This chapter dedicated for two my awesome fans lol no for my awesome readers and my favorite authors,Novitasari03 and uhm *lupa nama wattpadnya* *check dulu* who_Iam_styles.
entah kenapa pengen nyuruh kalian denger lagu Momentsnya One Direction,so be4 ur reading this fan fiction nyalain lagunya baru baca,di repeat yoaaa :) atau apa aja deh yang penting playlist galau :P.
"Satuu....duaaaa...tigaaaa," hitungan Harry sengaja di lambat-lambatkan aku tahu sangat tahu,ah aku lupa diakan memang berbicara lambat dan lemot,haha.
"Ah!" tiba-tiba dia berbalik badan dan menarik tanganku yang baru mau bersembunyi."aku malas bermain petak umpet tidak asyik!"
"Asik kok," ucapku kesal,baru saja mau bersembunyi sudah tertangkap."ayolah hitung lagi Harry"
"Tidak,"
"Iya!"
"Tidakkkk,"
"Iya!"
"Bagaimana kalau kita membeli gulali saja?" tawarnya."kali ini aku yang membelikanmu"
"Ugh aku saja yang membelikanmu,bagaimana?" tawarku balik,dia menatapku gemas lalu menarik hidung,selalu seperti itu.
"Baiklah kalau kau memaksaku,aku tidak akan keberatan,ayok!" Harry menarikku ke arah penjual gulali yang kebetulan sedang berhenti di antara rumah kami berdua."uncle aku ingin membeli gulali dua"
"Apa rasa yang kau inginkan?" tanya penjual gulali.
"Aku ingin coklat," Harry menatapku."dan kau apa?"
"Stroberi saja," ucapku,penjual gulali itu mengangguk dan mulai membuat gulali aku dan Harry sama-sama memperhatikan cara membuat gulali tersebut,kalau aku tidak salah sih sepertinya Harry mau menjadi penjual gulali nantinya,haha.
"Nih," Penjual gulali itu memberikan kepada kami berdua,lalu menyebutkan harga yang harus di bayar,aku mengambil uang dari kantong celanaku lalu berlalu pergi bersama Harry yang gulalinya tinggal setengah."cepat sekali kau makan"
"Aku lapar sekali Jo," sahutnya dengan wajah acuh."mum tidak mau memberiku makan"
"Akan kuadukan kau pada Aunty Anne," ancamku sambil terkekeh,Harry melirikku sekilas lalu ikut terkekeh,aneh sekali kan Harry?
"Aku pusing Jo," ucap Harry sambil menatap rumahnya yang tepat berada di depan rumahku dengan wajah sedih."kedua orang tuaku sering sekali bertengkar"
"Benarkah?" tanyaku sambil menatapnya."kenapa?"
"Tidak tahu," Harry mengendikkan bahu."kalau aku dengar sih gara-gara Dad terlalu sibuk bekerja"
Harry menundukkan kepalanya,aku mengusap-ngusap punggungnya pela,"everything will be okay,Harry"
"semalam ketika aku tidur," Harry kembali bercerita."aku mendengar suara ribut-ribut di bawah,aku mendengar suara Mum yang menangis dan suara Dad yang terdengar marah,lalu Mum bilang 'lebih baik kita cerai saja' aku tidak tau apa itu cerai Jo,tapi tadi malam aku menangis"
sebenarnya aku tidak tahu juga cerai itu apa,"sudahlah Harry,orang tuamu akan baik-baik saja aku akan selalu di sampingmu untuk menemanimu,tidak akan pernah meninggalkanmu"
"apa kau yakin?" tanya Harry sambil memandangiku."bagaimana kalau suatu saat kau malah pergi meninggalkanku?"
"never," aku menggeleng sambil tersenyum."lagi pula kalau kita terpisah kitakan mempunyai kontak batin haha,kita pasti bisa sama-sama menemukan"
berbeda,kali ini Harry tidak tertawa,dia malah terdiam sambil memandang kebawah,"aku tidak ingin kita berpisah Jo"
Suaranya terdengar parau,apakah dia menangis?
KAMU SEDANG MEMBACA
Say 'Goodbye' ; completed
Fiksi PenggemarAku; peri kecil yang menyedihkan. Dia; pahlawan masa kecil milikku. Aku dan dia memiliki kesamaan, sama-sama tidak ingin tumbuh dewasa. Copyright 2014 I had been inspired by an amazing novel called Goodbye Happiness by Arini Putri.
