dua puluh satu

13.7K 385 23
                                        

"Lea? Kamu darimana? Daritadi Mami cariin."

Lea baru saja kembali ke butik, dengan perasaan kacau balau.

Baru saja, ia menendang titik kelemahannya Leo dengan sekuat tenaga. Hal yang baru pernah dilakukan sekali olehnya.

Semoga saja Leo masih punya harapan untuk memiliki keturunan.

"Lea habis dari toilet, mih."

Lea tidak berbohong. Setelah menyelamatkan dirinya, ia segera berlari ke toilet terdekat. Ia memeriksa ponselnya, teleponnya dan Alvin terhubung.

Untungnya, panggilan sudah berakhir. Itu artinya, dia berhasil menjaga rahasianya dari Alvin.

"kamu keringatan. Mau mandi di butik mami? Ada toilet di sana."

Sebenarnya, itu tawaran yang sangat membantu. Lea memang sedang kepanasan, dan dia memang tidak kuat kepanasan sejak kehamilannya.

"oke, mi."

"Ini bajunya, Lea." Mami memberikan pakaian ganti pada Lea.

"Nggak apa-apa, Lea pakai baju ini?" tanya Lea sedikit segan.

"Nggak apa-apa. Kamu kan calon menantu mami," jawabnya sambil tersenyum.

Lea pun pergi mandi.

#

Keluar dari toilet setelah lima belas menit membersihkan diri, Lea malah mendapati Alvin sudah berdiri di depan toilet.

Dengan wajah yang tak bisa Lea baca.

"H-hai, Vin. Sorry ganggu jam kerja lo."

Alvin masih diam, memperhatikan Lea.

"Vin?"

"Mana Leo?" tanya Alvin langsung. "Dia apain lo tadi?"

"kita cuma ngobrol, tapi dia sempat nyeret gue ke gudang, makanya gue panik dan langsung telepon lo tanpa mikir," jawab Lea, "sorry."

"Lo nggak perlu minta maaf."

Sejenak, Lea terdiam saat melihat pandangan Alvin yang ditujukan padanya.

"Vin, lo kenapa?"

"Lea..." Alvin menjeda tiga detik, lalu melanjutkan, "lo ... suka sama gue?"

Dan ya, Lea terbungkam mendengar pertanyaan itu.

Saat itu juga, Lea lupa cara untuk berbicara.

Unforgettable NightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang