[Repost]
Narayana Pratiwi yang mendadak hidupnya seperti di negeri dongeng. Namun, tak selamanya hidup layaknya di dongeng itu indah.
Reinan Wiryawan, laki-laki sedikit bicara yang tiba-tiba meminta asistennya---Narayana Pratiwi untuk menjadi istri...
Reinan cemas. Ia gelisah tak menemukan Nara setelah jumpa pers berakhir. Ponsel Nara tidak aktif. Ia sudah berusaha menghubungi ibunya, tapi nihil. Nara tidak sedang berada di rumah ibunya. Deru napas Reinan semakin cepat seiring gelisah yang semakin menyeruak dibarengi dengan praduga yang tidak-tidak. Apa Nara pergi? Apa wanita itu meninggalkannya?
Reinan membanting setir mobil ke kanan dengan kasar. Sekelumit amarah mulai muncul saat dugaan Nara meninggalkannya terpikir. Mungkin ia perlu pulang terlebih dahulu, meluapkan emosi pada sansak yang tergantung di rumah. Jari Reinan tampak mencengkeram kuat setir mobil hingga buku-buku jarinya memutih.
Klakson ia tekan berulang-ulang, membuat Bi Lilis tergopoh membukakan pintu pagar. Rem mobil sport warna putih yang dikendalikan Reinan berdecit tepat memasuki garasi. Debuman pintu mobil terdengar memekakkan telinga. Belum lagi debuman pintu lain yang ia lewati.
Reinan hampir membanting pintu kamarnya saat ia menemukan sosok wanita yang ia cari duduk memeluk lutut di atas ranjang. Kamar mereka gelap, hanya ada sorot lampu temaram dari balkon kamar. Nara tampak terdiam dan tertunduk dengan penampilan kacau. Matanya sembab seperti habis menumpahkan air mata hingga kering. Hanya saja, Reinan merasa lebih lega saat ia menemukan Nara sudah di rumah.
"Ra," panggil Reinan seraya mendekat ke sisi ranjang. "Kamu ...."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Apa kamu mencintaiku?" Nara memotong perkataan Reinan.
Reinan terdiam, menatap ke arah Nara yang masih tertunduk. Ia masih tak mengerti kenapa istrinya bertanya demikian. Hal apa yang telah meracuni dirinya hingga ia tampak kacau begini?
"Kamu ini kenapa?"
"Jawab saja pertanyaanku. Apa kamu mencintaiku? Apa alasanmu menikahiku? Jawab saja, aku tidak mau membahas yang lain," desak Nara dengan suara serak.
"Karena aku tak mengerti arah pembicaran kita dalam kondisi kamu yang kacau begini." Reinan berbicara dengan sedikit penekanan. "Tenangkan saja dirimu dahulu, baru katakan apa yang terjadi. Setelah itu aku akan menjawabnya," imbuhnya sambil berlalu ke luar kamar.
"Karena kamu sedang berlindung di balik status pernikahan kita, iya, 'kan?" lanjut Nara.
Reinan berhenti di depan pintu. Ia menghela napas, memutar kenop pintu dan hendak meninggalkan Nara begitu saja.
"Kenapa kamu tidak pernah menyentuhku semenjak malam pertama kita sah menjadi suami istri? Karena kamu tidak tertarik padaku? Atau karena kamu tidak tertarik dengan perempuan?"
Reinan masih terdiam, menikmati jantungnya yang tiba-tiba memompa aliran darah lebih cepat. Ada gejolak yang membuat ia terusik. "Tarik kembali kata-katamu itu," pintanya tanpa berbalik sedikit pun.
"Kenapa tidak menjawab? Aku benar?" tantang Nara yang tengah mulai berani mendongakkan kepala. Matanya berkilat menatap punggung Reinan.
Emosi Reinan memuncak, ia benci pada setiap orang yang mengatakan dirinya seperti makhluk menjijikkan. Ia membanting pintu, mengunci kamar dan melempar kunci ke lantai. Semua gelap, segelap hati dan pikiran Reinan yang kalap. Ia tak peduli perbuatannya bisa melukai Nara atau tidak. Tak peduli seberapa kuat Nara meronta, sungguh ia tak peduli lagi. Persetan dengan jeritan Nara yang berusaha menyadarkan perbuatannya hampir mendekati nafsu belaka, meski tanpa cinta sekalipun.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
**
Tubuh Nara gemetar. Air matanya terus membeludak, tapi isakan tak lagi terdengar. Ia bahkan masih meringkuk duduk di ranjang seraya memeluk kedua lutut. Reinan berulang kali mendekat, tapi wanita itu terlalu takut. Ia terus menampik tangan Reinan yang hendak menyentuh dan membenarkan pakaian Nara yang tampak berantakan.
Entah mengapa bagi Nara, sejam yang lalu Reinan seperti bukan Reinan yang sesungguhnya. Amarah Reinan lebih menakutkan dari biasanya. Matanya penuh kebencian yang entah dari mana asalnya.
"Maaf," lirih Reinan seraya menyampirkan jaketnya di bahu Nara.
Laki-laki berambut berantakan dan kemeja berantakan itu tampak sama gemetarnya. Ia berlalu, meraih kunci kamar di lantai dan keluar begitu saja. Kali ini tangis Nara pecah. Haruskah ia membenci pernikahannya ini? Haruskah ia menyalahkan kebodohannya karena semula terlalu mudah menerima Reinan?
Nara bergelung, menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Tak peduli seisi rumah akan mendengar tangisan pilunya ini.
**
Embusan angin membelai rambut Reinan yang menjuntai berantakan di kening dan pelipisnya. Hawa dingin kawasan puncak tak membuatnya ingin membalut rapat tubuhnya. Ia membiarkan dingin menyelimuti tubuh, membiarkan dingin melebur kebencian dan amarah yang memanas beberapa jam ini.
Sebelah tangan yang menggenggam kaleng softdrink kosong meremas kaleng dengan kuat. Kemudian ia lempar sejauh mungkin ke lembah bukit. Pikirannya terlalu kacau untuk bisa berpikir jernih. Kebencian kembali terukir saat ia teringat Wiryawan. Laki-laki yang membuat kehidupannya kacau tak bersisa ketentraman barang sehari saja.
"Menikahlah, bila kamu memang tak sama dengan ibumu."
Perkataan Wiryawan dihari sebelum ia melamar Nara dengan tuntutan emosi itu kembali terngiang. Terlahir dari wanita penyuka sesama jenis tidaklah mudah. Wiryawan kerap mengekang karena ketakutan putranya akan memilih jalan yang sama dengan ibunya.
Entahlah, Reinan pun sebenarnya tak mengerti dengan dirinya. Semenjak ia melihat dengan mata kepala sendiri mamanya bercumbu dengan sesama wanita. Sejak ia mendengar dengan telinganya sendiri mamanya dan wanita berambut cepak itu saling membisikkan kata mesra saat berduaan. Semenjak saat itu, Reinan kerap jijik bila melihat wanita. Ia terlalu takut wanita di sekelilingnya sama dengan mamanya. Hingga ia memilih untuk tidak lagi berhubungan dengan makhluk bernama wanita kecuali dalam hal tuntutan pekerjaan. Menutup rapat hatinya dari wanita. Bahkan ia sempat berjanji untuk tak akan menikah saja.
Belum lagi kelakuan Wiryawan yang kerap menggandeng perempuan lain. Ia masih ingat bagaimana Wiryawan menggandeng wanita yang lebih pantas disandang sebagai anaknya. Citra perempuan di mata Reinan semakin memburuk. Baginya, semua wanita sama murahan dan jalangnya dengan mereka yang mengobral harga dirinya pada setiap laki-laki.
Reinan mengembuskan napas perlahan, merebahkan tubuh di atas kap mobil. Menatap langit gelap tengah malam. Ia sekarang teringat Nara. Bencikah Nara padanya sekarang?
Wanita bermata lebar yang terus berada di sampingnya. Memikirkan segala keperluannya sedetail mungkin. Merapikan pakaian, mengusap dan menepuk bahunya saat akan melakukan pemotretan. Dan akan terus bekerja padanya meski berulang kali tuannya mengancam potong gaji.
Bagi Reinan, Narayana Pratiwi adalah wanita yang berbeda. Citra dari Nara selalu membawa hal yang menyenangkan dan baik. Bukan wanita yang mudah mengobral cinta dan menjalin hubungan dengan laki-laki tanpa status yang jelas. Bahkan ia lebih memilih menerima laki-laki yang mau menikahinya. Semua tentang Nara, sangat berbeda.