Perhatian !!
Part 14 saya private dulu..
Jangan lupa bernafas...!!
#######
Tiga hari berlalu setelah kejadian di toilet sekolah yang sudah membuat Luky terhina dan dilecehkan. Tiga hari pula Luky mengurung diri di dalam kamar, meninggalkan pelajarannya di sekolah dan ia juga tidak menceritakan kejadian apa yang ia alami belakangan ini kepada siapapun bahkan orang tuanya pun tidak tahu akan hal ini.
Di sekolah, Paksi juga bungkam tidak mengungkit-ngungkit kejadian hari itu dan memilih diam atas pertanyaan teman-temannya akan luka-luka lebam di dahi, sikut, dan ujung bibir kirinya yang sedikit terluka. Tidak menceritakan apa yang telah terjadi padanya dan pada Luky atas perbuatan Teo dan teman-temannya. Bukan ancaman akan dirinya yang Teo tekankan pada Paksi, namun ia mengancam akan lebih menyiksa Luky lebih parah jika hal ini dilaporkan pada pihak sekolah. Paksi tak bisa berbuat apa-apa, sejak kejadian itu Paksi selalu mendatangi kelas tempat di mana Luky belajar. Namun, sudah empat hari ini pula ia tidak ada kabar. Bahkan surat keterangan sakit pun tak ada.
Hari demi hari berlalu, minggu pun berganti. Hingga hari ini, sudah mau masuk minggu ketiga Paksi belum mengetahui kabar dari Luky yang tak kunjung ia temui di sekolah. Selama ini ia bukan tidak mau mencari kabar dengan mendatangi langsung ke rumahnya. Ia terlalu disubukkan dengan kegiatan OSIS dan pencalonan dirinya dalam pemilihan ketua OSIS. Kebetulan, hari ini tidak ada jadwal rapat OSIS dan kegiatan organisasi lainnya, jadi Paksi memutuskan untuk berkunjung ke rumah Luky setelah pulang sekolah.
.
"Permisi.." Ucap Paksi untuk memanggil yang punya rumah.
Beberapa kali salam Luky ucapkan dan ketukan pintupun Paksi lakukan. Lama, tak ada jawaban dari dalam. Namun Paksi terus mencoba, mengetuk lagi dan lagi. Sampai, beberapa saat terdengar suara kunci pintu dibuka.
"Permisi bu. Maaf ganggu ibu. Tapi, ada yang mau saya tanyakan pada ibu." Ucap Paksi langsung berbicara sesaat setelah pintu dibuka oleh ibunya Luky.
"Ada perlu apa ya nak, Paksi. Tumben sore-sore kemari. Ayo silahkan masuk."
Paksi pun masuk ke dalam rumah hangat Luky. Duduk di kursi ruang tamu setelah ibunya Luky mempersilahkannya untuk duduk.
"Gini loh bu. Saya mau tanya soal Luky." Pasi menarik nafas dalam.
"Kenapa ya bu, sudah tiga minggu ini Luky tidak ada di sekolah. Dia sakit atau gimana ya ?" Tanya Paksi membuka pembicaraan.
Sedikit menarik nafas sebelum Ibunya Luky menjawab pertanyaan Paksi, "Ibu minta maaf sebelumnya nak Paksi, ibu tidak memberi tahu kamu. Sedangkan kamu kan yang biasa selalu bersama-sama dengan anak ibu. Tapi belakangan ini yang ibu lihat dari Luky ia suka mengurung diri di dalam kamar. Luky tidak pernah menceritakan apa yang sedang terjadi padanya, walaupun ibu dan bapaknya Luky sudah beberapa kali menanyakan apa yang sedang dialaminya." Ibunya Luky menunduk. Seperti ada beban dalam setiap kalimat yang ia ucapkan.
"Lalu bu, Luky sekarang gimana ? Dia ada di kamarnya ?"
"Beberapa minggu yang lalu akhirnya Luky mau berbicara pada kami. Namun apa yang ia katakan sangat membuat kami terkejut."
"Apa yang Luky katakan pada Ibu ?"
"Ia tiba-tiba meminta pada kami bahwa Luky ingin tinggal di Medan, bersama neneknya di sana. Ia terus memaksa pada ibu. Jadi dengan berat hati ibu ijinkan, walau sedih memang berjauhan dengan anak ibu sendiri."
Paksi terkejut dengan apa yang sudah di katakan ibunya Luky barusan.
"Lalu bu, sekolah Luky ?" Tanya Paksi lagi.
"Ia meminta untuk pindah sekolahnya ke Medan. Jadi ibu mengurus segala administrasi surat perpindahannya Luky. Dan Luky juga meminta pada ibu, soal pindahnya dari sekolah sini ia tidak ingin ada siapa pun yang mengetahuinya, jadi ibu rahasiakan ini semua bahkan dari guru-guru di sekolahnya pun ibu larang untuk menceritakan ini kepada siapa pun."
"Lalu, kenapa ibu dan suami ibu gak ikut juga tinggal di Medan ?"
"Bapaknya Luky kerja di sini gak bisa berpindah-pindah. Jadi ibu juga gak bisa ninggalin suami ibu."
"Kapan Luky berangkat ke sana bu ?" Tanya Paksi memastikan.
"Sudah seminggu yang lalu Luky di sana."
"Sudah berangkat ?" Sesal Paksi tidak bisa lagi menemui Luky. "Oh iya bu. Nomor telepon Luky sulit di hubungi, apa dia ganti nomor telepon ? Saya sudah coba hubungi lewat BBM dan Whatsapp-nya Luky tapi gak aktif juga."
"Luky sempat bilang handphone-nya rusak dia minta beli yang baru. Mungkin sudah diganti juga nomornya saat dia beli handphone yang baru." Jelas ibu Luky.
"Hmmm...." Kembali Paksi menarik nafasnya dengan berat. "Mungkin Luky sudah memutuskan untuk menutup diri. Tolong sampaikan salam pada Luky ya bu. Aku harap Luky bisa menyelesaikan masalahnya dengan bijak. Sampaikan juga permintaan maaf Paksi ke Luky ya bu yang gak bisa berbuat apa-apa." Paksi kembali menundukkan kepalanya.
"Iya nak Paksi, Ibu harap juga begitu."
"Ya sudah kalau begitu bu. Paksi mau pulang dulu. Terimakasih sudah mau menceritakan ini pada Paksi." Ucap Paksi berpamitan pada ibunya Luky.
"Iya. Ibu berpesan nak Paksi jangan ceritakan ini pada teman-teman Luky di sekolah ya !" Perintah ibu Luky sebelum Luky beranjak dari tempat duduknya.
"Iya bu. Aku pamit ya bu." Paksi mencium tangan kanan ibunya Luky lalu kembali memakai sepatunya dan berjalan ke arah motornya yang diparkir di halaman rumah Luky.
Setelah Paksi mengendarai motornya beberapa meter meninggalkan rumah Luky lalu ibu Luky kembali ke dalam membereskan gelas-gelas yang ada di meja ruang tamu lalu membawanya ke dapur.
Tuk.. Tuk.. Tuk..
"Luky buka pintunya ! Makan dulu nih, ibu bawain makan." Ucap Ibunya Luky mengetuk pintu kamar anaknya sambil membawa makanan di atas nampan cokelat.
"Paksi sudah pulang kok. Cepat buka pintunya. Makan dulu nih, belum makan siang kamu nak."
Tak lama pintu dibuka dari dalam. "Dia sudah pulang bu ?" Tanya Luky memastikan pada ibunya setelah membuka pintu kamarnya. Tampak raut lelah terpasang di wajah Luky.
"Iya, dia sudah pulang. Ibu juga sudah bilang apa yang kamu suruh bilang padanya. Ibu terpaksa berbohong, demi kamu. Sekarang makan dulu." Ibu Luky menyodorkan nampan makanan pada Luky. Luky mengambilnya dan menaruhnya di atas meja nakas di samping tempat tidurnya.
"Terimakasih bu. Maaf sudah buat ibu untuk berbohong. Maaf," Luky memeluk ibunya dengan erat. "Terimakasih bu. Luky sayang ibu."
............................end flashbacK
.
TBC
.
#######
Terimakasih sudah tetap mengikuti cerita ini..
Semoga tetap terhibur..
Ditunggu bagian cerita selanjutnya ya..
KAMU SEDANG MEMBACA
Untuk Andi (Boyxboy)
Random@@@_Bagian 14 saya private, jadi follow dulu baru bisa kebuka.._@@@ Sebuah cerita cinta sederhana yang tumbuh dalam sebuah naungan ikatan organisasi. Ini cerita bertema L(G)BT jadi yang gak suka sama cerita tema LGBT jauh jauh aja. Hehehe.. Dan sat...
