Los Angeles
Disebuah mansion mewah, seorang lelaki terlihat 'menyeka' keringat yang bercucuran diwajahnya sehabis berolahraga diruang Gym pribadinya.
"Mom??" teriaknya
"Apa sayang? Mom sedang masak"
Terdengar suara wanita menyahuti dari arah dapur
Ibunya memang sangat hobby memasak. Walaupun memiliki puluhan maid, tapi ia lebih memilih memasak sendiri untuk keluarganya. Karena prinsipnya:
'keluarga yang bahagia akan didapatkan dari makanan yang dibuat dengan penuh Kasih sayang oleh tangan seorang ibu'
"Baiklah"
Kemudian ia berlalu menaiki tangga menuju kamarnya.
Sang wanita yang dipanggil 'mom' hanya menggelengkan kepala, anaknya memang kadang bertingka aneh.
Tidak lama sang Putra menuruni tangga dengan pakaian santai, 'kaos putih pas badan yang membungkus tubuh tegap berototnya serta celana Jeans biru dongker', ia bersiap kesuatu tempat.
"Aku berangkat, Mom"
Sambil mencium kedua pipi Momnya
"Mau kemana, Varo?"
"Bertemu calon menantumu, mom"
Ia berlalu sambil menyengir kearah momnya.
Ia berjalan menuju garasi menampilkan deretan mobil koleksinya. Mulai dari Bugatti, Ferrari, Lamborgini sampai mobil legendaris Aston martin berjejer rapi di garasi mansion utama keluarga 'Morata'.
Setelah menimbang-nimbang pilihannya jatuh pada 'Ferrari metalik' yang baru dibelinya beberapa Bulan lalu, ia mengeluarkan Supercarnya dari pekarangan mansion kemudian menghilang ditelan jalanan.
Pria yang dipanggil Varo atau yang lebih dikenal dengan nama 'Alvaro Davin' memacu ferrarinya membelah jalanan LA menuju sebuah apartemen mewah yang dia berikan untuk 'kekasihnya' sebagai hadiah ulang tahun. tempat dimana pujaan hatinya berada.
Tidak tanggung-tanggung ia bahkan membelikan sebuah minicooper sebagai hadiah untuk kekasihnya yang saat itu sedang 'merajuk' karena melarang Dave pergi yang saat itu akan melakukan perjalanan bisnis ke Indonesia.
'Sedangkan dibelahan bumi lain seorang wanita sedang berjuang untuk kelangsungan hidupnya dan sebuah titik kecil didalam perutnya'
Ditengah perjalanan ia menurunkan kecepatan mobilnya karena melihat kemacetan yang disebabkan oleh sebuah kecelakaan mobil beruntun "shit! Aku harus segera sampai, bodoh"
Sebagai seorang pria normal yang beberapa Bulan ini tidak mendapatkan jatah merupakan sebuah siksaan terberat apalagi saat membayangkan tubuh seksi kekasihnya Stella. Membayangkannya membuat selangkangannya berdenyut.
Ia hanya butuh pelepasan kepada kekasih tercintanya. walaupun dia sempat melakukannya dengan seorang gadis yang tidak dikenalinya saat perjalanan bisnisnya kemarin, ia juga tidak memungkiri bahwa ia sangat menikmati percintaan satu malam itu.
'Tapi, toh aku sudah memberikannya uang, walaupun dia masih perawan saat pertama kali aku menyentuhnya, tapi yah, pasti dia salah satu wanita penghibur baru di club, mana ada wanita baik-baik datang ke club sendirian dan bahkan dalam keadaan mabuk '
Drrtttt.. Drrttt..
Handphone disaku jeansnya bergetar menandakan sebuah 'panggilan masuk'
"Halo, sayang"
'Dave, kamu udah sampai?
"Masih dijalan macet, honey. "
'Oke. hati-hati, sayang'
Sambunganpun diputus
Ia melanjutkan memacu Super Carnya. Setelah kemacetan yang menjadi biang masalah telah terurai.
Sepanjang jalan dave membayangkan pertemuannya dengan kekasihnya yang beberapa Bulan ini menjalani Ldr karena kepergian dave mengurus perusahaanya di Indonesia sekaligus reuni dengan para sahabatnya- para Ceo" Hot
Dave memasuki basemen apartemen kekasinya. Memarkirkan mobilnya diantara mobil-mobil mahal yang berjejer, kemudian menaiki lift menuju lantai dimana kamar stella berada.
Lift berdenting tanda lantai yang dituju telah sampai, dave sampai 'terji gkrak' karena Stella ternyata sudah menungghnya didepan pintu apartemen.
Tanpa ba-bi-bu Dave langsung memyerang bibir Stella dengan kasar, menyesap segala kerinduan seakan lupa bahwa sewaktu-waktu orang bisa menonton pertunjukan gratis mereka.
Ditempat lain
Seorang wanita terlihat memegangi perutnya yang kram akibat menaiki tangga 'kampus'.
Dia Nadelia, mahasiswi 'Kedokteran Gigi' semester akhir yang sebentar lagi akan mendapatkan gelar sarjana kedokterannya.
"Del tunggu" gadis itu memalingkan wajahnya.
Ternyata sahabatnya Loren yang berlari kearahnya sambil membawa sebuah kantung berisi susu kehamilan.
Sambil tersengal-sengal."huff.. Huff.. Ini susumu, bumil cantik. Rajin minum yah"
Adelia merasa terharu sahabatnya sangat perhatian tanpa sadar sudut matanya mengeluarkan bulir bening.
"Adelia kenapa,,,? " panik loren dengan suara besar membahana.
Kebiasaan sahabatnya yang kadang membuat jengkel
"Tidak, aku cuma terharu. Anak papi bisa peduli juga dengan orang lain ternyata"
"Elleehh" Loren memutar mata sambil mencebikkan bibir.
Nadelia memberikan senyum terbaiknya kemudian menaikkan jari membentuk huruf 'V' di samping wajahnya.
"Yasudah aku duluan, dosenku mau masuk sepertinya, bye Del"
Loren berlari menuju gedung jurusannya berada, mereka bersahabat erat saking eratnya Loren menolak penawaran ayahnya untuk kuliah di luar negeri demi untuk bisa bersama Adelia, walaupun mereka beda jurusan. Mereka tetap menyempatkan untuk bertemu karena gedung kuliah yang bersebelahan.
'Adelia menggelengkan kepalanya'
"Ada-ada aja tante Loren yah, sayang"
Sambil mengusap perut ratanya.
Adelia mulai bisa menerima kenyataan bahwa ia sedang mengandung sebuah janin, entah hanya perasaan menerima atau mungkin dia mulai merasakan perasaan sayang seorang ibu kepada anaknya.
Tanpa terasa dia telah sampai disebuah ruang kelasnya, tempatnya menuntut ilmu.
04:00 pm
Adelia baru sampai di kontrakan mungilnya setelah berjam-jam menaiki angkutan umum menuju pinggir kota.
"Aku butuh mandi, sepertinya" seluruh badannya terasa remuk untung saja perutnya sudah tidak keram lagi, seandainya dia punya uang, dia sangat ingin menyewa apartemen tengah kota yang dekat dengan kampusnya.
Tapi apa daya untuk sehari-hari pun susah, dia harus banting tulang kesana kemari hanya untuk sekedar makan, dan tempat tinggal mungil yang pas untuk dirinya sendiri. Untung saja dia seorang mahasiswi yang berprestasi. Sehingga dia mendapat beasiswa masuk ke jurusan yang merupakan impian banyak orang.
Seandainya dia masih Nadelia yang dulu, mungkin ini sudah menjadi final untuk hidupnya, akhir perjuangannya karena sebentar lagi cita-citanya akan tercapai. Tapi ia sadar kehidupannya kedepan tidak akan sama lagi, ia telah memiliki tanggung jawab sebuah malaikat kecil yang harus dijaganya.
Ia sadar dia hanya sendiri, seorang single mom tanpa seorang suami. Bahkan, tanpa seorang keluargapun. Hanya janinnya ini.
"Baby, sehat terus yah nak"
Sambil mengusap lembut perutnya.
Tbc
**************
Disaat dave manja manjain stella dengan segala kemewahan, adelia malah menderita sendiri dengan segala permasalahan hidupnya. Jahat banget si dave
Oia,
Maaf kalau terdapat kesalahan penulisan, vote dan coment untuk kelanjutan Adelia
See ya
KAMU SEDANG MEMBACA
Adelia (2nightstand)
RomansaBerawal dari 'Cinta Satu Malam'. Membuatnya harus mengandung tanpa mengetahui sosok pria yang harus bertanggung jawab akan hal itu. Dan.. Apa jadinya jika hubungan itu berlanjut menjadi 'Cinta Dua Malam' tanpa dasar Cinta.? "Haruskah aku pergi ja...
