delapan belas

15.3K 416 13
                                        

Mereka sudah fitting gaun kemarin sore. Saat ini sudah malam dan Lea tidak bisa tidur, entah mengapa.

Tiba-tiba saja ia mendambakan aroma Alvin.

Dicarinya ponselnya setelah meraba-raba nakas di ruangan yang gelap. Lea memang punya kebiasaan mematikan lampu kamarnya saat hendak tidur.

Dihubunginya Alvin. Meski jarak kamar mereka hanya berapa langkah dari pintu, Lea merasa harus meneleponnya lebih dulu. Lagipula, dia lelah dan malas untuk berjalan setelah dia berbaring di kasur empuknya.

"Halo?"

Lea terbungkam.

Suara Alvin terdengar lelah, membuatnya tiba-tiba merasa bersalah.

"Lo... Belum tidur?" tanya Lea.

"Ini gue baru selesai periksa laporan kantor."

"udah mau tidur?"

"Iya."

"Gue ganggu?"

Alvin tertawa dari seberang telepon. "Engga lah. Kenapa telepon?"

"Nggak jadi, deh."

Lea langsung menutup telepon.

Beberapa detik kemudian, pintu kamarnya terketuk, membuat Lea bergidik.

"Buka pintunya, Lea."

Lea panik, meski hatinya berbunga-bunga.

Ini konyol.

Mengapa ia harus bertingkah seperti anak gadis? Padahal Lea bukan baru sekali dua kali berpacaran. Dulu, ia sering gonta-ganti pacar untuk melupakan Alvin. Dan mengapa sekarang ia harus malu-malu seolah baru berpedekate untuk pertama kalinya?

"Gue udah tidur!" balas Lea keras-keras.

"Kalau lo udah tidur, yang ngebalas siapa?"

Lea dengan senang hati membuka pintu.

"lo ngidam apaan malam-malam?" tanya Alvin.

"gue bukan ngidam makanan..." jawab Lea ragu-ragu. "Lo bisa kabulin?"

Alvin menatap Lea.

"Yah, asal lo bukan ngidam makan batu, racun atau hal berbahaya lainnya, gue usahain bisa," jawab Alvin.

Lea menelan ludah.

"gimana kalau malam ini... Kita tidur bareng? T-tidur bareng di sini maksud gue tidur seranjang. Dedek bayi pengen perutnya dielus!" ucap Lea dalam sekali tarikan nafas.

"Oke."

Alvin langsung masuk ke kamar Lea dan Lea menutup pintu dengan sangat gugup.

Berduaan dengan Alvin di kamar yang gelap mengingatkannya pada kejadian malam itu, pastinya.

"Ayo, sini. Ini udah larut." Alvin menepuk-nepuk kasur, meminta Lea berbaring di sebelahnya.

Lea melakukannya, berbaring bak mayat yang kaku. Tubuhnya tersentak saat tangan Alvin mengelus perutnya sambil menopang kepalanya dengan tangannya yang lain, menyampinginya, memperhatikannya.

Lea memejamkan matanya, menghirup nafas banyak-banyak, karena ia memang merindukan aroma pria itu.

"Vin, gue boleh minta satu lagi?"

Alvin menjeda selama beberapa saat. "selama permintaan lo ga berbahaya, boleh."

"Gue pengen dipeluk."

Alvin langsung memeluknya. "oke."

Padahal, permintaannya kali ini benar-benar berbahaya untuk kesehatan jantungnya.

Unforgettable NightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang