"Turut berduka buat nyokap kandung dan kakek lo." Vio prihatin.
Bagas mengangguk. "Bukan masalah."
"Tapi, gimana lo tau semua itu?"
Cowok itu menatap Vio dengan alis terangkat satu. "Nenek gue ngasih surat yang nyokap tulis setelah kakek meninggal. Mungkin emang gue berhak tau semuanya. Dan gue nanya detailnya ke nenek."
Vio mengangguk tiga kali, tanda ia paham. Kemudian Bagas kembali berucap, "Semua keluarga memang punya masalahnya sendiri, kan?"
Wajah Vio kini dirundung sedih. "Tapi gue kadang desperate sama keadaan gue. Kayak, gue emang ditakdirkan seperti ini?"
Bagas menatapnya bingung. "Terus lo mau hidup yang kayak gimana dong? Yang selalu bahagia sampe akhir nanti?"
Vio mengangkat bahu, lalu meminum pesanannya yang sedari tadi ia anggurkan.
"Lo bukan manusia kalo lo belum dikasih ujian. Tuhan tau kemampuan lo, makanya Dia ngasih lo ujian hidup. Tujuannya buat memperkuat diri lo, dan mau ngeliat, apa hamba-Nya akan mengeluh aja waktu dikasih ujian atau malah mendekatkan diri pada-Nya?"
Vio kembali menatap Bagas serius. Kemudian bergumam, "Mungkin emang gue kurang bersyukur, ya."
Namun gumaman itu terdengar oleh Bagas, mengingat café-nya sepi.
"Ngeluh itu boleh, itu manusiawi, kok, tapi imbangi sama bersyukur. Kurangi ngeluh, perbanyak bersyukur."
Vio mengangguk setuju. Namun, sedetik kemudian ia tertawa kecil.
"Kenapa dah?"
"Lo kok tiba-tiba bijak begini, Gas?"
"Gini-gini gue bisa jadi orang yang serius, tau. Nggak cuman ngejayus doang di kelas kayak pas SMA."
Vio tertawa lagi. "Iya, beda deh yang udah jadi mahasiswa."
KAMU SEDANG MEMBACA
Elegi dalam Rumah ✔
ContoOh! Aku menyesal telah menulis di tempat umum dan teledor meninggalkan buku di tempat itu. Jadi aku harus bertemu dia lagi. Iya, dia, Gaizka Bagaskara. Mantan gebetanku. Copyright ©2017 by snh-tata
