4 | Pameran Lukisan

3.6K 398 28
                                        

Weekend, biasanya adalah waktu yang cocok untukku berkemas barang-barang yang berantakan dan mencuci pakaian, lalu setelah itu mungkin akan bersantai dengan kebosanan yang tiada tara. Tapi, nyatanya dugaanku bersantai dengan kebosanan telah digantikan oleh ajakan bang Essa ke event pameran lukisan yang memang terdengar asyik. Akhirnya weekend-ku tak akan sebosan seperti biasanya.

Segera aku bersiap-siap, karena bang Essa tadi bilang akan menjemputku. Mengambil kemeja biru garis-garis dan celana jeans, lalu memakai bedak baby. Kalau kalian bertanya, kenapa aku tidak memakai bedak-bedak yang lain, eyeliner, lipstik atau lipgloss, ataupun yang lain-lainnya, itu karena aku memang dilarang sama mama, katanya pakai bedak biasa aja sudah cantik. Oleh karena itu, aku tidak pernah memakainya, selain karena dilarang mama, juga karena aku tidak pandai merias diri. Terkadang, memakai bedak saja bisa tebal di bagian tak menentu. Sudahlah, lupakan! Kalau kuteruskan, kurasa kalian akan terus mengejekku.

Bang Essa menjemputku di depan kost-an tepat waktu. Aku mengambil tas kecilku dan kusematkan di lengan kiri, kemudian membuka pintu.

"Hai," sapanya, ramah.

"Hai juga, Bang," balasku.

"Yuk! Keburu kelar nanti acaranya," katanya. Aku mengangguk kecil. Sementara bang Essa naik ke motornya, aku mengunci pintu kost-an, kemudian bang Essa memberikan helm dan begitu kupakai, aku naik ke motor honda bang Essa. Bang Essa mulai melajukan motornya dengan santai, sementara aku melihat pemandangan sekitar sambil merasakan semilir angin membelai lembut kedua pipiku. "Eh, kamu tahu Davi, kan?" tanyanya, namun tetap fokus mengendari motor honda ini.

Aku mengernyit. "Davi? Siapa, Bang?"

"Ituloh, anggota rumah puisi juga. Masa kamu nggak tahu?"

"Oh, si kelelawar?" tanyaku.

"Kelelawar?"

Aku tertawa. "Aku memang sering ngatain dia kelelawar kalo di chat pribadi, sih."

"Ciee, ternyata ada chat japrian, nih," goda bang Essa.

Aku tertawa. "Ya nggak apa-apa, dong. Kan temen."

"Temen apa temen?" godanya lagi.

"Temen, Bang. Ahelah," keluhku. Kulihat punggung bang Essa bergoncang, dia tertawa. "Ya gimana, kalo aku lagi terkena insom, dia suka ada di malam hari. Lumayan, nemenin aku yang nggak bisa tidur."

"Iya, deh, iya." Bang Essa menyerah, dia berhenti tertawa.

"Gimana hubungan Bang Essa sama kak Via?" tanyaku.

"Ya nggak gimana-gimana, masih biasa aja."

"Nggak ada peningkatan gitu setelah kuperkenalkan pertama kali?" tanyaku. Aku memang mengenalkan bang Essa kepada salah satu kakak kenalanku di grup menulis yang lain. Berhubung kakaknya juga masih jomblo, jadi aku berinisiatif buat mengenalkan mereka. Kali aja aku berhasil jadi 'mak comblang'.

Apaan sih, Dee?

"Belum ada. Lagian ini masih belum ada sebulan kenalannya, kalau aku bertindak nekat, bisa-bisa dia kabur duluan sebelum aku pdkt lebih jauh. Dan lebih enak natural dan biasa ajalah, aku juga nggak mau buru-buru."

Kalau kalian berpikir pada awalnya aku menyukai bang Essa karena anggapanku di bagian prolog, 'bagusan aku pelet bang Essa daripada cowok sosmed'. Itu salah besar! Well, memang benar lebih baik aku pelet bang Essa yang memang nyata daripada cowok sosmed, tapi tentu saja alasannya lain, dong. Aku dan bang Essa bagaikan kakak-adik. Tidak lebih. Tentu saja, di mana-mana, siapa juga yang mau pelet orang yang bahkan nggak di kenal sama sekali. Yang lebih parahnya kalau itu cowok sosmednya wajahnya buruk rupa. Eww.

Please, Stay With MeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang