"Mantan"

28 3 0
                                    

"Kuharap ia datang, dan segeranya membawa kabar baik untukku."

  Elicya memegangi ponselnya. Sudah lewat sepuluh menit dari waktu yang dijanjikannya bersama Vicky, sang mantan pacarnya saat SMA, dan sekarang, ia ingin lagi untuk menjadikan Vicky sebagai pacarnya.

  Ia melihat sekitarnya. Restoran malam ini cukup penuh dengan kemesraan pasangan. Tidak dengan dirinya, masih sendiri.

  Ia kembali memandangi ponselnya. Ia menggeser-geser menu laman utama dalam ponselnya. Sesekali jari tangannya ia ketuk pada meja yang hanya berisikan dua gelas air.

  "Bagaimana kalau aku menjadi pacarnya lagi?" gumam Elicya sambil berpikir.

  Diri Elicya penuh harap. Ia memikirkan masa lalunya yang indah bersama Vicky. Entah itu ia sering diisengi laki-laki itu, diajak makan siang bersama, atau dirayu sampai Elicya benar-benar ingin menangis terharu mendengarnya. Oh andaikan ini terjadi kembali, apa jalinan rumah tangganya semanis komedian?

  Jari ponselnya mengusap galeri. Ia melihat-lihat lagi foto Vicky yang masih tersisa -karena tidak semua foto ia hapus saat putus cinta- . Laki-laki ini masih jadi primadona dirinya. Meskipun terkesan lebih tampan sahabatku.. ups!

  Elicya tersenyum-senyum sendiri melihat foto-foto Vicky.

  "Maaf Ely aku telat,"

  Elicya menoleh ke atas ponselnya, dan sosok yang barusan ia lihat benar-benar nyata di depannya.

  "Oh tidak masalah. Lagipula kurasa tempat ini sedikit membuatmu nyasar." Elicya buru-buru menutup galerinya sambil berbicara. "Silakan duduk."

  Vicky menarik bangkunya lalu duduk. "Tidak. Aku ingin jujur, aku sempat lupa janjimu tadi sore."

  "Tidak masalah. Tapi lebih baik kau datang terlambat daripada melanggar janji bukan?"

  "Ehm." deham lelaki di hadapannya. "Aku ingin berubah dari yang dahulu."

  Elicya tersenyum. "Aku lebih menyukai dirimu sekarang."

  "Kau juga. Aku rasa justru kau lebih menarik daripada yang dahulu."

  Elicya memandangi dirinya. Sama halnya yang ia lakukan saat bertemu Vicky Sabtu kemarin, memandang pakaiannya lagi. Meskipun pakaiannya terlihat lebih santai dan sporty, bukan dengan minidress.

  "Lalu, kau tertarik untuk memacariku lagi?"

  Vicky mengangkat pundaknya. "Aku belum menemukan jawabannya."

  Elicya memudarkan senyumnya. "Bukannya kau belum mempunyai pacar?"

  "Aku tahu diriku memang belum mempunyai pacar sampai detik ini, tapi aku tidak yakin berpacaran dengan dirimu lagi,"
  "Lalu apa alasannya?" tanya Elicya mulai mengintrogasi sang mantan.
  Vicky memejamkan matanya. "Aku yakin aku bukan seorang laki-laki yang sempurna dihadapanmu,"

  Elicya mengangkat alisnya, kebingungan.

  "Aku menyadari diriku, gadis secantik dirimu tidak pantas menjadi pacarku." lanjut Vicky, dengan nada yang mulai serius.

  "Kau itu tampan Vicky. Mengapa kau harus merendahkan diri?"

  "Ayolah Ely. Aku laki-laki yang banyak berdusta. Jujur saja, semasa aku berpacaran denganmu dulu, aku banyak berbohong demi melindungi diriku sendiri,"

  Elicya menelan ludahnya.

  "Dan aku tidak mau itu terulang kembali. Aku tidak ingin dirimu justru menyesal setelah berpacaran denganku. Cinta itu tidak semudah mengikat tali, bisa disambung dan diputuskan."

Approval Of Love (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang