*Tessa pov
"Haiiii bestie modelku" terdengar suara Neels yang begitu bersemangat tiba-tiba. Kontan hal itu membuatku langsung bangun dari tiduranku.
"Neels!"
"Gue bawain makanan nih khusus untuk lu yang lagi sakit. E iya tadi lu nitip obat juga kan ya" Neels meletakkan sebuah plastik putih di atas nakas, aku tidak begitu tahu apa yang ada didalamnya lalu menyerahkan obatnya padaku.
"Lu emang dabest Neels!"
"Sini coba gue cek" Neels meletakkan tangannya didahiku.
"Auch panas anet" ucapnya dengan gaya lebaynya.
"Alay lu anjir" kataku terkekeh.
"Cieee udah bisa ketawa" goda Neels. Lalu tiba-tiba dia sudah memegang mangkok yang berisi bubur.
"Ayo buka mulutnya AAA" satu sendok bubur berhasil masuk kedalam mulutku.
"Bheulhi dihmanamh? (Beli dimana)" Tanyaku disela-sela mengunyah.
"Gaperlu tau yang penting lu sembuh" kata Neels yang terus menyuapiku. Sampai perutku terasa sangat penuh.
Setelah selesai makan aku dan Neels bercerita. "Lu disini sampe berapa lama?" Tanyaku.
"Gue? Gue udah pindah kesini kaleee"
"Seriusan? Yaampun! Seneng banget gue bisa deket lu" ucapku yang heboh dengan teriakan. Neels hanya tertawa melihatnya.
"Yeu seneng banget si mba. Eh eh Btw gue boleh nanya gak Sa?"
"Boleh, nanya apa?"
"Harry emang cuek gitu ya sama lu? Gue baru ngeh kemaren lu dibiarin aja masa keujanan. Terus masa lu lagi demam panas gini gak ada dibeliin obat gitu?" ucap Neels
"Gitu deh Neels. Kalo pernikahan tanpa rasa cinta. Eh tapi malah gue yang kecantol cintanya haha" kataku ngelantur.
"Maksud? Maksud? Otak gue gak sampe nih"
"Yaela sianjir" ucapku memutar kedua mataku malas.
"Gue curhat nih ya, boleh gak?"
"Boleh boleh gue sebagai pendengar yang baik siap mendengarkan" ucap Neels yang langsung merubah posisinya menghadap ke arahku. Dan wajahnya itu sangat dekat sekali dengan wajahku.
"Ebuset kedeketan!" ucapku spontan menoyor kepalanya.
"Adu! baru juga ketemu kemaren" Neels memegangi kepalanya yang langsung mundur menjaga jarak. Aku hanya terkekeh melihat ekspresinya yang begitu lucu.
Skip...
Aku bercerita banyak padanya. Jujur aku sedikit lega bercerita dengannya. Tidak seperti biasanya yang selalu aku simpan sendiri.
Andai saja Hazza memiliki sifat seperti Neels. Peduli, pengertian, humoris, selalu tersenyum. Tapi kurasa Hazza tidak akan pernah seperti itu.
"Gue tau perasaan lu kok, saking sayangnya lu sama dia, mau disakiti berapa kali juga tapi tetap aja bertahan" ucap Neels menatapku. "Tapi gak gini juga Sa, lu bisa minta gugatan cerai sama orang tua lu. Secara dia aja gak peduli ke istrinya" sambungnya dengan lirih.
"Gabisa Neels, gimana ya gue bingung kadang sama sifatnya dia suka berubah kadang peduli kadang juga cuek banget"
"Ya mungkin dia orangnya moodyan. Lu sih mau aja dijodohin sama manusia es kayak dia. Mending sama gue." Sedetik kemudian satu pukulan mendarat dikepalanya, membuatnya meringis kesakitan. "Sakit loh Sa."
KAMU SEDANG MEMBACA
MY CURLY HUSBAND [REVISI]
Fanfiction(HARBARA) HARRY STYLES. Cowok dingin, cuek dan irit banget buat ngomong. Tidak terlalu membuka diri, kecuali sama orang yang dirasa nyaman baginya. TESSA HORAN. Cewek cantik yang punya sifat kekanak-kanakan, cengeng, suka curhat, perhatian, dan jug...
![MY CURLY HUSBAND [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/111522250-64-k409974.jpg)