11

162 10 0
                                    

"Nih buat lo berdua" ucap Fadil sambil menyerahkan 2 lembar uang seratus ribu.

"Gue gak butuh!" ucapku menepis tangannya saat hendak memberiku uang itu.

"Eh, lo itu orang miskin jadi gak usah sok nolak. Ketimbang lo makan duit hasil morotin orang, mending duit dari kerja lo kayak gini"

"Heh denger tuh, My Fadil gak bakal suka sama orang miskin yang kecentilan kayak lo!" Kak sandra pun ikut menyahuti perkataan Fadil tadi.

"Lo diem! Ini duit buat lo" kata Fadil memberikan uang dengan jumlah yang sama kepada Kak Sandra.

"A-aku gak perlu duit itu, aku lakuin ini semua ya karena aku sayang sama kamu" ucapnya yang ingin memeluk lengan Fadil namun ia langsung menyingkir.

Disuruh cuci motor karena sayang? Kak Sandra ini kena pelet apa gimana.

"Lo ini kayak orang kena pelet" timpal Fadil membuatku kaget karena ucapannya sama dengan pikiranku.

"Iya kali ya, kamu pelet aku ya" ucap Kak Sandra sedikit lebay.

"Gila lo! Sana pulang. Makasih udah nyuciin motor gue. Lo berdua tuh sesama babu ya harus saling ngajarin kayak gini"

Ya benar, pada akhirnya aku harus datang ke tempat steam motor yang tidak jauh kurasa dari kompleks perumahan tempat tinggal Fadil.

Aku diancam jika tidak datang maka Dila akan dibully besok. Tapi sebenarnya hal itu tidak perlu kucemaskan, karena Dila tak mungkin diam saja dan pasti mereka dihajar. Itulah yang kutakutkan, jiwa psikopat Dila akan muncul.

Aku harus mengajari Kak Sandra mencuci motor yang sedangkan aku saja tidak tahu.

Padahal ada tukang steam motor disini, namun Fadil memang benar-benar ingin menyiksa kami berdua. Tapi sebenarnya aku hanya harus mengajari saja dan yang mengerjakannya Kak Sandra.

Meski begitu, Kak Sandra sangat lebay  mengerjakan ini semua dan kesal karena ada aku juga disini.

Pikiranku mengatakan ia melakukan ini untuk membuat Kak Sandra menjauhinya. Namun, entahlah Kak Sandra tidak juga menyerah menuruti perkataan Fadil.

"Fadil, aku gak mau pulang. Aku mau main ke rumah kamu aja" ucap Kak Sandra yang memelas.

Sepertinya Fadil terlihat frustasi.

"Denger ya cewek murahan! Lo mulai sekarang jangan muncul depan mata gue!" bentakkan Fadil yang menurutku kasar.

"A-aku udah nurutin kata kamu. Ta-tapi kenapa kamu masih gak suka sama aku?" ucap Kak Sandra yang sepertinya mau menangis.

"Gue gak pernah nyuruh lo suka sama gue. Lo sendiri yang kayak orang stress ngejer-ngejer gue"

"Aku gak mau, aku gak mau jauhin kamu apapun alasannya. Titik!"

"Oke, gue pindah sekolah!" ucap Fadil langsung membawa motornya pergi.

Aku sedikit terkejut dengan perkataannya barusan.

Fadil pindah sekolah? 'pikirku sedikit murung.

Aaaghhhhhh
Sepertinya Kak Sandra benar-benar kesal dan ia menoleh padaku.

Ia pun ingin menamparku namun tangannya dicekal.

"Hay, Kak" ucap Dila yang memegangi tangan Kak Sandra dan tersenyum yang dibuat-buat.

Gawat nih gawat, Dila pasti mau ngamuk.

"Ngapain lagi lo?! Lepasin tangan gue" ucap Kak Sandra.

"Dil, pulang yok" kataku menengahi untuk mengajaknya pulang.

"Hmm, mumpung di luar sekolah. Gimana kalo gue tepatin omongan gue pas itu" kata Dila menunjukkan aura psikopatnya dan mengabaikan perkataanku.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 30, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

FOLLOW MY WORDS Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang