Gedung AAC Dayan Dawod penuh sesak. Para peserta lomba cerdas cermat Peradaban Islam telah hadir semua. Ada sekitar 10 kelompok yang ikut andil dalam lomba tersebut. Para pendukung masing-masing sekolah yang terdiri siswa dan guru telah memadati ruangan, beberapa mahasiswa juga kelihatan tak mau ketinggalan.
Turut hadir pula wali kota Banda Aceh, beliau baru saja memberikan kata sambutannya untuk acara tersebut. Ternyata ini bukan lomba cerdas cermat biasa, ini lebih hebat dari pada cerdas cermat sebelumnya. Reputasi sekolah benar-benar dipertaruhkan di sini. Celakanya, yang berdiri di sini hari ini, malah kami, yang belum pernah ikut lomba cerdas cermat sama sekali sebelumnya. Kadang aku menyesal kenapa menerima amanah ini dari Ayu, seharusnya mereka lah yang lebih layak di sini. Mereka lebih berpengalaman. Jujur saja, aku sedikit gugup berdiri panggung ini. Kulihat Nurul yang berdiri di tengah kami, raut wajah cerianya masih tidak pudar. Wajahnya menatap gagah ke arah penonton. Tidak salah pilihanku memempatkan dia sebagai ketua kelompok, ternyata mentalnya cukup bisa diandalkan. Di sebelah kanan Nurul, ada Andi, kelihatan anak itu juga cukup santai, dari tadi matanya hanya tertuju ke lantai seperti seorang ahli ibadah yang lagi khusuk berdiri shalat dengan mata ke tempat sujud. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang. Apapun itu, harapan kami hanya pada Andi. Aku hanya sedikit menguasai masalah ini jika dibandingkan dia. Dia telah jauh melesat dalam masalah ini, tidak terkejar lagi oleh diriku yang terlalu banyak terpedaya oleh sepak bola.
Sebelum lomba di mulai panitia memberitahukan tatacara dan peraturan lomba.
"Dalam lomba ini kita hanya menerapkan sistem rebutan untuk semua soal yang berjumlah 50 soal. Jadi kalian harus benar-benar jeli dan cepat. Dan satu lagi, jika jawaban kalian salah, maka akan dikurangi nilai. Kalian diharapkan menjawab jika sudah yakin dengan jawabannya, jangan hanya menebak..."
Lomba segera di mulai.
Lelaki muda dengan jenggot tipis yang menawan itu segera mendekati mikrophone dengan secarik kertas di tangannya, seperti khatib jum'at yang akan segera memulai khutbah pertama. Suasana jading hening, semua telinga fokus, apa yang akan muncul dari mulut lelaki tampan itu.
"Pertanyaan pertama..." ucapnya pelan...
"Siapakah mereka yang termasuk dalam khulafaur rasyidin?"
"Teeet... teeet..." Kelompok B begitu cepat. Siswa yang berdiri di tengah itu kemudian menjawab dengan begitu mudah. Sebenarnya itu pertanyaan yang gampang, ini hanya masalah kecepatan. Nurul mendengus kesal.
Sampai pertanyaan ke sepuluh, nilai kami masih nol. Bukan kami tidak bisa jawab, tapi lagi-lagi masalah kecepatan. Sampai saat ini, sebetulnya pertanyaannya masih terbilang mudah. Untuk sementara MAN model dari grup B masih memimpin di depan dengan nilai 600. Di bawah panggung kulihat bapak kepala sekolah yang juga ikut hadir dengan beberapa guru nampak lesu, wajah-wajah mereka seperti malu. Mereka tidak berekspresi sedikitpun, sementara pendukung sekolah yang lain tiada henti menyemangati kelompok mereka.
Rentetan pertanyaan terus berlanjut, hingga sekarang tinggal 30 soal lagi. Untuk sementara nilai kami sudah naik menjadi 700, tapi kami masih tertinggal jauh dari angka Grup B, nilai mereka sudah mencapai 1200. Pendukung kami sudah mulai bersemangat memberi dukungan dengan suara tepuk tangan mereka. Ayu berkali-kali mengacungkan dua jempolnya ke arahku. Tapi kepala sekolah masih saja diam, da masih nampak cemas, beberapa kali matanya tertuju ke arah Andi, yang sampai sekarang belum menjawab satu pun. Hanya aku dan Nurul yang terus berjuang hingga kami bertahan dengan nilai yang lumayan. Dari awal kepala sekolah sudah menyampaikan keberatannya pada Nurul dengan kemampuan kami. Terlebih setelah nama Andi, yang telah diberi julukan oleh bapak kepala sekolah sendiri dengan julukan sang berandal kecil, ikut serta dalam kelompok kami. Waktu itu Nurul hanya berkata pada kepala sekolah bahwa ini wilayah kekuasaan mereka, anak-anak IPS, mereka lebih tau tentang sejarah dan peradaban Islam. Biarkan mereka saja yang tampil kali ini. Demikian Nurul berusaha meyakinkan kepala sekolah.
KAMU SEDANG MEMBACA
The True (Sudah Terbit)
De TodoKawan, izinkanlah kupinjam penglihatan kalian sejenak untuk membaca novel sederhana ini... Ini tentang cita-cita besar seorang remaja.... Tentang cinta rumit nan unik... Tentang kerja keras dan tekad baja.... Tentang kisah para pendekar ilmu.... Ten...
