"Jangan saling pandang kalian belom muhrim,"
Prilly melirik ke arah makhluk lukisan itu dan menatap nya sinis. Namun, makhluk lukisan itu hanya menatap nya datar. Flat, tidak ada ekspresi diwajah-nya. Prilly pun tak menghiraukan cibiran makhluk lukisan itu. Ia kembali menatap mata teduh nya Maxime. Ia mencubit hidung Maxime sampai hidung Maxime merah merona.
"Adek! Ngapain lo kek gitu sama cowok!? Belom muhrim juga.." Sentak Dimas sedikit sinis.
"Maxime! Sekarang lo pulang!"
"Kemana, Bang ipar?" Balas Maxime tengil. Dimas pun gemas sekali, akhirnya mencubit lengan nya Maxime.
"Ya kekelas lo lah bego!"
"Ayeye Bang ipar! Hehe," Maxime sempat mengacak rambut Prilly gemas lalu mencubit nya sebentar saja. Kemudian, ia berjalan menuju ambang pintu. Dimas yang melihat itu menatap Prilly dengan tatapan aneh.
"Kenapa sih, Bang? Kayak ga seneng gitu gue deket sama Max," Prilly berdecak sambil menatap Dimas dengan tatapan tanda tanya.
"Ga pa-pa. Dek, mulai besok jangan deket-deket cowok, selain abang-abang lo ya,"
"Ihh, kenapa? Serah-serah gue dong, Bang!"
"Plaase, gue sama yang lain ga mau lo kenapa-napa, Dek. Kita ini khawatir sama lo. Kita sayang sama lo. Kita ngelakuin ini untuk lo. Untuk kebaikan lo. Demi masa depan lo ... Dek " ucap Dimas
"Elo possesive banget sih Bang! Gue itu udah gede Bang. Gue bukan anak kecil lagi. Please, jangan samain gue yang dulu," sulut Prilly yang sedang emosi. Ia berjalan melewatkan Abangnya. Sekelas melihat kejadian itu, kejadian dimana ke possesive-an Abang nya. Prilly tahu Abang nya sangat sayang kepada nya. Namun, jangan begini. Seenaknya saja melarang nya dekat dengan lelaki lain selain mereka. Prilly juga ingin merasakan masa masa muda, masa dimana seorang yang patah hati. Prilly sangat ingin merasakan jatuh hati dan patah hati. Walaupun ia tahu, bahwa jatuh hati itu akan ada masa nya patah hati. Ya, karna memang begitu dasar nya cinta.
Di sisi lain, Ali duduk termenung di bangku nya. Sesekali ia mencuri pandang ke luar jendela. Perasaan nya masih menyisahkan sakit yang dalam, perasaan nya kepada Nata tidak bisa hilang begitu saja. Perasaan nya masih sama saat dulu. Ali berjanji kepada diri nya sendiri, bahwa ia akan selalu menunggu Nata pulang dari London. Walaupun Ali tahu, bahwa Nata tidak akan pernah kembali ke hidupnya.
"Ali! Dipanggil Pak Deno tuh," Pekik Serly, sang ketua kelas melengking. Membuat Ali tersentak dari lamunan nya. Ali berdiri, ia sempat melirik Serly datar lalu kembali menatap ke depan.
Ia berjalan gontai menyusuri koridor yang terlihat ramai. Sesekali ia sempat mendengar para siswi disini membicarakan ketampanan nya. Ali yang mendengar itu tetap bersikap dingin seperti biasa, tidak lupa ia memasang wajah sedatar dan setenang mungkin. Sesampai nya di ruangan Pak Deno, Ali langsung mengetuk pintu ruangan nya.
"Masuk!" Ali pun masuk ke dalam ruangan Pak Deno yang serba biru. Ali sedikit mendelik karna melihat Pak Deno yang tak luput dari pakaian biru tua itu.
"Ada apa memanggil saya?" Ali bertanya to the point. Karna baginya, berbasa-basi itu tidak ada guna nya. Itu hanya membuang waktu berharga Ali.
"Hm, jadi gini Nak Ali. Saya sebagai ketua pembimbing futsal ingin kamu bergabung ke tim futsal sekolah ini. Karena, saya lihat dari rapormu, nilai olahrgamu cukup besar, dan membuat hati saya tercengang. Kalau kamu mau, saya akan menerima kamu tanpa harus di tes terlebih dahulu."
"Oke, saya akan fikirkan dulu. Kalau gitu saya pamit," Ali pun mulai berdiri, ia hendak melangkah. Namun, langkah terhenti oleh sosok perempuan menyebalkan itu. Mata mereka saling beradu pandang. Tiba-tiba saja ia berteriak heboh.
"OH MY GOD! Ngapain lo liat-liat! Gue colok pake lidi bau tau rasa!" Seperti itulah mungkin, suara nya sangat melengking yang membuat siapapun bisa pekak akan suara membahana-nya itu.
"Eh, PakDeno, sori sori Pak. Biasa lah Pak anak muda hehe," Prilly terkekeh pelan.
Ali yang melihat nya tidak tertarik, karna baginya sih Prilly ini adalah perempuan lebay sejagat raya yang pernah ia temui dimuka bumi ini.
"Iya Nak Prilly, hehe. Em, kenapa ya keruangan saya?"
"Jadi gini Pak, sekolah kita kan mau ada pameran nih, jadi menurut saya nih, tim futsal itu di ikutin aja. Siapa tahu kan bisa jadi pameran buat para cogan yang ada di tim futsal, hehe." Prilly terkekeh geli lalu duduk di kursi ruangan Pak Deno. Pak Deno yang mendengar nya ikut terkekeh, tapi tidak untuk Ali. Ia hanya memasang muka sedatar mungkin.
"Pak saya ga jadi ikut tim futsal, Maaf." Ali pun keluar dari ruangan dengan muka yang seperti biasa, datar.
Prilly yang melihat kejadian itu seolah ingin bertanya lewat mata. Pak Deno pun yang mengerti, langsung menghela nafas panjang. Entah kenapa, kali ini ia merasa bersalah sama bapak ga terlalu tua ini.
"Padahal feeling saya dia ingin masuk ke dalam tim futsal saya. Eh tau nya dia malah ga mau. Dan dia terlalu cepat mikir nya, Prilly. Saya itu ingin memasuki Ali ke tim futsal saya, karena waktu dia sekolah di tempat nya dulu, dia itu selalu saja memenangkan tim futsal nya. Dia itu pemain futsal hebat, Prill." Tampak kecewa raut wajah Pak Deno, membuat Prilly benar-benar merasa bersalah.
"Hem, maafi Prilly ya, Pak. Ini semua gara-gara Prilly ya," Prilly merengut dan menyesali perbuatan nya.
"Engga kok, Pril. Ini bukan salah kamu, Nak. Ya sudah, kalau dia ga mau masuk juga ga pa-pa. Tapi dalam hati saya yang terdalam, saya ingin sekali dia berubah fikiran." Dalam hati Prilly ia berjanji akan membuat Ali masuk ke dalam tim futsal. Ya ia berjanji pada diri nya sendiri!
"Em, Pak Deno saya mau keluar dulu ya! Bye pak tua!!"
Prilly berlari kecil menuju kelas, ia sempat bertabrakan dengan orang membuat nya hampir saja jatuh ke lantai.
BRAK!
"Eh sori sori. Em Max gue ke kelas dulu bentar ya! Sekali lagi sori!" Seru Prilly. Maxime menatap punggung Prilly yang mulai hilang diperbelokan jalan. Ia yang kepo akan sikap Prilly begitu akhirnya mengikuti Prilly dari belakang.
"Pfttt, akhirnye sampe juge dahh," Umpat nya. "Eh ada yang liat Ali kagak?" Pekik Prilly melengking.
"Tadi dia kayak nya ke lapangan basket deh, Pril." Balas Serly.
"Oh, Makasih ya Serly!!" Prilly pun berlari lagi menuju lapangan basket. Nafas nya sempat tersenggal. Tapi, demi Ali ia akan berlari sekuat tenaga. Ralat demi Pak Deno.
Akhirnya Prilly sampai juga di lapangan basket. Ia mencari badan Ali, dan yeah! Itu dia Ali.
"Ali!!" Pekik Prilly melengking membuat Ali menoleh ke arah belakang. Prilly pun berlari kecil menemui Ali dengan sisa nafas yang tersisa.
"Ali! Lo ini gue cariin eh tau nya disini. Dasar tengil lo!"
"Eh prilly."
"Hai prill."
"Hai prilly,"
"Eh, Haii," balas Prilly terbata. karna gugup. "Eh Kak, gue pinjem Ali nya dulu ya!" Prilly menarik tangan Ali. Mereka berdua menepi karerna takut akan ada orang mendengar pembicaraan mereka.
"Apa apaan sih lo narik-narik tangan orang! Ga sopan tau gak!" Bentak Ali. Prilly hanya cengengesan sambil menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.
"Li? Lo mau ya ikut tim futsal? please, gue mohon banget sama lo. Lo mau ya? Pliss,"
"Ga"
"Please, Li. Buat kali ini aja lo nuruti omongan gue. Gue janji deh ga bakal kaya gini lagi! Janji gue Li."
"Tapi ada syarat nya."
"Apa?"
"Lo......jadi...pacar gue." Ali menghela nafas." Ga ada penolakan ... Sayang,"
Revisi 10 maret 2018 pukul 19.25 wib
Tinggalkan jejak kalian ya💕
Gimana ya kira kira reaksi Prilly saat Ali nembak Prilly? Hayuu komen next sebanyak-banyak nya!
KAMU SEDANG MEMBACA
BR[OK]EN HEART [END]
Teen Fiction[End] #rank726 Sinopsis : Apa yang lebih sakit dari sekedar patah hati? Mencintai dan patah hati pada orang yang sama dan dalam waktu yang sama. Kisah ini mengisahkan sebuah dua insan yang menjalin asmara. Awal nya satu di antara nya yang memaksa...
![BR[OK]EN HEART [END]](https://img.wattpad.com/cover/103564974-64-k354619.jpg)