Aku mengantar Ae Ri ke rumah orang tuanya selepas dari kampus. Foto yang menjadi masalah tiga hari lalu sudah dihapus oleh Ae Ri. Dan tidak ada rumor apapun karena kejadian itu.
Rumah orang tua Ae Ri ada di Seoul pinggiran, katanya tidak ingin pindah karena tidak mau meninggalkan rumah yang sudah diwariskan turun-temurun. Berbeda dengan orang tua Brian yang memilih pindah dari Seoul ke Busan.
"Kau masih marah soal tiga hari yang lalu?"
Aku hanya fokus menyetir. Jujur saja aku masih sedikit kesal dengan tingkah Ae Ri yang kekanakan.
"Ayolah, aku sudah minta maaf dan menghapus foto itu, Bri. Jangan marah lagi, ya. Aku sedih kalau kau terus marah padaku."
"Diamlah, biarkan aku fokus menyetir."
Ae Ri mengerucutkan bibir dan memilih memainkan ponselnya. Aku agak khawatir, namun percuma saja kalau aku memperlihatkan kekhawatiranku, Ae Ri akan berubah beringgas lagi.
Aku memarkirkan mobil kami di pelataran rumah bergaya Korea yang khas. Ae Ri sudah turun dengan bahu terkulai tanpa suara. Apa aku terlalu keras padanya?
"Ya, Ae Ri."
Gadis itu berhenti dan menoleh dengan wajah masih ditekuk.
"Jangan ditekuk seperti itu wajahmu, kau malah tambah terlihat tua."
Kini bukan hanya bibirnya yang semakin manyun, tapi matanya sudah menyipit dengan dahi berkerut. Dengan langkah percaya diri aku menyusulnya sambil merangkul lehernya agar ia bersemangat lagi.
Aku bertemu dengan Lee Ahjumma yang langsung menyongsongku dengan pelukan dan ciuman di pipi kananku.
"Akhirnya aku bisa melihatmu lagi, Young. Sudah lama sekali kau tidak mampir ke sini. Ayo masuk."
"Aku tidak dipeluk juga?" Celetukan itu datang dari Ae Ri. Aku dan Lee Ahjumma hanya tertawa melihat sikap manja Ae Ri.
"Sini, anak eomma yang malang. Maaf aku sudah melupakanmu sejenak." Ibu Ae Ri tertawa kecil seraya memeluk putri semata wayangnya.
Aku membiarkan Ae Ri dan Ibunya berjalan di depan sambil saling lempar godaan. Ae Ri menjerit girang saat bertemu seorang wanita yang Brian ingat seumuran dengan mereka dan tengah menggendong bayi.
"Su Hyun-ah, kau sudah lama di sini?"
"Belum. Aku juga baru saja masuk. Aku dengar kau akan datang makanya aku buru-buru ke sini untuk bertemu denganmu."
Mereka bertukar peluk dan cium pipi sebelum mata Su Hyun tertuju padaku.
"Young Hyun, 'kan?"
Aku mengangguk.
"Aku banyak mendengar tentangmu selama kau berada di Amerika. Aku Su Hyun dan ini anakku, Young Jae."
"Oh, Hai. Salam kenal." Benar, ini terasa sangat canggung. Aku tidak terbiasa berbicara santai pada pertemuan pertama dengan orang asing. Sangat berbeda jauh dengan gadis yang kini sudah mengambil alih Young Jae ke gendongannya.
Ae Ri duduk memangku bayi berpipi bakpao itu. Seperti bertemu dengan teman sebaya, Ae Ri mulai bercuit yang mendapat tanggapan tawa atau jeritan Young Jae. Tanpa sadar aku menarik bibirku. Hanya di saat seperti ini aku mampu bilang Ae Ri memiliki sisi yang sangat berbeda dari biasanya. Dia terlihat dewasa.
"Kamu sudah cocok gendong anak, Ri. Kapan kamu nikah?" Pertanyaan Su Hyun membuatku ketar-ketir.
Seperti dugaanku sebelumnya, Ae Ri langsung menatapku. "Sudah dibilang cocok, kapan kita resminya?"
Aku hanya mampu menutup mata rapat-rapat dengan muka memerah. Dasar Ae Ri, membuat nalu saja!
💞💕
03-09-17
14.19
KAMU SEDANG MEMBACA
Brian Kang
Cerita Pendek"Namaku Young K, bukan Brian." ~Brian Kang "Tapi itu namamu juga, 'kan?" ~Lee Ae Ri Hanya kumpulan cerita pendek tentang Ae Ri dan Mas Brian aka YoungK aka Young Hyun aka Burger King 😂😂😘😘 #829 (9 Okt 2017)
