Haruskah Ku Percaya

165 12 0
                                        

Haruskah Ku Percaya

Udara pagi dengan kesejukannya memang berbeda bila dibandingkan dengan daerah kota. Kabut pagi yang tampak, langit biru tanpa hamparan awan yang membentang. Semua tampak indah dengan hijaunnya pepohonan di tepi-tepi jalan.

Sivia memejamkan matanya. Menghirup sedalam-dalamnya udara pagi. Seakan udara itu akan segera habis jika ia tidak menghirupnya dalam-dalam.

Kemudian Sivia menghela napas pelan. Menikmati udara yang masuk dari hidungnya kemudian keluar perlahan ia embuskan. Semua tampak tenang. Indah sebuah kedamaian yang hakiki untuk Sivia.

"Sarapan, Nduk," seru salah seorang wanita lansia dengan tongkat menjadi penopang tubuhnya.

"Sebentar lagi, Mbah," jawab Sivia.

Ia masih menikmati angin pagi yang perlahan menyentuh kulitnya. Mengibarkan anak-anak rambutnya. Setelah cukup puas, Sivia masuk ke dalam rumah menyusul si Mbah yang tersenyum ke arahnya.

Ia tersenyum senang melihat aneka makanan khas desa yang tersaji di hadapannya. Ada Lepet, makanan yang terbuat dari jagung yang di kukus dan dibungkus kulit jagung. Ada pula nasi yang dicampur kelapa parut, sambal teri dan terong. Makanan-makanann itu mengguncang perut Sivia untuk segera melahapnya.

"Mangan sing akeh, Nduk," ucap si Mbah yang duduk di hadapan Sivia.

Ini adalah hari di mana Sivia pergi dari rumah tanpa izin. Hari di mana Sivia akan bebas dengan segala aturan-aturan yang dibuat sang mama. Ia bisa melakukan apa yang dia mau. Apa pun. Di sini, di rumah si Mbah. Seorang nenek yang dikenalnya beberapa tahun lalu. Yang ia anggap seperti nenek sendiri. Karena selama ini Sivia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang nenek.

"Mbah, sekarang sendiri?" tanya Sivia di sela makannya

Si Mbah mengangguk. Guratan-guratan usianya terlihat jelas di wajahnya. Namun, si Mbah masih terlihat bugar. Meski ia sudah memakai tongkat untuk membantu berjalan. Itupun Gara-gara terjatuh saat menjemur pakaian yang membuat kaki tuanya bermasalah.

"Terkadang Mbah ditemani cucu si Mbah. Dia seusia kamu. Sekolahnya di kota. Ia beberapa kali mengunjungi si Mbah," cerita si Mbah.

"Cucu kandung Mbah?"

Si Mbah menggeleng. Memang, si Mbah tidak memiliki anak dari pernikahannya. Si Mbah sering menganggap orang-orang seperti Sivia anaknya hingga cucunya sendiri. Jadi Sivia ini juga cucunya loh.

"Mungkin hari ini ia akan berkunjung, setiap senin," ujar si Mbah.

Sivia mengangguk-ngangguk menyantap makanannya dengan lahap.

"Dia mirip kamu, Nduk. Doyan makan. Kalau Mbah lagi masak dia suka bantuin juga langsung dihabisin di tempat haha " Si Mbah tertawa menunjukkan giginya yang sudah mulai ompong. Sivia tersenyum melihatnya.

"Waktu pertama kali ketemu si Mbah, dia lagi ada masalah sama teman katanya. Terus dia jalan dari kota hingga ke desa ini hanya ingin lihat sawah. Ketemu si Mbah di sawah terus dia bantuin dan bicara banyak. Padahal kami baru bertemu sekali itu. Akhirnya si Mbah ajak ke rumah karena sudah bantu si Mbah," cerita si Mbah tentang cucu barunya itu.

"Waah si Mbah cucunya baru lagi, pasti Sivia nanti dilupai,n" ucap Sivia dengan nada sedih.

Si Mbah tertawa "Masa iya si Mbah ngelupain kamu, Nduk. Cah ayu, cucu si Mbah yang Mbah paling nanti-nanti kedatangannya tapi tidak datang-datang,"

Mendengar ucapan si Mbah, Sivia nyengir merasa bersalah. Ia terlalu sibuk dengan awal masuk SMA apalagi jadwal-jadwal yang diatur Mamanya. Dulu ia masih bisa singgah karena tempat lesnya tak jauh dari desa tempat si Mbah tinggal. Tapi sekarang, tidak lagi. Kalau bukan karena kabur Sivia juga tidak akan bisa menemui si Mbah.

Pemeran UtamaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang