Mungkin ini namanya benci, semakin dirasa semakin dalam kau ingin mengetahuinya
~fadil~
Seusai Debi mengobati Fadil tadi, ia bergegas untuk ke kelas karena takut ketinggalan pelajaran apalagi kemarin ia sempat tidak masuk di pelajaran Bu Rahma dan Pak Wasdi pasti tugas sudah menumpuk, lain halnya dengan Fadil yang memilih bolos untuk pulang.
Saat di UKS tadi mereka berdua sempat berbincang-bincang meski dengan nada Debi yang ketus dan dinginnya sikap Fadil.
Flashback on
"Apa lo gak bosen berantem terus?" ucap Debi.
"Hoby lo apa?" jawab Fadil.
"Baca novel"
"Anggep aja kayak hoby lo itu"
"Jadi maksud lo, hoby lo berantem?" tanya Debi yang hanya dibalas anggukan Fadil.
"Hmm, lo itu kenapa sih tiap gue suruh mau'an aja?" sahut Fadil yang kini bertanya.
"Nggak tau"
"Lo suka sama gue?" ucap Fadil yang langsung mengejutkan Debi.
"Hah? Eng...enggak tuhh"
"Muka lo gak jujur, lo suka sama gue karena pengen duit kan? atau karena tampang gue"
Tapi lagi-lagi Debi hanya tersenyum mendengar ucapan Fadil.
"Gue gak butuh senyum lo, gue butuh lo jawab"
"Enggak"
"Maksud lo?"
"Pahamin aja sendiri"
"Tau ahh, gue mau bolos" ucap Fadil yang melenggang pergi dari UKS.
"Lo gak bawa tas?"
"Lo liat aja sendiri"
Oh.. Dia gak niat sekolah
Flashback off
Murid di kelas XI IPA 4 sedang mengamati guru yang tengah menjelaskan materi pembelajarannya.
Bu Wati guru Bahasa Indonesia sebut saja begitu, guru yang terkenal ramah dan sangat disukai murid manapun jika diajar olehnya.
Bagaimana tidak, ada yang tidur saja dan jika salah satu murid mengadu dia hanya bilang "Biarkan nak, dia sedang mengantuk"
Lalu ada lagi, Bu Wati gampang dikelabuhi jika murid di kelas itu dan serombongan pula ada yang berkata "Izin ke toilet bu" Jangan percaya, itu hanya tipuan untuk ke kantin atau sekedar keluar kelas tapi dengan baiknya ia hanya bilang dengan senyumnya "Silahkan nak" dan masih banyak lagi kebaikan lainnya.
Bagi sebagian murid mungkin guru seperti itu bisa jadi guru terfavorit dan banyak diinginkan untuk mengajar di semua pelajaran.
Back To Topic, Debi yang baru sampai di depan kelasnya langsung mengetuk pintu disitu.
Tok Tok Tok
"Izin masuk bu" ucap Debi.
"Iya silahkan Debita, apa perutmu sudah mendingan?" tanya Bu Wati
"Su..sudah bu"
hadehh, gak biasa bohong mah gini 'batin Debi sedikit panik."Syukurlah, silahkan duduk"
"Iya bu, terima kasih"
Debi pun duduk di bangku nya dan baru saja duduk ia sudah di hujam pertanyaan oleh Dila.
"Lo gak di apa-apain kan sama tuh anak? Terus si kebo itu kemana sekarang? Ter-"
"Bisa diem gak sih! Baru duduk juga"
"Iya-iya sorry, jadi gimana dengan si kebo itu"
"Kebo apaan?"
"Ya itulah"
"Ya siapa Nadila Zatta Desaga?"
"Fadil"
"Biasalah, bolos balik"
"Hmm..."
SKIP~
Selesai pelajaran pertama tadi, Debi dan Dila pun menuju kantin untuk mengisi kekosongan perut mereka.
Sembari menunggu pesanan mereka, sedikit obrolan yang dilakukan.
"Fadil kasar gak sama lo tadi?" tanya Dila
"Enggak, cuman kayak biasa ketus gitu" jawab Debi.
"Iya...sama kayak lo, ketus"
"Kok gue?"
"Emang iya kan? Lo kan ketus"
"Enggak!"
"Iya!"
"Enggak!"
"Iy-"
"Permisi neng, ini bakso sama es nya" Sahut Mang Yanto menengahi mereka berdua.
"Iya mang, tarok aja disitu" ucap Debi.
"Makasih ya mang" sahut Dila.
"Iya neng" ucap Mang Yanto sambil berlalu pergi.
"Udah ahh, kita makan dulu" Kata Debi yang hanya disahuti anggukan.
Fadil POV
Sehabis diobati cupu tadi, gue langsung balik untuk bolos.
Untungnya motor gue titipin di rumah samping sekolah jadi gampang aja untuk bolos.
Gue rada heran sama si cupu, kadang baik, kadang nurut, tapi kadang juteknya kayak tadi 'eh tunggu kok gue mikirin dia ya.
Mungkin kalo gak ada dia sama kawannya tadi, gue udah di Rumah sakit.
Meski gue punya kawan tapi Dani, Ardi, Uut mana tau tentang masalah-masalah gue, mereka cuman tau gue happy aja.
Deket dia itu emang nyaman apalagi waktu itu dia siap nyediain pundak buat gue tapi gue gak mau di bilang lemah dan mungkin cupu lebih ngerti keadaan gue ketimbang kawan-kawan gue.
Kadang gue heran sama cupu itu, kenapa dia selalu sok baik sama gue, kadang timbul pertanyaan. Apa dia mau duit gue? tapi kalo di liat-liat kayaknya enggak.
Gue bolos ke tempat dimana gue sama cupu waktu itu.
Tempat ini emang tempat favorit gue untuk sendirian ketimbang di rumah.
Masalah gue ini emang terbilang rumit, nggak ada satu pun orang tahu apa yang lagi gue rasain saat ini.
Kalo lihat cewek rasanya gue inget kejadian dulu, kejadian yang buat gue benci banget dengan cewek manapun.
Tapi balik lagi, gue awalnya emang gak seneng dengan si cupu tapi nggak tau cuman dia mungkin yang beda dari cewek lain.
Apalagi gue akuin gue cukup famous di sekolah dan kalian tahu aja kalo cewek bakal alay saat liat gue lewat di depan mereka.
Gue dari awal masuk kelas XI emang udah benci dengan cewek terutama dengan si cupu tapi lagi-lagi dia berhasil buat gue terusan mikirin dia, walau kadang pikiran itu gue buang jauh-jauh.
Kalau kata kalian gue suka sama dia, hmm mungkin nggak. Karena dalam kamus gue, gue gak bakal suka sama cewek. Nikah? Haha apalagi kata-kata itu, mending mati ketimbang hidup berdampingan dengan cewek.
Anehnya juga gue benci kalo yang ngajar di kelas gurunya cewek, mending gue bolos.
Tapi yang lebih aneh lagi, hati gue untuk pertama kalinya berdegup kencang waktu dia ngobatin gue tadi.
#Jangan lupa vote and comment guys^_^
#see_you

KAMU SEDANG MEMBACA
FOLLOW MY WORDS
Humor[ROMANCE IN HUMOR] Debita~ " Gue suka dia dan gue rela di bully terus²an karna dianggep cewek ganjen yang cuman mau jadi babu biar deket sama dia " Fadil~ " Cewek? Haha bagi gue mereka itu gak ada bedanya dengan pembokat " Cerita pertama, moga kalia...