Minggu 26 Juni 2016
"Seharusnya aku tidak menyimpannya sampai serepot ini,"
Sama seperti minggu lalu. Bangun pagi. Tapi tidak dengan pagi ini ia awali memasak sarapan. Kamarnya begitu berantakan. Lemari melintang di tengah kamarnya. Dus-dus ia buka satu persatu. Dan kala ia menemukan yang ia dapat, ia kembali memajangnya di meja kerjanya, atau dinding kamar.
Paginya penuh dengan kesibukan yang ia buat. Berbeda dengan minggu lalu, dimana tengah malam ia seolah 'membuang' segala yang ia pajang sekarang di kamarnya.
Elicya memandang sekitar kamarnya. Bingkai-bingkai kembali terpasang rapi. Bingkai beberapa kenangan indah bersama sahabatnya yang terbaik, Daviel.
Ia lalu tersenyum lalu berkacak pinggang. Hasil keringat yang membasahi sekujur tubuhnya sekarang tidak sia-sia. Ia lalu menarik nafas panjang. Langkahnya kembali tertuju merapikan sedikit bingkai yang miring atau tidak tepat dengan posisinya.
"Selesai."
Elicya melangkah keluar dari kamarnya.
*****
"Ely, kalau kau berolahraga pagi ini, jangan memakai pakaian seperti itu!"
Kata-kata itu terlontar saat ia menuju dapur.
"Aku tidak berolahraga pagi ini Tracy,"
"Lalu mengapa kau berkeringat banyak? Pakaianmu pula. Kau memakai piyama Ely..." tegur Tracy sambil memegangi roti tawar.
"Aku berberes kamar pagi ini." Elicya duduk di kursi meja makan sambil tersenyum.
Tracy menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tracy juga bukan?" Elicya membantah.
"Ini hanya sekedar keringat saat aku memasak Ely." Tracy memutar bola matanya.
Tracy lalu duduk di kursi, di hadapan Elicya, dan menyodorkan roti tawar kepada adiknya itu.
"Kau sudah baikkan dengan Daviel?" Tracy mengawali pembicaraan.
Elicya mengangguk. "Aku kembali bersahabat dengan dirinya. Dan aku mengerti apa maksud rencana yang ia berikan."
Tracy tersenyum. "Aku senang kau kembali seperti itu Ely. Kau kembali seperti dulu, dan usahaku untuk mendekatkanmu lagi dengan Daviel berhasil,"
"Ya..ya..ya.. Tracy," seloroh Elicya sambil mengoleskan selai. "Kau tahu darimana? Daviel menelponmu?"
Tracy menggeleng. "Tidak. Aku melihatmu semalam diantar Daviel bukan?"
"Ehm." Elicya mendeham.
"Dan.. ya... aku sedikit mendengar perkataanmu. Kau sudah baikkan. Dan kurasa sepertinya..." Tracy tersenyum.
"Apa?" Elicya memberhentikan mengoles selai.
"Kau mencintainya bukan?"
Elicya menelan ludah. "Tidak Tracy."
"Tapi kau menjadikan Daviel sebagai ciumanmu yang pertama?" Tracy melepas senyumnya.
Elicya tidak bisa berkata-kata lagi. Ia tidak beralasan disini. Ia mencium bibir Daviel karena hanya ingin menciumnya saja, seperti yang ia inginkan dulu.
"Iya kan? Kau benar-benar memacarinya bukan? Kau setuju kan menikahi Daviel? Aku beritahu ibu." Tracy berdiri.
"Jangan Tracy! Dan aku ingin bertanya padamu. Bukannya kau mencintai Daviel juga?"
"Aku lebih bahagia kau berpacaran dengan Daviel. Aku lebih baik bercinta dengan orang kantoranku." Tracy melangkah meninggalkan dapur. "Oh ya?"
Elicya menatap kakaknya, dan mengangkat alisnya.
"Kau mengatakan 'juga' di perkataanmu tadi. Berarti kau punya rasa dengan dia bukan?" Tracy tersenyum lebar.
"Tidak Tracy! Kukunci kau dikamarmu dari luar,"
"Gampang. Aku tinggal meloncat dari balkon." sahut Tracy dari kejauhan.
"Huh kakakku yang gila." gerutu Elicya. Ia lalu kembali sibuk dengan mengolesi selai pada roti.
Ponsel yang ada disampingnya berbunyi.
"Kuharap bukan bosku juga..." gumam Elicya kembali menggerutu.
"Pagi Elly!" teriak dari telepon itu.
Elicya melirik ponsel di telinganya. "Pagi Dav..iel." Ia lalu mengalihkan pandangan ke sekitarnya. "Kau membuatku terkejut Daviel,"
"Oh maaf. Tapi aku tidak mengganggumu bukan?"
"Tidak sama sekali. Ya setidaknya pagi ini aku sedang sarapan. Lalu apa yang kau lakukan pagi ini Daviel?"
"Seperti yang kau ketahui biasanya," jawab santai Daviel.
"Ya... biasanya kau mengantar segala limpahan hasil ternakmu ke kota."
"Nah itu tahu. Oh ya, kemana kau hari ini Ely?"
"Aku tidak tahu." Elicya meraih roti tawar, lalu memakannya, disela menelpon. "Minggu ini kemungkinan aku dirumah bersama Tracy."
"Oo. Kalau aku mengajakmu belanja?"
"Aku tidak keberatan. Lagipula.. beberapa stok dirumahku sudah habis,"
"Oke. Aku menjemputmu nanti di depan rumahmu."
"Siap, dengan senang hati,"
"Oke. Selamat menikmati sarapanmu.." tutup Daviel dalam teleponnya.
Elicya menyantap habis rotinya sambil tersenyum-senyum.
******

KAMU SEDANG MEMBACA
Approval Of Love (Completed)
ChickLit"Kita adalah teman, bukan pacar" Bukan friendzone, melainkan parentzone! Elicya dan Daviel. Bersahabat 16 tahun membuat orangtua mereka untuk menjadikan menjodohkan sepasang sahabat ini, meskipun keduanya berpegang teguh, tidak mau berpacaran. Lal...