Ten years later.
Benar kata orang,tidak selamanya aku hanya menjadi anak kecil yang tidak tau apa-apa,sekarang aku sudah menginjak usia tujuh belas tahun,aku sudah dewasa.
Ini tepat sepuluh tahun semenjak kepindahanku dari Holmes Chapel,kepindahan yang menyisakan rasa rindu yang amat teramat untuk sahabat kecilku,Harry.
Aku masih ingat benar ketika kami pertama kali bertemu,bermain,bagaimana cara dia melindungiku,memberiku kejutan,bagaimana saat dia sedih,menangis bahkan marah,memori itu seakan terekam manis diingatanku tidak akan pernah hilang.
Ini tahun terakhir aku berada di senior high school,dan baru kemaren aku lulus dari sekolah.Menyebalkan entah kenapa aku susah sekali berteman,aku hanya mempunyai satu teman dan itupun tidak terlalu dekat,sepertinya aku memang anti sosial kelas berat.
"bagaimana?kau mau melanjutkan kemana?" tanya Dad di pagi yang cerah,suasana kota LA terlihat sangat asri hari ini entah kenapa."ingat pesan Mum?kalau kau mau kau bisa kembali ke London"
Aku menoleh ke arah Dad,dan kembali memandang langit biru.Sudah setahun Mum meninggalkanku dan Dad pergi gara-gara tabrakan hari itu,ugh aku tidak mau mengingatnya lagi itu malah membuatku menjadi lemah.
"Aku akan fikirkan lagi dad," ucapku tersenyum."dad tidak bekerja?"
"mungkin agak siang," Dad terkekeh."Dad baru pulang masa kau sudah menyuruh Dad bekerja lagi?"
aku tertawa,"I'm just Joking dad"
"Baiklah Dad istirahat dulu ya," pamit Dad."bye Love"
"Bye,"
Aku menyalakan televisi di hadapanku,sudah berpuluh-puluh kali aku menyalakan dan menghidupkan televisi tapi tidak ada satupun acara yang menarik perhatianku,entah kenapa.Aku tersenyum ketika melihat sebuah acara entertaiment yang menayangkan tentang boyband yang sedang naik daun,One Direction.
One Direction terdiri dari lima anggota,antara Niall si pirang imut,Zayn badboy dari bradford,Liam yang penuh wibawa,Louis yang konyol tapi berkarisma,dan yang terakhir curly brown hair with emeradl green eyes,Harry edwars Styles.
Dia sudah sangat berubah dari yang dulu,hanya senyum dan tatapannnya yang tidak pernah berubah.Dia tinggi sangat tingga tidak seperti dulu,wajahnya pun tampan,giginya yang kelinci tak pernah berubah,dimplesnyapun juga tidak pernah berubah.
apa lebih baik aku pindah ke London saja ya?tapi apakah Harry masih tetap Harry yang dulu?apa dia masih mengenaliku?atau jangan-jangan Harry akan melupakanku?aku jadi was-was sendiri.
Apapun yang akan kuhadapi nanti,yah lihat saja nanti.Lol
--
Suasana musim semi di kota London menyambutku,ini kali kedua aku kembali ke London,setelah berfikir yah kurang lebih selama seminggu,akhirnya aku kembali juga ke kota ini,tapi aku tidak akan tinggal di Holmes Chapel lagi,aku akan tinggal di London,sekalian untuk melanjutkan kuliahku yang akan mulai kurang lebih satu bulan.
Aku melangkahkan kaki menuju apartement baruku yang terletak di pusat kota London,berjalan kaki di semi sore London sangat menyenangkan dan tentu saja indah,banyak orang memandangku heran dengan koperku yang super besar,ugh aku jadi tidak pede sama sekali,calm your self Jo.
Jalan raya pun sepi jarang sekali ada mobil lewat,maka dari itu aku langsung menyebrang untuk membeli satu coklat panas tanpa menoleh ke kanan-atau ke kiri dulu,toh fikiranku tidak akan ada mobil yang tiba-tiba menyebrang,benarkan?
TINT!
holy crap! kenapa dugaanku bisa salah seperti ini ya? dengan raut wajah bodoh aku menutup mata dan berharap mobil itu tidak menabrakku,bagaimanapun aku masih banyak dosa,masa aku sudah mau kembali kepangkuan Tuhan,kan tidak lucu sama sekali.
"Bodoh!" aku mendengar umpatan sang pemilik mobil,dari suaranya yang sangat serak sih aku bisa menduga kalau dia itu lelaki,atau lebih tepatnya pemuda."kau mau mati ya!"
Aku membuka mataku perlahan lalu menghela nafas sejenak,bersyukur tidak jadi mati hari ini.Sang pemilik mobil keluar,aku memandangnya dari atas hingga ke bawah,lalu kembali lagi dari atas sampai kebawah,apa aku salah lihat ya?
"harry?"
Dia menatapku heran,"kau fansku ya?"
aku memutar mataku,"Aku Jocelyn,kau sudah lupa ya denganku?"
Wajahnya yang semula sangat menyebalkan tiba-tiba berubah menjadi terkejut tetapi hanya sebentar lalu dia menatapku dengan tatapan sinis dan tajam,"Aku tidak pernah kenal dengan Jocelyn"
Aku memandangnya heran,maksud dia apa?
"lebih baik kau minggir," sahutnya dingin."aku harus pulang"
"but," Aku menahan tangannya,dan langsung ditepisnya begitu saja."ak-aku mau mengembalikan kalung ini"
Harry menatap kalung yang baru kucopot dari leherku,sama seperti tadi ekspresi awal yang terkejut dan di akhiri dengan ekspresi dingin dan datar,"ambil saja aku tidak butuh"
kenapa dia berubah?
"Dan," dia melempar kalungku-dulu ke tanah dan langsung kembali kembali ke mobilnya begitu saja.
Harry berubah.He is hurting me.
TINT.. TINT
Dia mengklakson mobilnya dengan keras,membuatku tersadar dari fikiranku,aku merunduk dan mengambil kalung yang Harry lemparkan lalu berjalan menjauh,mobil Harry langsung berlalu dengan cepatnya.
seketika keinginanku yang awalnya ingin membeli coklat panas,hilang sudah.
--
Aku sampai di apartementku,kamarku berada di lantai tiga cukup bagus jadi aku bisa menikmati suasan kota London dengan tenang,setelah mengatur barang-barang dan pergi mandi,aku berdiri di balkon apartement sambil memandangi kota London yang terang benderang.
Ku torehkan kepalaku ke langit,indah bintang bertebaran di mana-mana,ingatanku kembali ke masa lalu,dulu aku sering sekali berlomba menghitung bintang bersama Harry sampai kami berdua tertidur,bodoh itukan dulu Jo.
"uhm sorry?"
Aku menoleh kaget mendapati wanita dengan wajah asia sudah berdiri di hadapnku dengan senyum malu-malunya,aku membalas senyumnya sambil mendekat.
"ada apa?"
"aku ingin meminjam kamar mandimu," ucapnya dengan wajah yang sedikit memerah."kamar mandiku rusak"
aku mengangguk lalu membukakan pintu kamarku,huft aku memang terlalu cuek pantas saja tidak ada yang mau berteman denganku.
"thank you," ucapnya lalu berlari ke arah kamar mandiku dengan kecepatan menakjubkan aku terkekeh geli lalu kembali bersandar pada pagar balkon,mengingat kejadian sore tadi benar-benar membuatku sakit hati,apakah dengan kembalinya aku ke London ini hanya sia-sia ya?
Aku meraba leherku,leher yang diberi Harry sepuluh tahu lalu masih aku pakai dan selalu kurawat,tidak pernah kulepas-hanya pada saat tertentu aku melepasnya,ku jaga dengan baik,tapi kenapa aku malah mendapat balasan seperti ini ya?kalau memang dia malu mengakui sebagai teman gara-gara dia sudah menjadi artis tenar,tidak usahlah dia memperlakukanku seperti gembel.
"hei," aku kembali menoleh dan wanita asia itu sudah berdiri di sampingku."terimakasih ya atas pinjaman kamar mandinya"
aku mengangguk sambil tersenyum sedikit.
"Aku Rachel,dan kau?"
"jocelny,"
dan pada akhirnya aku mempunyai teman juga.
HAI INI CHAPTER BERAPA YA?OH YA ENAM HOPE U ARE ENJOYING WITH THIS PART AND GIMME COMMENT AND VOTE,kritik dan saran di butuhkan terimakasih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Say 'Goodbye' ; completed
FanfictionAku; peri kecil yang menyedihkan. Dia; pahlawan masa kecil milikku. Aku dan dia memiliki kesamaan, sama-sama tidak ingin tumbuh dewasa. Copyright 2014 I had been inspired by an amazing novel called Goodbye Happiness by Arini Putri.
