Percayalah, seseorang tidak akan baik-baik saja saat ditinggal sama orang yang ia sayang.
****
Semilir angin malam berhembus kasar, malam yang gelap semakin gelap karna langit seperti nya ingin menurunkan airnya. Tapi tidak untuk Ali, ia masih disini, danau. Ditemani dengan gitar kesayangan nya. Entah kenapa, akhir-akhir ini ia selalu pengin kesini. Mungkin karna efek galau. Tanpa sadar, air menetes. Pertama-tama hujan hanya rintik-rintik. Namun, lama kelamaan hujan semakin deras.
"Bunda? Apa kabar? Ali kangen, Bun..."
"Bunda? Ali cape hidup. Ayah sama sekali gak peduli sama Ali lagi Bun..."
"Ali cape bun ... Ali ikut Bunda ya?"
"Ikut sama Kak Daniel juga, biar aku , Kak Daniel, dan Bunda bisa sama sama lagi,"
"Bunda jawab dong! Jangan diem ajaa.."
"Di atas sana bunda lagi senyum kan sama Ali? BUNDA? JAWAB!!"
Ali terisak, entah kenapa jika mengingat Bunda dan Kakaknya hatinya begitu perih. Apa lagi jika ia mengingat kejadian itu, kejadian yang merenggut orang yang ia sayang. Dan yang paling menyakitkan, ia benci saat dia ulang tahun, kenapa? Karna saat ulang tahun, Tuhan malah mencabut kedua orang yang Ali sayang. Sakit bukan? Entah sudah berapa tahun Ali tak merayakan ulang tahun nya.
Hari Semakin gelap, Ali memutuskan untuk pulang. Seperti nya stok baju di apartemen nya mulai menipis, jadi iia putuskan malam ini ia tidur di rumah ayah nya. Ia masuk ke dalam mobil sport hitam nya. Jalan yang tak begitu macat, karna ini sudah tengah malam. Ali mengemudi dengan kecepatan yang tinggi, bukan apa, Ali hanya capek. Ia pengin sekali mati, tapi Tuhan selalu saja membiarkan Ali hidup dalam penderitaan. Mana lagi, penyemangat hidup nya akhir-akhir ini pergi meninggalkan nya. Miris bukan? Tapi ya beginilah kisah nya.
"Eh Den Ali, mau-"
"Buka."
Satpam di rumah Ali tampak kaget dengan kedatangan Aden nya. Jika dihitung, Ali sangat jarang pulang.
Ali mematikan mesin mobil nya lalu berjalan gontai menuju ambang pintu. Ia membel rumahnya, kemudian wanita setengah paruh baya membukakan pintu sambil tersenyum. Ali hanya menatap nya datar kemudian masuk saja tanpa bersaliman dengan wanita itu.
"Masih ingat pulang ternyata kamu,"
Ali diam.
"Ada apa? Uang kamu habis? Jadi kamu mau pulang Li?"
Ali tetap diam. Namun sorot mata nya sangat tajam.
"Mas, Ali capek jangan kayak gitu deh,"
Ali muak sudah. Wanita menyebalkan itu sok suci dan sok baik. Cuih!
"Gak usah sok baik lo," Datar, namun menyakitkan. Begitulah ucapan Ali.
"Ali! Jaga omongan kamu. Dia ini mama kamu!"
"What the? Wanita itu itu Mama gue?"
PLAK!
Ayah Ali menampar Ali. Ali hanya tertawa getir. Bibir nya sangat perih, ujung bibirnya pun berdarah sangking kuat Ayah nya menamparnya.
"Puas lo ha liat Ayah gue nampar gue?! Bitch!" Ali hampir saja melayangkan tamparan kepipi mulus wanita itu, tapi dengan sigap Ayah nya menahan tangan Ali. Tangan Ali mengepal kuat.
"Anjing lo!"
Ali keluar dengan emosi yang masih memburu. Ia menghidupkan mesin mobil nya, "Buka woy setan!" Sungut Ali. Gerbang pun di buka. Pak satpam yang menyadari jika tadi ada perang dunia ke-2 hanya bisa berhembus nafas kasar.
KAMU SEDANG MEMBACA
BR[OK]EN HEART [END]
Novela Juvenil[End] #rank726 Sinopsis : Apa yang lebih sakit dari sekedar patah hati? Mencintai dan patah hati pada orang yang sama dan dalam waktu yang sama. Kisah ini mengisahkan sebuah dua insan yang menjalin asmara. Awal nya satu di antara nya yang memaksa...
![BR[OK]EN HEART [END]](https://img.wattpad.com/cover/103564974-64-k354619.jpg)