Sembilan Belas

5.1K 248 45
                                        

Reinan membenarkan posisi selimut Nara. Nara masih tertidur pagi ini dan sepertinya akan bangun lebih siang dari biasanya. Tengah malam Nara terbawa mimpi buruk, ia sempat histeris dan membuat Reinan terbangun. Kemudian susah payah menenangkan Nara yang mendadak ketakutan teringat Reno.

"Reinan! Rei ...!" Suara Lusi terdengar memekakkan telinga dari lantai bawah.

Reinan mendesah malas. Kali ini pasti Lusi akan mengomel tanpa jeda. Reinan sempat mengusap lembut kepala Nara sebelum ia beranjak menghampiri Lusi. Sungguh, jika diizinkan ia ingin sekali menyumpal mulut Lusi yang tak menghentikan teriakannya sebelum Reinan turun.

"Rei!" teriaknya lagi.

"Kecilkan suaramu. Nara baru tertidur dini hari tadi," sergah Reinan.

Lusi tak langsung duduk tenang. Reinan benar bahwa Lusi akan menyemburnya dengan berbagai omelan yang panjang lebar.

"Aku tidak peduli, Rei! Kamu harus meminta maaf pada para wartawan saat jumpa pers nanti. Kamu kelewat batas sampai melakukan penyerangan pada wartawan. Dan lagi, apa kamu tahu bahwa Reno masuk rumah sakit karena ulahmu! Ulahmu, Rei! Camkan itu! Ulahmu!" sembur Lusi tanpa mengecilkan suaranya. "Dan lihat, wajahmu terluka begini karena berkelahi, sementara kamu sedang ada job syuting! Seorang artis harus menjaga wajahnya agar tidak ada lecet atau bahkan cacat! Semua ini karena kebodohanmu!" Lusi semakin garang, telunjuknya menunjuk-nunjuk wajah Reinan dengan kesal.

Setelah Lusi puas bicara, ia menghempaskan tubuh ke sofa. Kedua tangannya memijit pelipis sembari mengerang frustrasi. Reinan pun sama menghempaskan tubuh ke sofa.

"Lalu bagaimana dengan Nara? Apa kamu tidak memikirkan musibah yang dia alami kemarin karena ulah kita? Membuat publik melabeli Nara sebagai wanita rendah yang sedang mencari ketenaran dengan menebar sensasi."

Lusi mendongak, menatap Reinan dengan gelengan kepala tak mengerti. "Jangan sok suci, Rei! Dalam dunia hiburan bukannya sudah biasa dilakukan, hah? Menyembunyikan status pernikahan bahkan sampai menyembunyikan keberadaan anak demi meraih ketenaran! Bukannya dari awal Nara juga sudah setuju!"

Reinan bungkam. Pikiran yang ada di kepalanya sedang kacau. Ia lebih memilih diam demi menahan emosi agar tidak memuncak. Salah-salah bila ia tak sanggup menahan amarah mungkin Lusi bisa saja terkena pukulannya.

Lusi bangkit dari duduk sembari menyetel posisi kacamata di pangkal hidung. "Aku tunggu di jumpa pers besok. Gunakan waktumu semalam ini untuk berpikir."

Reinan mengembuskan napas kasar, melempar bantal sofa sembarang arah. Sejenak mengusap wajah dengan kedua telapak tangan.


**

Angin malam berembus melalui pintu balkon kamar yang terbuka. Lampu kamar sudah Nara matikan. Ia belum bisa memejamkan mata melihat Reinan masih duduk termenung di balkon. Nara tahu Reinan pasti sakit kepala memikirkan pekerjaannya yang mulai berantakan.

Beberapa rumah produksi sudah memutuskan hubungan kerja, ada juga yang membatalkan menggunakan Reinan sebagai model untuk cover majalah atau iklan. Semua terjadi setelah berita Reno berdusta di depan wartawan bahwa Reinan main pukul tanpa sebab di saat ia sedang melakukan endorsement bersama Nara. Keadaan diperparah emosi Reinan yang meledak dan hampir menyerang wartawan di depan studio Reno.

"Rei," lirih Nara saat ia menghampiri dan berdiri tepat di depan pintu balkon yang terbuka.

Reinan menoleh. "Hmm? Kamu belum tidur?"

"Besok kamu mau jumpa pers?" Nara tak menjawab pertanyaan dari perhatian Reinan. Batin dan pikiran Nara gelisah memikirkan besok Reinan akan menghadiri jumpa pers. Untuk kali ini, Nara tidak ingin terabaikan lagi. Nara mau Reinan memilihnya dan tetap di sisinya.

Reinan menepuk kursi panjang yang ia duduki, meminta Nara untuk duduk di sebelahnya. Nara bergeming tak mengacuhkan permintaan Reinan.

"Ra, aku—"

"Untuk kali ini saja dengarkan aku." Nara memotong perkataan Reinan. "Aku bahagia saat kita bersama di studio Sam. Tidak ada kebohongan di antara kita. Senyum bahagia kita di depan lensa kamera Sam bukanlah kepura-puraan. Karena kita memang bahagia melakukannya, bukan?" Bulir bening meleleh di sudut mata Nara. Ia sudah berusaha menahan air mata dengan menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan seraya menengadah. Namun, sia-sia saja, air mata jatuh tanpa kompromi.

"Tidakkah kamu lelah melakukan semua kepura-puraan ini? Awalnya aku berusaha bertahan dalam kepura-puraan yang kita buat sendiri. Tapi ... untuk kali ini aku mengakui bahwa aku tak sekuat pada awalnya."

Reinan masih terdiam, menatap Nara yang masih berdiri dengan bahu bergetar menahan tangis.

"Karena aku ... asistenmu yang dulu, seorang selebgram amatir yang kata orang sedang numpang tenar pada seorang super model di depanku ini. Sudah jatuh cinta pada sang tuan yang terlalu baik memilihnya sebagai pendamping hidup."

Reinan bangkit dari duduk, meraih kedua telapak tangan Nara dan menggenggamnya.

"Untuk alasan itu, aku hampir mati karena menyiksa diriku sendiri dalam kepura-puraan ini," lanjut Nara.

Sedetik dua detik, keduanya terdiam dan saling tatap. Hingga Reinan tak bisa menahan diri untuk tidak memeluknya. Ia mendekap erat sembari menghujani puncak kepala wanita yang sedang terisak dengan kecupan.

Setidaknyasekarang Reinan paham bagaimana perasaan Nara padanya. Sehingga keraguan ituhilang dan ia tahu apa yang harus dikatakan untuk melindungi Nara dan kariernyadi depan pers besok.

**

Repost: (10-09-2022)

Selebgram in LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang