Jam setengah 2 siang, aku masih duduk sambil menatap sendu dosen yang sudah berkepala empat itu tengah menerangkan materinya. Memandang ke kanan dan kiri, kulihat beberapa temanku yang menguap, bahkan ada yang sudah berlayar ke alam mimpi. Aku menguap, rasa kantuk mulai benar-benar mengusaiku. Diam-diam, perlahan aku mengambil permen yang sudah kupersiapkan untuk situasi darurat seperti ini. Mendadak kurasakan kursi di sebelahku bergerak, aku menoleh dan melihat seorang cowok yang tersenyum kepadaku.
"Boleh bagi permennya nggak?" tanya cowok itu sembari melihat permen yang kupegang dengan senyuman penuh minat kepada permenku.
"Nih, ambil aja." Aku memberikan permenku kepadanya. Dia tersenyum sumringah.
"Makasih loh buat permennya," katanya.
Aku mengangguk sekilas, kemudian mengeluarkan permen yang lainnya. Untungnya aku selalu menyiapkan banyak permen di dalam tasku. Begitu aku memakan permenku, cowok yang tadi kuberikan permen malah semakin mendekatkan kursinya yang tinggal berjarak sejengkal lagi dengan kursiku.
"Apaan sih lo?" tanyaku, sembari menjauhkan tubuhku agar tidak merapat dengannya. "Lo mau permen lagi, makanya lo deket-deketin kursi lo ke gue? Kalau mau, bilang aja, nggak usah genit pake deket-deketin kursi segala!" kesalku padanya, namun dengan suara yang cukup pelan, agar tidak membuat riuh di kelas.
Cowok itu menyengir. "Sorry.., gue buat lo risih," ucapnya. "Gue bukannya mau minta permen lagi atau berusaha buat genit sama lo. Tapi, kayaknya lo lupa sama gue."
Aku mengernyit. Lupa sama dia? Loh, emangnya aku pernah ketemu sama dia ya?
"Nah, dia beneran lupa," tebaknya mendadak, membuat aku terkejut.
"Emangnya kita pernah ketemu di mana ya?" tanyaku.
"Lo masuk ke komunitas jurnalis, kan?"
"Eh?"
"Gue ini kating lo kalee," desahnya. "Ahelah, dek, dek. Lelah babang."
"Iyain aja, biar cepet." Aku kembali memfokuskan diri ke arah dosen. Rasa kantukku sudah lenyap karena kakak tingkat aneh ini.
"Oi, dek. Cuek amat," cowok itu menjawil pipiku.
Aku menatapnya sebal. "Jangan sentuh-sentuh sembarangan. Nggak sopan banget, sih!"
"Iya iya, maap lagi." Dia diam. Kemudian beberapa saat, mulai merusuh lagi. Kini dia menyenggol lenganku yang kugunakan untuk menopang dagu.
Dengan sebal, kuraih tas ku dan kuletakkan di atas meja sebagai pembatas. "Jangan ngelewatin batas ini dan biarin gue ngelewatin kelas ini dengan tenang! Gue bisa minta tolong kan kakak tingkat yang paling baik hati?"
Dia mengangguk berlebihan dengan senyuman hiperbolis. Kok bisa ada ya kakak tingkat yang lebih aneh dan menyebalkan dari Pras? Hm.
**
Begitu aku keluar dari kelas, Gara langsung menyambutku di depan pintu. Dia menarikku menjauh dari kerumunan teman-teman sekelasku yang baru keluar juga dari kelas. Ternyata dia membawaku menuju lift.
"Makan siang bareng." Dia menjawab isi pikiranku lagi. Menyebalkan.
"Kita mau makan di mana? Boleh ajak Putri nggak?" tanyaku.
"Nggak boleh. Ini makan siang pertama kita. Nggak usah ajak-ajak orang lain lagi. Kan aku bukan orang yang kamu kenal di dunia maya lagi, Dee. Aku sekampus sama kamu. Nggak mungkin banget kalau aku nyulik kamu, kan?"
Aku mengangguk, pelan. "Maaf," ucapku. Ah, kenapa setiap sama Gara aku nggak pernah bisa berkata apa-apa, sih?
Lift berhenti di lantai satu, begitu pintu lift terbuka, Gara langsung menarik pergelangan tanganku keluar dari lift. Beberapa pasang mata yang berdiri di depan lift melihat pergelangan tanganku yang ditarik oleh Gara, mereka langsung merenggut sinis menatapku. Aku berusaha untuk tidak memikirkannya, namun saat tiba di depan pintu kampus, aku mencoba melepas tangan Gara yang menggenggam pergelangan tanganku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Please, Stay With Me
Novela JuvenilMungkin status jomblo akan terus meratu dalam dirinya. Hingga sampai pada tahap yang mengkhawatirkan, suatu ketika membawanya terjun ke dalam dunia akun pencari jodoh, karena ada melaporkan bahwa hasil karangan-novelnya telah diplagiat. Tanpa sadar...
