Enam Belas

6K 246 37
                                        

Reinan terkiki geli melihat sosok di balik selimut itu menggeliat. Rambut panjangnya yang berantakan mejuntai di atas bantal. Meski tampilannya acak-acakan, wajah itu masih teramat manis dan tak aka nada kata bosan untuk memandangnya.

Sudah sejak lima belas menit yang lalu Reinan duduk sembari menikmati secangkir kopi. Sementara Nara masih asyik bergelung di balik selimut. Ah, yang benar saja! Ini sudah pukul setengah delapan dan istrinya itu masih saja terlelap tanpa gangguan sedikit pun.

Keasyikan Reinan terganggu saat tiba-tiba Nara membalikkan tubuh menghadap padanya, lalu menggeliat sekali sebelum matanya perlahan membuka. Nara sontak bangkit dari ranjang. Ia terlihat kikuk merapikan rambut dengan jemarinya.

"Ja-jam berapa sekarang?" tanya Nara gugup. Kepalanya menoleh ke arah jam beker di nakas.

Reinan hanya mengedikkan kedua alis seraya menyesap kembali kopinya.

"Hah? Jam setengah delapan?!" Nara turun dari ranjang dengan tergesa.

"Mau ke mana?" tanya Reinan dengan tangan kanan mencekal pergelangan tangan Nara.

Langkah wanita dengan piyama lengan panjang itu terhenti. "Bikin sarapan, Rei. Kamu kerja hari ini, 'kan?" erang Nara.

Reinan meletakkan cangkir kopi ke nakas lalu menuntun istrinya kembali duduk ke tepi ranjang. "Tunggu sebentar," katanya seraya meraih tas punggung milik Nara di meja pojok ruangan. Ia kembali duduk setelah merogoh selembar foto dari dalam tas. "Ini dapat dari mana?"

Nara menjulurkan kepala, menengok foto yang kemarin ia dapat dari Sam. Sedetik kemudian ia meringis. "Dari ... Uncle Sam," sahut Nara akhirnya.

"Ah, sudah kuduga. Dia pasti berkhianat padaku," gerutu Reinan sembari memberikan foto itu kembali ke tangan Nara.

"Kamu marah?"

"Enggak," sahut Reinan seraya menyandarkan tubuh ke kepala ranjang.

"Mmm ... ini benar kamu ambil beberapa tahun lalu?" Nara menunjukkan kembali foto dirinya berseragam SMA beberapa tahun lalu ke depan wajah Reinan.

Reinanhanya tersenyum simpul. Ia menghela napas seraya menatap langit-langit kamar.Pikirannya menerawang pada saat ia pertama kali menemukan gadis lugu di sebuahhalte bus.

**

Gerimis mengguyur kota. Beberapa orang sibuk berlarian, menerjang kubangan air hingga bunyi kecipak terdengar di mana-mana.

Reinan masih duduk di antara kerumunan orang-orang yang menunggu angkutan umum. Ia baru saja pulang dari studio Sam. Hari ini Sam mengajarinya banyak hal tentang fotografi.

Diangkatnya lengan kiri, sebuah jam digital itu menunjukkan pukul 2 siang. Pantas saja banyak anak sekolah ikut berdesakan di halte bus. Reinan baru saja akan bangkit dari bangku saat ia melihat seorang ibu-ibu membawa belanjaan di tangan kiri.

"Permisi, Om. Bisa geser sedikit? Hujannya semakin deras, bajuku bisa basah."

Suara itu menginterupsi Reinan. Ia menoleh ke sumber suara. Seorang gadis berseragam putih abu-abu itu tambak memeluk ransel biru muda miliknya. Reinan menggeser posisi berdirinya. Matanya lekat menatap gadis itu.

Apa katanya tadi? Om? Cih, yang benar saja! Apa Reinan memiliki wajah setua itu? Umurnya memang bukan lagi tergolong remaja—dua puluh empat tahun. Reinan pikir umurnya belum setua itu. "Tapi saya bukan om-om," celetuk Reinan tak terima.

Gadis itu tertegun dan menoleh padanya. "Pak?"

Astaga! Andai ini bukan tempat umum, Reinan ingin sekali mencekik gadis ini. "Terserah," gumam Reinan lirih.

Selebgram in LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang