Goodbye, Harry

2.4K 269 17
                                        

Aku terbangun dengan keringat membasahi pelipis dan sekujur badanku,padahal suasana sedang dingin-dinginnya.Aku meraba meja nakas yang berada di sebelah tempat tidurku,tak sengaja tanganku menyenggol sebuah gelas,dan gelas itu jatuh begitu saja.

Aku yang panik langsung turun dan tanpa sepengadalianku kakiku menginjak pecahan kaca yang membuatku menjerit dan menghasilkan rasa perih yang luar biasa pada kakiku,tak perlu mata batinpun aku tahu kakiku sudah berdarah banyak.

"Jo-jocelyn?" syukurlah Rachel datang."oh Tuhan kakimu.."

"Ti-tidak apa," aku menggeleng sambil berusaha berdiri,itu malah membuat kakiku tanpa sakit.

"tahan sebentar aku akan mengambilkan obat untukmu," Rachel berpesan."jangan bergerak,nanti tanganmu lagi yang terkena pecahan kaca"

"Tahan sedikit ya Jo," sebuah kapas mendarat di kakiku,aduh perih sekali kalian tahu pasti rasanya jadi aku tidak perlu lagi memberi tahu."sebentar lagi,akan kuberi perban"

Aku mengangguk dan menggigit bibirku agar tidak menjerit,setelah Rachel memperban kakiku dia memberishkan bekas pecahan gelas di dekat tempat tidurku sementara aku terdiam memegangi kakiku yang sangat perih.

"kau kenapa?" suara Virlie yang muncul tiba-tiba memasuki indra pendengaranku."kenapa dengan kakimu?"

"jangan banya bertanya kenapa sih Vir?" tanya Rachel jengkel."sudah tahu berdarah masih bertanya saja"

"kenapa sih kau?" tanya Virlie heran."jutek sekali"

"sudah tidak usah berkelahi," selaku pelan."kenapa kalian jadi bertengkar?kalian sedang marahan?"

"tidak Jo," Rachel menggeleng."coba ceritakan kepadaku kenapa gelas itu bisa terjatuh dan mengenai kakimu?"

"aku bermimpi buruk," jawabku sekenanya

"oh.." Virlie dan Rachel sama-sama mengerti aku tidak ingin menceritakannya."kau mau kita temani atau sendiri saja?"

"sendiri saja," aku mengangguk."I'm okay,cuma tadi aku hanya terkaget saja"

"baiklah," Virlie terkekeh kecil."kaget sampai terkena pecahan kaca seperti itu,hebat memang kau Jo.Aku ke sebelah dulu ya?"

"aku juga," Rachel ikut pamit."panggil saja aku jika kau butuh bantuan,jangan melakukan hal-hal aneh ya?"

Aku mengangguk,lalu kudengar pintu apartementku di tutup perlahan.Aku menghela nafas berat sudah satu bulan terakhir ini tidak ada kabar dari Edward dia menghilang begitu saja,seperti di telan bumi.

Aku benar-benar merindukan sosoknya sekarang,dia seperti menggeser posisi Harry dalam hatiku,dia pemenangnya,dia yang sekarang mendapatkan hatiku,kenapa sekarang dia yang harus pergi lagi?meninggalkanku sendirian lagi?kenapa?

--

Harry mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi,rasa bersalah yang terlalu dalam sekarang menghantam batinnya membuatnya tidak tenang,sudah dua kesalahan yang ia buat dan kesalahan itu benar-benar fatal.

Berbohong-berbohong dan berbohong,itulah yang terus di lakukan Harry akhir-akhir ini,dia selalu uring-uringan dan selalu mendapat teguran dari management karena menurut managemant sikap Harry benar-benar tidak profesional.

Ponsel pada dashbor Harry berdering nyaring,Harry merampasnya kasar dan melihat nama yang tertera pada layar handphone,dengan setengah hati mengangkat telfon tersebut,sekarang fokusannya terbagi antara telfon dan jalanan di hadapannya,belum lagi uncle Si yang menelfonya sambil marah-marah menanyakan bagaimana keadaanya.

Sebuah truk besar berwarna putih pengangkut kayu datang dari arah berlawanan dengan kecepatan tak kalah tingginya dari mobil Harry,sang pengemudi tampak agak sedikit teler karena terlalu banyak minum soda.

Say 'Goodbye' ; completedCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang