Something unforgettable

8 3 0
                                        

Cuaca sore ini cerah, langit berawan dan matahari tidak begitu terik. Suasana komplek juga tidak terlalu ramai, pun sepi. Tapi hampir semua yang datang sore itu berasal dari berbagai kalangan. Ada rombongan anak SMP yang jogging sambil berfoto, ada beberapa keluarga sedang piknik di bawah pohon rindang, bahkan ada juga sepasang remaja SMA yang berjalan santai sesekali berbincang – bincang.

Diantara semua kalangan itu, Yuri turmasuk kelompok yang ketiga. Ia dan Dylan sedang berjalan santai di area komplek sore itu, menghabiskan waktu dengan jogging sehat. Tapi aktivitas jogging telah berlalu sejak satu jam yang lalu, yang tersisa kini hanyalah rasa lelah Yuri yang tidak sanggup bila harus berlari lagi. Mau tidak mau Dylan mengikuti keinginan Yuri. Ia tidak tega melihat wajah Yuri yang memerah karena letih. Beberapa kali Dylan menawarkan diri untuk menggendongnya, tapi Yuri menolak. Bukannya Yuri tidak tahu kalau Dylan juga merasa lelah sehabis berlari, masa masih pengen gendong gue?

"Duduk dulu, yuk."

Yuri menghempaskan pantatnya di sebuah kursi tepi trotoar, keringatnya bercucuran. Ia melihat Dylan yang lelah tapi masih sanggup berjalan dan memiliki tenaga lebih dibanding dirinya. Yuri memperhatikan Dylan dari atas hingga bawah, kemudian tersenyum.

"Kenapa?" Tanya Dylan memergoki aksi Yuri. Sontak Yuri kaget dan buang muka, lalu menggeleng.

"Senang ya?" Tanya Dylan lagi. Yuri mengangguk dan kembali tersenyum.

"Aku juga senang, bisa kesini bareng kamu." Jelas Dylan mencubit pelan pipi Yuri.

"Apaan sih cubit – cubit."

Dylan tertawa, mengacak gemas rambut Yuri. Yuri ingin membalas, tapi postur Dylan begitu tinggi sehingga sulit bagi Yuri untuk menjangkaunya. Beberapa waktu terjadi hening.

"Dylan.." Yuri kembali bersuara. "Habis ini, mau lanjut kemana?"

Dylan tampak berpikir, "Pulang. emangnya kamu mau mampir ke suatu tempat?"

Yuri menatapnya lekat, "Engga, bukan itu maksud aku. Tamat dari SMA, kamu mau kemana?"

Yuri membetulkan kalimatnya. Dylan tersenyum simpul.

"Mungkin balik ke Jakarta."

Yuri mendadak lesu. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya nanti bila ia dan Dylan harus terpisah jarak. Seumur – umur ia belum pernah ldr-an, pacaran saja baru ini yang pertama.

"Memangnya kenapa?" Tanya Dylan melihat ekspresi Yuri yang tampak muram.

Yuri memaksa tersenyum, "Engga apa – apa, memangnya Dylan mau jadi apa?"

Dylan kembali berpikir, "Mau jadi pengusaha," jawabnya mantap.

"Loh, kenapa? Kenapa gak jadi dokter aja? atau pilot? Atau mungkin tentara? Kamu kan pintar, kuat lagi."

Yuri bertanya tanpa jeda, membuat Dylan tertawa melihat tingkahnya. "Aku pengen, bukan aku yang cari pekerjaan, tapi aku yang buka lapangan pekerjaan dan dicari – cari sama orang yang membutuhkan pekerjaan." Jelas Dylan kalem. Yuri bengong, takjub dengan apa yang didengarnya sedetik tadi.

"Kamu dewasa banget. Bisa mikir sejauh itu." sedikit banyak, Yuri merasa bangga memiliki pacar seperti Dylan.

"Loh, memangnya, Sayang-nya Dylan ini mau jadi apa?"

Dylan bertanya sembari merayu Yuri yang mulai tersipu malu. "Mm.. aku pengen jadi dokter."

"Bagus itu. Kan bisa buka lapangan pekerjaan juga. Selain itu, jasanya juga besar, dapat banyak pahala lagi."

Yuri mengangguk setuju, kemudian tersenyum lebar.

Dylan menarik hidung Yuri, kemudian bangkit dari duduknya.

Absolutely YouWhere stories live. Discover now