang orang-orang sangat menginginkan menjadi pasangan hidupnya, tapi setelah ia melihatku dekat dengan dirinya, mereka tidak jadi melakukan hal itu. Alhasil, mereka menganggapku pacar Daviel. Apalagi aku terlihat begitu cocok di hadapan mereka."

  "Tentu. Kalian memang cocok. Kurasa kau lebih mencintainya daripada mantanmu, Vicky," balas Raine menatap langit.
  "Aku tidak mencintainya Raine."
  "Ayolah Elicya," Raine menatap Elicya yang terbaring disebelahnya. "Kau belum pernah melihatnya beromantisan bukan? Atau peduli?"

  "Ia terakhir ini sering mengelap keringatku. Tapi aku menganggapnya itu biasa."

  "Aku rasa kau suatu hari bakal jatuh cinta dengan dirinya. Mungkin kau merasakan kau hanya teman pada dirinya sekarang. Tapi sekali kau merasakan romantisnya lagi, kau akan jatuh hati dengan dirinya." ucap Raine.

  "Kita tidak akan pernah tahu masa depan kita seperti apa. Hanya kitalah yang menentukan." sahut Aline.

  "Tentu. Tapi aku tidak yakin bersama dirinya lagi sekarang. Kurasa kakakku yang ingin memacarinya."

  Raine terbangun. "Tracy ingin memacarinya?"
 
  "Menurutku. Apalagi ia pernah sebut kalau ia mencintai Daviel. Jadi aku sekarang lebih memilih mundur dan menjauhkannya sebagai teman."

  "Aku tidak yakin kakakmu ingin memacari Daviel."

  "Kakakku menyebutkan seperti itu pula. Ia sangat menginginkanku berpacaran dengan Daviel. Apalagi orangtuaku menjodohkanku dengan Daviel. Itu menurutku sungguh gila!"

  Raine menarik nafas. "Kau seharusnya bersyukur Ely. Kita disini tidak mempunyai pacar sekarang. Kau seharusnya senang jika kau sudah dijodohkan orangtuamu. Kami apa? Orangtua kami tak peduli urusan jodoh. Usiamu sudah matang untuk menikah Ely. Usiamu idaman para pasangan suami istri untuk menikah. Kami mungkin dua sampai lima tahun lagi baru mendapat pacar."

  Elicya diam. Kini ia memilih tidak menjawab, daripada ia harus menjawabnya dengan seribu kata argumentasi. Sangat tidak masuk akal.

  "Mengenai pernikahan, aku juga ingin memberimu undangan pernikahan Ely." ucap Raine lagi.
  "Siapa yang menikah?" tatap Elicya pada Raine.
 
  "Leira. Gadis yang dulu sering diejek. Aku begitu heran ia ternyata bisa menikah juga." celoteh Aline memotong.

  "Kau pikir dia bukan mahkluk hidup Line. Dia tentu bisa menikah!" balas Elicya agak tertawa.

  "Aku harap kau datang minggu depan. Semua teman sekelas diundang. Termasuk pacarmu," lanjut Raine sambil tersenyum.

  Elicya memejamkan matanya. "Terserah dirimu mau menyebut Daviel denganku apa. Yang penting kita terlalu konyol disini."

  "Aku tidak menyebut ini konyol."

  "Ayolah, kita berenang, lalu mengeringkan badan dengan berjemur di matahari, dan kembali basah dengan keringat sekarang!"

  "Nikmati saja," Raine kembali membaringkan tubuhnya lagi.
                                   
                                 *****

Approval Of Love (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang