BR[OK]EN HEART : TEN

338 20 0
                                        

Matahari pagi menusuk mata Prilly, dengan gusar ia harus bangun dari tidur nya. Ia mengecek jam weker di sebelah kasur nya, ia mendesah karna sekarang jam 6 tepat. Kemudian berdiri dan mengambil handuk di dekat kamar mandi nya.


15 menit ia berada di kamar mandi, kemudian ia keluar. Prilly memakai baju sekolah nya lambat, ia menguap, "Ya ampun ngantuk banget gue" Umpat nya sebal. Kemudian ia menyisir rambut yang agak terlihat kering.

"Woi cepet kek gue mau dateng pagi nih," Seru Brian dari luar kamar Prilly. Prilly sebal, ia keluar dari kamar nya dan menatap brian tajam." SABAR KEK GUE INI LAGI NYISIR BEGO?!" Brian menelan ludah nya susah payah. Ia menatap adik nya, dan woah, mata Prilly sembam bro.

"Habis nangis lo? Kenapa?"

Skakmat! Prilly ketahuan, Prilly mendesah kemudian membuang wajah nya. "Ngga---papa "

"Ali?" Sorot mata Prilly langsung tertuju pada lelaki di ambang pintu. Ia menelan ludah nya payah kemudian berlari kecil ke kamar.

"Eh-Pril--" Omongan Ali terputus saat melihat ke atas bahwa Prilly telah pergi ke kamar nya. Ali menghela nafas panjang kemudian menghampiri Brian.

"Lo apain adek gue?" Tanya Brian sengit membuat Ali juga ikut ikutan sengit.

"Ka-"

"Ayo Li kita berangkat sekarang," potong Prilly seraya berjalan ke arah Ali dan Brian. Brian pun menghela nafas kemudian menghampiri Prilly dan Ali. " Jagain adek gue, kalo dia lecet sedikit gue abisin lo, Li" Kata Brian sinis sambil memasang wajah sedikit datar.

***

Sunyi seperti di kuburan, begitu lah situasi yang di alami Prilly dan Ali. Dua dua nya sama-sama diam, dua dua nya sama sama bersikap bodo amat padahal dalam hati mereka sama-sama saling menyayangi. Oh no mungkin Ali tidak benar-benar sayang dengan Prilly.

Satu menit berlalu, dua menit dan seterus nya. Tiba tiba Ali memulai sebuah pembicaraan ringan. "Pril gue mau minta maaf.."

Prilly tersenyum miris kemudian membuang wajah nya, "Ga ada yang perlu di maafi, karna lo ga ada salah sama gue."

"Ada."

Air mata Prilly menetes, satu demi satu kemudian membanjiri pipi Prilly. Ia terisak pelan, lalu menghapus air mata itu kasar. "A-a-pa l-Li?" Ucap Prilly terbata, ia menahan isak tangis itu.

"Gue kemarin udah ngusir lo. Gue ngerasa gue kemarin terlalu kasar sama lo. Gue minta maaf. "

"Udah ga usah minta maaf, haha" Prilly tertawa walau hati nya sakit. "Semua nya udah berlalu, yang berlalu biarlah berlalu. Karna kalau masih di ingat juga malah menimbulkan rasa sakit baru,"

"Ma-"

"Li? Gue sayang lo, jangan bikin gue jadi ilfeel cuma gara-gara lo minta maaf terus."

"Oke"

Sesampai di sekolah, Prilly dan Ali masih diam, Ali menghela nafas lalu menggenggam tangan Prilly. Prilly tersentak kemudian menoleh ke arah Ali, "Paansih," Prilly melepaskan genggaman itu lalu berlari kecil menuju kelas nya. Ali menghela nafas panjang kemudian berjalan, semua orang tertuju kepada Ali namun Ali hanya membalas dengan tatapan tajam dan dingin nya.

"Adinda Arifah Caca!! " Teriak Prilly menggelegar. Yang di panggil langsung menoleh dan berdecak, "Ck, bisa ga sih sehari aja ga usah teriak Pril?" Kata Arifah sebal. Prilly hanya membalas dengan cengiran khas nya dan langsung duduk di sebelah Caca.

BR[OK]EN HEART [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang