Alvin mendapat panggilan dari Devina, berulang kali.
Lagi-lagi, pria itu mendesah lelah di kursi empuk di kantornya.
Bohong jika Alvin mengatakan bahwa dia tidak punya lagi perasaan apapun terhadap Devina. Tetapi, Alvin sudah menganggap semuanya telah selesai, dan ia akan memulai halaman baru bersama sahabatnya, Lea. Itu keputusannya.
Devina : Vin, angkat plis
Devina : plis gue mohon
Mendadak muak, nomor Devina di blokir olehnya. Tapi Devina juga tidak berhenti sampai di sana, ia terus mengirim pesan di email Alvin dengan email yang berbeda, juga menelepon nomor kantor sampai-sampai mengganggu banyak kegiatan.
Alvin tentu saja tidak tau, apa yang membuat Devina keras kepala seperti itu. Padahal, dialah yang mengakhiri segalanya, saat itu.
Lea is calling....
Dengan cepat, Alvin mengangkat telepon. Ia bahkan tak sadar telah tersenyum sambil menjawab, meski ia tau bahwa Lea tidak mungkin melihatnya.
"Halo, Lea, lo mau makan apa hari ini?"
Tidak ada jawaban dari seberang sana, Alvin menepuk jidatnya saat ingat bahwa Lea pergi ke butik Maminya. Pasti Mami sudah membawa Lea makan sebanyak mungkin.
"Gimana? Sudah ketemu, baju yang Mami mau?" tanya Alvin.
Masih tidak ada jawaban, Alvin memeriksa apakah telepon masih tersambung.
Dan ya, masih tersambung.
"Halo?"
Semula, Alvin pikir Lea tak sengaja meneleponnya. Ia hampir mematikan ponselnya, namun jari jempolnya langsung berhenti di udara, begitu ia mendengar suara jernih dari seberang telepon.
"Aku kangen denganmu, lho, Lea..."
Suara laki-laki yang familiar di telinga Alvin.
"Brengsek," umpat Lea. "Lo jangan macam-macam!"
"Lea, kamu membuatku gila merindukanmu. Aku benar-benar merindukanmu."
"Lepasin gue atau gue bakal teriak?!"
"Percuma, sayang. Tidak akan ada yang bisa mendengarkanmu. Di sini sangat jauh dari orang-orang."
"Sialan," umpat Alvin tanpa sadar. "LEA, LO DIMANA?"
"Kamu masih cantik, as always...."
Alvin pun sadar bahwa Lea mungkin mengmute teleponnya. Tapi bagaimana...
"Jangan berani macam-macam. Lo bisa pegang kata-kata gue," ancam Lea.
Alvin teringat GPS yang ia dan Lea pasang sejak dulu. Segera saja dia mengotak-atik ponselnya dan menemukan mereka di mall tempat butik maminya berada.
Alvin mulai bergegas meninggalkan kantor, menyalakan loudspeaker karena ia akan mengemudi. Pikirannya terbagi dua, antara menyimak Lea atau mengemudi. Untungnya ia bisa melakukan keduanya dengan baik.
Tidak ada suara yang berarti, selama ia mengemudi.
Tapi Alvin bersumpah, jika sesuatu terjadi dengan Lea, cowok itu, Leo, Alvin tidak akan mengampuninya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unforgettable Night
RomanceKarena satu malam yang tak terlupakan, mereka bisa sejauh ini.
