Halo, selamat siang! 😊
Sesuai janji, ya, Kak. Selebgram kembali saya repost. Mohon dukungan dengan meninggalkan vote dan komentar.
.
Terima kasih, Kak. 🙏😊
🥀🥀🥀
Syuting film sudah dimulai beberapa hari ini. Tidak ada yang berubah antara Nara dan Reinan saat bekerja. Nara tetap setia mengikuti ke mana Reinan pergi, memikirkan jam makan, menyiapkan pakaian, membantunya merapikan pakaian, bahkan memayunginya di tempat syuting. Hanya saja, keduanya tampak lebih canggung dan dingin. Tidak saling berbicara barang semenit saja. Keduanya membisu baik di tempat kerja maupun di rumah.
Berulang kali Nara merutuki kebodohannya. Harusnya ia pergi dari rumah Reinan, atau bila perlu menggugat cerai. Tapi Nara bukan tipe manusia yang gampang menyerah dan lari dari masalah. Walau itu sangat menyakitkan.
Nara menghela napas, menatap ke arah Reinan yang masih sibuk bermain peran bersama Mia. Sesekali ia bertanya sebab lain apa yang membuatnya bertahan di sisi Reinan. Cinta? Apa benar ia mencintai laki-laki yang telah memanfaatkannya?
Tragedi malam itu masih terlintas jelas dalam pikiran dan benak Nara. Sedikit bergidik ngeri dan cukup membuat Nara gemetar bila mengingatnya. Membiarkan tubuhnya disentuh paksa oleh seorang gay hingga tak bersisa. Masih bisakah ia jatuh cinta terhadap Reinan bila demikian adanya?
Nara menggelengkan kepala dengan mata terpejam. Jantungnya kembali berdegup kencang tak keruan karena takut. Bahkan beberapa hari ini hampir tak bisa terlelap tidur di samping Reinan. Ia terlalu sibuk berjaga-jaga. Meski Nara tahu Reinan berhak melakukannya, tapi Nara tidak membenarkan bila Reinan melakukannya di bawah emosi semata. Itu sungguh ... menakutkan.
“Cut!” Sutradara menghentikan syuting di jam istirahat untuk makan siang.
Lusi menepuk bahu Nara untuk bersiap mengurus Reinan. Dengan tergopoh ia meraih botol air mineral dan berlarian menghampiri Reinan. Tanpa banyak bicara, Reinan meraih botol air mineral dari tangan Nara. Sedikit terkejut saat tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan, tapi kemudian hal itu hanya berakhir dengan acara saling tatap dalam kebisuan.
“Rei, kita makan siang di kafe dekat sini. Mau nggak?” Mia yang mendekat ke arah mereka bergelayut manja di lengan Reinan. Ia sempat melirik sinis ke arah Nara, sedangkan wanita yang ia lirik hanya mengembuskan napas pelan seraya menunduk mengusap ceruk lehernya.
Reinan hanya mengangguk pelan. Ia berlalu saat Mia dengan sikap tidak sabaran menariknya menjauh dari Nara.
Nara menatap punggung Reinan dan Mia. Anehnya, ada perasaan perih menyayat ulu hati Nara melihat Reinan akhir-akhir ini dekat dengan Mia. Bukankah ia sedang marah pada Reinan? Kenapa masih ada rasa cemburu begini? Bukankah ini kesempatan bagus untuk melepaskan diri darinya?
Nara semakin bingung. Pikirannya sungguh kacau. Takut, cemburu, kesal, marah, semua berbaur menyesakkan dada.
**
Reinan terlalu lelah. Tidak hanya lelah dengan segudang kepura-puraan di dunia kerja akan hubungannya dengan Mia. Juga tidak hanya lelah dengan jam syuting yang padat. Lelah yang lebih melelahkan adalah kebisuan di antara dirinya dengan Nara. Meski Nara masih melakukana aktivitas seperti biasanya dan tidak mengeluh. Reinan tetap merasa diamnya Nara sungguh membuat rasa bersalah selalu mengusik.
Reinan mengembuskan napas perlahan saat ia mengamati Nara yang sibuk sendiri di balkon kamar. Wanita itu tampak menata kamera di atas tumpukan buku yang entah ia ambil dari mana. Kemudian dengan gaya aneh ia berfoto ria.
Reinan tahu istrinya hobi mengunggah foto di akun instagram. Followers Nara yang semakin banyak akhir-akhir ini kerap membuat Nara kewalahan menerima endorsement dari berbagai produk online shop dan sedikit ada kemajuan saat Nara mulai mau menerima paid endorse.
KAMU SEDANG MEMBACA
Selebgram in Love
Romance[Repost] Narayana Pratiwi yang mendadak hidupnya seperti di negeri dongeng. Namun, tak selamanya hidup layaknya di dongeng itu indah. Reinan Wiryawan, laki-laki sedikit bicara yang tiba-tiba meminta asistennya---Narayana Pratiwi untuk menjadi istri...
