SIAL

966 70 3
                                    

Debi POV

Aku yang dari tadi seakan-akan teraniaya sekali di dalam kepungan para-para cogan sadis ini dan apalah dayaku yang hanya bisa mengangguk dan meng'iyakan ucapan dari mulut berbisa mereka.

Rasanya aku ingin mengebom rumah ini dan seluruh isi yang ada didalamnya, tapi sangat tak mungkin untuk melakukannya.

Jadi kembali lagi, AKU HANYA BISA BERSABAR.

"Cupu.. Ini kok masih berdebu sih!" protes Dani sambil menggesekkan kakinya di lantai, ia selaku majikan yang tak pernah ku harapkan sama sekali.

"Eh..Cupu es gue nambah dong" kata Ardi sebagai majikan yang kerjaannya makan terus tapi badan segitugitu aja.

"Gue juga nih.." kata Alwi yang menjadi majikan ternyolot.

Dan kecuali Fadil, majikan tercuek daripada mereka si cogan rempong melebihi rempongnya Bu Neli itu.

Ia hanya diam dan jika menginginkan sesuatu menggunakan isyarat kepala dan tangan .

Semua orang pun tahu kalau Fadil adalah orang yang dingin tetapi jika ia sudah marah apalagi berkelahi hmm,seperti singa pendiam yang tibatiba menyerang yaa semacam begitulah.

Aku menyukainya ada alasan tersendiri yang orang lain pun tak akan tahu.

Aku termasuk fans Fadil tetapi aku masuk barisan pengagum diam-diam bukan seperti geng alay kumpulan fansnya.

Dan satu yang aku tahu, Kak Sandra masuk dalam jajaran fans gila Fadil.

Ku akui sainganku banyak sekali untuk mengaguminya tapi aku sangat bersyukur karena bisa dekat dengannya walau pada akhirnya harus tragis seperti ini.

Dia terkenal karena.. Hmm.. So pasti tampan pake BGT apalagi lesung pipi nya itu menambah ketampanan jika ia tersenyum tapi mustahil membuatnya tersenyum terus alisnya yang tebal ahh.. Membuatnya terlihat cool.

Pintar? Yaa menggali kemampuan stalkerku dia termasuk cukup jenius meski tidak ada yang tahu itu karena tertutupi sifatnya yang nakal.

Pintar bermain gitar dan suaranya pun bagus, saat dulu ku pergoki dia sedang memainkan gitar di taman belakang sekolah.

Futsal? Basket? Volly? Ahh mungkin makanan sehari-harinya saat jam pelajaran kosong.

Jika membicarakan kelebihannya Fadil hampir mendekati sempurna menurutku.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Cupu...ini bukan ajang kompetisi melamun!" Bentak Dani yang mengagetkan'ku ketika aku mengepel lantai.

"Ini juga bukan ajang kompetisi pencarian pembantu!" Sahutku tak mau kalah.

Dani pun terdiam dan berfikir sejenak untuk melawanku tapi pada akhirnya ia kalah dan hanya diam pergi ke bawah.

Aku pun melanjutkan kembali tugas yang sangat mulia ini, walaupun aku terbilang tak pernah beberesan rumah tetapi aku bukanlah orang yang manja.

Aku terbiasa hidup mandiri walau kadang sifat malasku pun muncul.

Sungguh rumah ini kotor sekali terutama dibagian ruang tv dan ruang PS , sampah bertebaran dimana-mana dan jika kuberi nilai kekotoran hmm mungkin A+++

Mereka itu pengoleksi sampah apa gimana sih, kok banyak banget 'gumamku sambil membersihkan sampah-sampah bekas cemilan dan minuman botol di ruang PS.

"Eh.. Deb..kita-kita mau keluar dulu nyari makan, rumah ini kita kunci dari luar supaya lo gak kabur" Ucap Alwi.

"Lah...gue ditinggal sendiri?" Kataku bertanya.

"Iyalah..tenang aja, gak lama kok"

Tak lama datang Dani
"Cupu...entar cuciin piring terus beresin kamar gue ya!" Perintah Dani lagi yang hanya membuatku mengehela nafas lalu mengangguk dengan ucapannya.

FOLLOW MY WORDS Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang