Bahkan kali ini pun lo cuman bisa buat gue terejerat dalam masalah lagi
***
"Yuk, guys,"
Gishel berlari kearah Chinta dan Amara yang sedang berdiri di teras rumah.
"Sorry gue kelamaan yak?" sambungnya.
"Banget!" balas Chinta.
Sesuai rencana, pagi ini mereka akan jogging didaerah taman dekat rumah Chinta.
"Yaudah yuk, keburu siang juga!" ajak Amara. Ketiga cewek itu berlari kecil melewati gerbang rumah.
"Istirahat dulu yuk guys, gue capek nih!!" keluh Gishel.
"Seru juga ya kalo nginep bareng!!" Seru Chinta yang diikuti segaris senyum manisnya. Kali ini Chinta merasa tidak kesepian lagi, karna mamahnya yang sibuk bekerja.
"Bener!! gimana kalo tiap weekend kita nginep bareng?!!" ujar Gishel. "Ide bagus tuh,Gue setuju!!" Chinta tersenyum lebar, ia membayangkan kegiatan yang akan mereka lakukan saat menginap bersama, tidak seperti semalam yang terlihat kurang menarik.
"Tapi masa iya dirumah Chinta mulu, kan ngerepotin!!" Amara yang sedari tadi diam mulai angkat bicara.
"Santai aja kali, gue malah seneng banget kalo kalian mau nginep!" ujar Chinta tentu saja dengan senyumnya.
"Yaudah itu dibahas nanti aja, lanjut lari yuk, gue haus nih mau beli minum di taman," Gishel beranjak dan menarik tangan kedua sahabatnya.
Ketiganya kini telah menginjakkan kaki di taman dengan nafas yang menderu.
Chinta menstabilkan nafasnya.
"Kalian duduk duluan aja disana, gue mau beliin minum dulu!!" Chinta menunjuk bangku dibawah pohon yang besar.
"Gak usah kita bareng aja belinya, lo gak capek apa mondar - mandir!" meskipun Gishel sangat kelelahan ia tetap tak enak dengan sahabatnya itu.
"Dih udah basah sama keringet gitu sok kuat banget, tenang aja gue kan slim, jadi gak capek - capek amat." ejek Chinta.
"Terus gue gendut gitu?" Gishel merengut, bibirnya ia majukan yiga centi.
"Gak gendut kok sedikit chubby doang." Chinta terkekeh pelan,"Canda Shel, gak papa gue kan strong," Chinta mengangkat lengannya membentuk sudut 90 derajat.
"Oke kita tunggu ya," Ucap Gishel.
"Bang pesen es dawet tiga ya, dibungkus!" Pinta chinta kepada abang penjual es dawet itu tentu saja dengan berjarak. "Ya neng tunggu ya!!" balas abang penjual es dawet itu dengan terheran yang diikuti anggukan Chinta.
"Hai, lo Chinta kan? anak XI IPA 2 yang pendiem banget itu kan?" sapa seseorang yang menepuk bahu Chinta dari belakang, spontan gadis itu menengok kebelakang.
"EHhh?" Chinta menutup mulutnya.
"Oh, Kak--Kak Ikhsan?, iya gue Chinta kak!!," Cewek tersebut berjalan mundur sambil sedikit memaksakan senyumnya karena dia masih memiliki trauma untuk memberikan kepercayaan kepada seorang yang tidak ia kenali apalagi jika dia seorang cowok.
Ikhsan mengankat satu alisnya "Tapi selama lo MOS dulu gak pernah ngomong dan suka banget menyendiri, gue kira lo orangnya pendiem. Terus kenapa lo mundur - mundur?" Chinta mengenal Ikhsan saat masa orientasi siswa, karna cowok itu merupakan ketua osis disekolahnya.
'Chinta lo harus berubah, lo gak bisa gini terus' batin Chinta, ntah sejak kapan ia merasa takut jika berdekatan dengan seorang cowok. Tangannya kini sedikit gemetar dan perutnya terasa sedikit mual.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE PHOBIA
Genç Kurgu[Ongoing] "Tapi, Klo bukan karna semua itu, gue gak akan kenal lo!" Seru Arga. "Semua cowok ternyata emang sama aja ya, hobby mainin hati cewek." Chinta tersenyum miring. *** Cinta .... Sebuah anugrah terindah yang tercipta dari sebuah rasa, melahir...
